Malang-Maraknya barang tiruan di pasar digital ternyata tidak selalu membuat konsumen meninggalkan produk asli. Penelitian terbaru dari STIE Malangkuçeçwara menunjukkan bahwa keaslian merek dan kualitas produk masih menjadi faktor utama yang mendorong konsumen Indonesia membeli produk original meski harganya lebih mahal.
Riset ini dilakukan oleh Rina Rahmawati dan Sherly Hesti Erawati, dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Sustainable Applied Sciences volume 4 nomor 5 tahun 2026. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana konsumen menghadapi dilema antara membeli barang asli atau versi imitasi yang jauh lebih murah di tengah pasar yang dipenuhi produk palsu.
Dalam beberapa tahun terakhir, perdagangan barang tiruan berkembang pesat, terutama melalui marketplace digital. Produk fashion palsu kini semakin sulit dibedakan dari produk asli karena kualitas visualnya yang terus meningkat. Kondisi ini membuat konsumen tidak lagi otomatis memilih produk original, melainkan harus mempertimbangkan apakah harga yang lebih mahal benar-benar sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Menurut Rina Rahmawati dan Sherly Hesti Erawati, konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan fungsi produk, tetapi juga rasa aman, kepercayaan terhadap merek, dan nilai jangka panjang yang diberikan produk asli. Penelitian mereka mencoba menjawab pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat konsumen tetap membeli produk original ketika barang tiruan tersedia dengan harga jauh lebih murah?
Penelitian dilakukan terhadap 412 konsumen fashion di Indonesia yang pernah membeli atau mempertimbangkan membeli produk fashion dalam enam bulan terakhir. Seluruh responden juga mengaku mengetahui keberadaan barang imitasi dari produk yang mereka minati. Survei dilakukan pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026 melalui media sosial dan forum komunitas kampus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaslian merek atau brand authenticity memiliki pengaruh besar terhadap keputusan membeli produk asli. Konsumen cenderung lebih percaya pada merek yang dianggap memiliki identitas jelas, transparan, konsisten, dan memiliki reputasi yang kuat. Keaslian merek dipandang sebagai simbol kepercayaan yang sulit ditiru oleh produk palsu.
Selain itu, persepsi kualitas produk juga terbukti sangat memengaruhi keputusan pembelian. Konsumen lebih bersedia membayar mahal ketika mereka yakin produk original memiliki daya tahan lebih baik, performa lebih konsisten, dan layanan purna jual yang lebih terpercaya dibandingkan produk tiruan.
Penelitian ini menemukan bahwa dua faktor tersebut bekerja melalui pembentukan “perceived value” atau nilai yang dirasakan konsumen. Dengan kata lain, konsumen akan membeli produk asli ketika mereka merasa manfaat yang diterima lebih besar daripada pengorbanan biaya yang dikeluarkan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Keaslian merek berpengaruh langsung terhadap keputusan membeli produk asli.
- Persepsi kualitas meningkatkan minat membeli produk original.
- Nilai yang dirasakan konsumen menjadi jembatan utama antara persepsi produk dan keputusan pembelian.
- Konsumen yang cenderung menghindari risiko lebih memperhatikan kualitas produk dibanding simbol keaslian merek.
- Faktor kualitas menjadi sangat penting bagi konsumen yang takut mengalami kerugian akibat membeli produk yang salah.
Penelitian juga menemukan fakta menarik mengenai perilaku konsumen yang memiliki sifat risk-averse atau cenderung menghindari risiko. Kelompok ini ternyata lebih sensitif terhadap kualitas produk dibanding sekadar citra merek. Mereka lebih fokus pada aspek nyata seperti ketahanan produk, garansi, dan keamanan penggunaan.
Sebaliknya, keaslian merek tetap dianggap penting oleh hampir semua kelompok konsumen, baik yang berani mengambil risiko maupun yang lebih berhati-hati. Artinya, brand authenticity berfungsi sebagai sinyal kepercayaan universal yang mampu meyakinkan konsumen di tengah maraknya produk tiruan.
Dalam analisis statistiknya, penelitian ini menunjukkan bahwa model yang digunakan mampu menjelaskan sekitar 48,7 persen perilaku pembelian produk asli. Angka tersebut dinilai cukup kuat untuk menggambarkan bagaimana konsumen Indonesia mengambil keputusan di pasar yang dipenuhi barang imitasi.
Rina Rahmawati menjelaskan bahwa perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan logo atau popularitas merek untuk mempertahankan konsumen. Menurutnya, perusahaan perlu membangun komunikasi yang menonjolkan transparansi, kualitas nyata, serta manfaat jangka panjang dari produk original.
Penelitian ini juga memberikan rekomendasi strategis bagi pelaku bisnis fashion dan pemilik merek. Brand disarankan memperkuat storytelling mengenai sejarah dan identitas merek, menunjukkan sertifikasi resmi, serta memperjelas jaminan kualitas produk. Strategi ini dianggap efektif untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk asli.
Bagi konsumen yang sensitif terhadap risiko, perusahaan juga disarankan menampilkan informasi yang lebih konkret seperti hasil uji ketahanan produk, garansi resmi, dan estimasi biaya penggunaan jangka panjang. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar promosi emosional.
Selain berdampak pada strategi pemasaran, penelitian ini juga relevan bagi pembuat kebijakan publik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi konsumen mengenai kualitas dan keamanan produk original dapat membantu mengurangi peredaran barang palsu di pasar digital Indonesia.
Meski demikian, penulis mengakui penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Studi hanya berfokus pada produk fashion sehingga hasilnya belum tentu sama pada sektor lain seperti elektronik atau farmasi yang memiliki tingkat risiko berbeda. Penelitian berikutnya disarankan mengkaji perilaku konsumen pada kategori produk lain dan menggunakan data transaksi nyata untuk memperoleh hasil yang lebih akurat.
Profil Penulis
Rina Rahmawati merupakan akademisi di bidang perilaku konsumen, pemasaran, dan strategi merek. Fokus penelitiannya mencakup perilaku pembelian, autentisitas merek, dan pasar digital.
Sherly Hesti Erawati meneliti bidang pemasaran, perilaku konsumen, dan pengambilan keputusan dalam ekonomi digital, khususnya terkait pasar produk imitasi dan nilai konsumen.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Authenticity, Quality, and the Risk-Averse Consumer: How Perceived Value Drives Genuine Purchases in Counterfeit Markets
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS) Vol. 4 No. 5 (2026)
Penulis: Rina Rahmawati & Sherly Hesti Erawati
Afiliasi: STIE Malangkuçeçwara
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i5.430
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas
0 Komentar