Intervensi Berbasis Komunitas Terbukti Kurangi Stigma Keluarga Pengidap Skizofrenia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jambi - Stigma terhadap keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), khususnya skizofrenia, masih menjadi persoalan serius di masyarakat Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan Anipah dan Asmeriyani dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garuda Putih Jambi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu menurunkan stigma sosial sekaligus meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap keluarga pengidap skizofrenia.

Riset yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Healthcare Analytics tahun 2026 itu dilakukan di Kota Jambi dengan melibatkan 40 warga yang tinggal di wilayah kerja puskesmas dengan kasus ODGJ. Penelitian ini menjadi penting karena stigma sosial tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada keluarga yang selama ini menjadi pendamping utama dalam proses perawatan dan pemulihan.

Di banyak lingkungan masyarakat, keluarga pengidap skizofrenia masih sering menerima perlakuan diskriminatif. Mereka kerap dijauhi tetangga, menjadi bahan pembicaraan negatif, hingga kurang dilibatkan dalam aktivitas sosial. Kondisi tersebut dapat memperburuk kesehatan mental keluarga dan menghambat proses pemulihan pasien.

Anipah menjelaskan bahwa rendahnya literasi kesehatan mental menjadi salah satu penyebab utama munculnya stigma. Banyak masyarakat masih menganggap gangguan mental sebagai aib keluarga atau akibat kelemahan pribadi, bukan sebagai kondisi medis yang dapat ditangani secara profesional.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti menerapkan intervensi berbasis komunitas selama satu bulan. Program ini mencakup edukasi kesehatan mental, konseling mengenai skizofrenia, serta diskusi kelompok bersama warga setempat. Seluruh kegiatan dipandu tenaga kesehatan dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Metode penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan model pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol. Peneliti mengukur perubahan sikap masyarakat sebelum dan sesudah intervensi melalui kuesioner yang menilai tingkat stigma, penerimaan sosial, dan pemahaman kesehatan mental.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Sebelum intervensi dilakukan, skor rata-rata stigma masyarakat terhadap keluarga pengidap skizofrenia berada pada angka 71,35. Setelah program edukasi dan diskusi komunitas berlangsung, skor tersebut turun menjadi 54,10.

Penurunan sebesar 17,25 poin itu menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas efektif mengurangi pandangan negatif masyarakat terhadap keluarga ODGJ. Warga yang sebelumnya cenderung menjaga jarak sosial mulai menunjukkan sikap lebih terbuka dan suportif.

Penelitian juga menemukan peningkatan literasi kesehatan mental masyarakat. Skor pemahaman warga mengenai skizofrenia naik dari 58,45 menjadi 78,20 setelah intervensi berlangsung. Masyarakat menjadi lebih memahami bahwa skizofrenia merupakan gangguan kesehatan yang membutuhkan dukungan dan pengobatan, bukan kutukan ataupun kegagalan keluarga.

Selain peningkatan pengetahuan, terjadi perubahan sikap sosial yang cukup kuat. Skor sikap positif terhadap keluarga pengidap skizofrenia meningkat dari 26,10 menjadi 34,25. Sementara skor penerimaan sosial naik dari 24,35 menjadi 33,40.

Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi tidak hanya memengaruhi aspek pengetahuan, tetapi juga mendorong empati dan perubahan perilaku sosial masyarakat. Diskusi kelompok yang melibatkan warga secara langsung dinilai efektif menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka mengenai kesehatan mental.

Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya peran perawat kesehatan jiwa komunitas dalam mengurangi stigma. Program edukasi yang dipimpin tenaga kesehatan mendapat penilaian sangat positif dari responden. Mayoritas peserta menilai materi edukasi mudah dipahami, relevan dengan kondisi masyarakat, dan efektif membantu mengurangi stigma.

Menurut Anipah dan Asmeriyani, pendekatan komunitas menjadi strategi penting dalam promosi kesehatan mental karena stigma merupakan masalah sosial yang terbentuk melalui lingkungan dan budaya masyarakat. Oleh karena itu, perubahan tidak cukup dilakukan pada individu saja, tetapi perlu melibatkan komunitas secara aktif.

Penelitian ini memperkuat berbagai studi internasional sebelumnya yang menyebut bahwa edukasi kesehatan mental dan keterlibatan masyarakat dapat meningkatkan penerimaan sosial terhadap ODGJ dan keluarganya. Dengan semakin baiknya pemahaman masyarakat, keluarga pengidap skizofrenia diharapkan memperoleh dukungan sosial yang lebih kuat untuk mendampingi proses pemulihan anggota keluarganya.

Meski demikian, peneliti mengakui studi ini masih memiliki keterbatasan. Jumlah responden relatif kecil dan penelitian hanya dilakukan di satu wilayah di Kota Jambi. Karena itu, penelitian lanjutan dengan cakupan wilayah lebih luas dan jumlah partisipan lebih besar masih diperlukan untuk memperkuat hasil temuan.

Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, puskesmas, dan organisasi masyarakat dalam merancang program promosi kesehatan mental berbasis komunitas. Edukasi yang melibatkan warga secara langsung dinilai lebih efektif membangun lingkungan sosial yang inklusif dan bebas diskriminasi.

Anipah menilai bahwa dukungan masyarakat sangat penting bagi keluarga pengidap skizofrenia. Ketika stigma berkurang, keluarga akan lebih percaya diri mencari bantuan medis dan lebih terbuka dalam mendampingi proses pengobatan anggota keluarganya.

Program seperti ini juga berpotensi mengurangi praktik pengucilan sosial terhadap ODGJ yang masih ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran publik, masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem dukungan yang membantu pemulihan pasien gangguan mental.

Profil Penulis

Anipah merupakan peneliti dan akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garuda Putih Jambi yang memiliki fokus kajian pada keperawatan kesehatan jiwa komunitas dan promosi kesehatan mental.

Asmeriyani adalah akademisi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garuda Putih Jambi dengan bidang keahlian kesehatan masyarakat dan intervensi keperawatan komunitas.

Sumber Penelitian

Judul: Community-Based Interventions to Reduce Stigma Toward Families of People with Schizophrenia
Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics, Vol. 5 No. 1, 2026
Penulis: Anipah dan Asmeriyani

Posting Komentar

0 Komentar