Guru BK TK Lalong Dinilai Efektif Tangani Bullying Verbal pada Anak Usia Dini


Bullying verbal di pendidikan anak usia dini terbukti dapat ditekan melalui peran aktif guru bimbingan dan konseling (BK). Temuan ini dipaparkan oleh Mawaddah, Fajri Yahudala, Nurhama Tadeko, Nurjawia S. Latuli, dan Sahida Abd Syakur dari Universitas Muhammadiyah Luwuk dalam artikel ilmiah yang terbit di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS) tahun 2026. Studi yang dilakukan di TK Negeri Lalong, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan ini penting karena menunjukkan bahwa pencegahan bullying perlu dimulai sejak usia dini, sebelum berkembang menjadi pola perilaku agresif yang menetap.

Fenomena bullying pada anak usia dini kerap dianggap sebagai “sekadar bercanda”. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa ejekan sederhana yang berulang justru berdampak serius pada kondisi psikologis anak. Di TK Lalong, beberapa murid kelas B ditemukan sering mengejek teman yang terlambat menyelesaikan tugas atau melakukan kesalahan kecil. Ejekan itu kemudian memancing teman lain ikut menertawakan korban hingga berujung tangisan di kelas. Dalam beberapa kasus, korban menjadi enggan masuk sekolah, kehilangan rasa percaya diri, dan menarik diri dari interaksi sosial.

Mawaddah dan tim menyoroti bahwa kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena berpotensi berkembang dari bullying verbal menjadi kekerasan fisik atau bahkan cyberbullying di masa depan. Karena itu, kehadiran guru BK atau guru kelas yang menjalankan fungsi konseling menjadi kunci untuk memutus rantai perilaku tersebut sejak awal.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi selama sekitar satu bulan, yakni 23 Januari hingga 25 Februari 2026. Subjek penelitian meliputi guru kelas B yang sekaligus berperan sebagai guru BK, anak yang melakukan bullying, korban, serta siswa lain yang menyaksikan kejadian. Dengan pendekatan ini, peneliti dapat memetakan dinamika interaksi sosial anak secara langsung di lingkungan sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru telah menjalankan fungsi BK secara komprehensif. Peran yang dilakukan tidak hanya sebatas menegur pelaku, tetapi juga meliputi:
-deteksi dini kasus bullying melalui laporan siswa dan observasi langsung
-perlindungan terhadap korban dengan menjaga rasa aman dan kerahasiaan
-konseling individual kepada korban untuk memulihkan kepercayaan diri
-konseling individual kepada pelaku untuk menggali penyebab perilaku
-pelibatan orang tua dalam pemantauan dan pembinaan
-penguatan layanan kelas bertema anti-bullying
-evaluasi berkala terhadap perubahan perilaku siswa

Dalam salah satu temuan penting, guru menemukan bahwa perilaku mengejek pada sebagian anak berkaitan dengan kurangnya perhatian dari keluarga dan lingkungan sekitar. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bersifat menghukum semata, tetapi lebih menekankan empati, pembiasaan emosi positif, dan pendampingan berkelanjutan.

Mawaddah dari Universitas Muhammadiyah Luwuk menegaskan bahwa guru BK di TK Lalong telah berperan sebagai konselor, fasilitator, mediator, motivator, agen pencegahan, sekaligus kolaborator dengan orang tua dan kepala sekolah. Pendekatan holistik ini terbukti mulai menunjukkan perubahan positif: korban perlahan kembali berani berinteraksi, sementara pelaku mulai mengurangi kebiasaan mengejek teman.

Dampak penelitian ini sangat relevan bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan anak usia dini. Temuan tersebut menegaskan bahwa sekolah tidak cukup hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga harus membangun sistem perlindungan sosial-emosional anak. Program anti-bullying yang dimulai dari kelas, pengawasan saat jam istirahat, hingga komunikasi aktif dengan orang tua dapat menjadi model yang diterapkan di banyak TK dan PAUD lainnya.

Secara lebih luas, hasil riset ini juga memberi pesan penting bagi pembuat kebijakan pendidikan. Pelatihan keterampilan konseling dasar bagi guru PAUD perlu diperkuat agar mereka mampu mendeteksi gejala bullying sejak tahap paling ringan. Langkah ini berpotensi mengurangi dampak jangka panjang seperti kecemasan, rendah diri, hingga gangguan adaptasi sosial pada anak.

Bagi orang tua, penelitian ini menjadi pengingat bahwa perhatian emosional di rumah berpengaruh besar terhadap perilaku anak di sekolah. Anak yang merasa kurang didengar atau kurang mendapatkan kasih sayang lebih rentan mengekspresikan frustrasi melalui perilaku agresif terhadap teman sebaya.

Profil Penulis
Mawaddah merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Luwuk yang berfokus pada bidang pendidikan anak usia dini, bimbingan konseling, dan perkembangan sosial-emosional anak. Dalam penelitian ini, ia bekerja sama dengan Fajri Yahudala, Nurhama Tadeko, Nurjawia S. Latuli, dan Sahida Abd Syakur, yang sama-sama berasal dari universitas tersebut. Kolaborasi tim ini memperkuat kajian tentang pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif bagi anak usia dini.

Sumber Penelitian

Mawaddah, F. Yahudala, N. Tadeko, N. S. Latuli, & S. A. Syakur. (2026). The Role of Guidance and Counseling Teachers in Overcoming Bullying in Lalong Kindergarten. International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), 4(3), 259–266. 
DOI: 10.59890/ijatss.v4i3.184.


Posting Komentar

0 Komentar