Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 dalam jurnal Asian Journal of Healthcare Analytics ini menyoroti bahwa rumah sakit merupakan institusi dengan konsumsi sumber daya sangat besar. Operasional yang berjalan 24 jam membutuhkan listrik, air, pendingin ruangan, teknologi medis, hingga pengelolaan limbah yang kompleks. Kondisi tersebut membuat rumah sakit memiliki jejak lingkungan yang tinggi.
Menurut para penulis, paradoks muncul ketika rumah sakit yang bertugas menjaga kesehatan justru menghasilkan emisi, limbah, dan konsumsi energi yang berpotensi memperburuk kesehatan lingkungan. Karena itu, konsep green hospital tidak lagi dianggap sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis dan etis dalam sistem kesehatan modern.
Kajian literatur ini menganalisis berbagai penelitian, dokumen kebijakan nasional, serta laporan World Health Organization atau WHO terkait implementasi rumah sakit hijau di Indonesia sepanjang 2021–2026. Sebanyak 11 artikel ilmiah dan 3 dokumen kebijakan dipilih untuk memetakan perkembangan, hambatan, dan peluang penerapan green hospital di Indonesia.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah menjadi aspek yang paling banyak diterapkan rumah sakit di Indonesia. Banyak fasilitas kesehatan memulai transformasi hijau melalui pemilahan limbah medis dan nonmedis, pengolahan air limbah, serta peningkatan sistem sanitasi.
Selain limbah, efisiensi energi dan konservasi air juga menjadi fokus utama karena manfaat ekonominya dapat langsung dirasakan. Pengurangan penggunaan listrik, pemakaian alat hemat energi, perbaikan kebocoran air, dan pengawasan konsumsi utilitas dinilai mampu menekan biaya operasional rumah sakit.
Penelitian tersebut mencontohkan beberapa rumah sakit yang telah menunjukkan kemajuan signifikan. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tercatat memenuhi 84,9 persen indikator green hospital, terutama pada aspek tata bangunan, efisiensi air, pengelolaan makanan, dan kualitas udara. Namun, masih ditemukan kelemahan dalam pengukuran konsumsi energi secara rinci.
Sementara itu, RSUD Rokan Hulu dan RSUD Koja disebut masih menghadapi tantangan dalam teknologi pengolahan limbah cair, efisiensi air, serta integrasi sistem lingkungan ke dalam manajemen rumah sakit.
Kajian juga menemukan bahwa implementasi green hospital di Indonesia masih bersifat parsial. Banyak rumah sakit menjalankan program lingkungan hanya sebagai proyek tambahan, bukan bagian inti dari tata kelola organisasi. Akibatnya, keberlanjutan program sering bergantung pada kepemimpinan tertentu dan belum menjadi budaya institusi.
“Kepemimpinan menjadi fondasi utama implementasi green hospital,” tulis Ade Triansyah dan tim peneliti. Mereka menilai keberhasilan rumah sakit hijau tidak hanya ditentukan teknologi, tetapi juga kemampuan manajemen membangun budaya organisasi yang mendukung efisiensi sumber daya.
Penelitian ini menyoroti pentingnya perubahan perilaku tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit. Kebiasaan sederhana seperti mematikan alat yang tidak digunakan, menghemat air, memilah limbah, dan mengurangi penggunaan kertas dinilai sangat menentukan keberhasilan program jangka panjang.
Faktor organisasi juga berpengaruh besar. Pelatihan, dukungan manajemen, penghargaan internal, serta keterlibatan pegawai terbukti meningkatkan keberhasilan implementasi kebijakan hemat energi dan ramah lingkungan.
Di sisi lain, hambatan utama implementasi green hospital masih cukup besar. Peneliti mencatat sedikitnya lima masalah utama, yaitu keterbatasan anggaran investasi awal, lemahnya koordinasi antarunit, belum adanya rumah sakit model nasional, kurangnya sistem pemantauan terstandar, dan rendahnya budaya organisasi yang mendukung efisiensi sumber daya.
Banyak rumah sakit masih memandang program lingkungan sebagai biaya tambahan, bukan investasi jangka panjang. Padahal, menurut penelitian ini, rumah sakit hijau dapat memberikan manfaat ekonomi dan reputasi sekaligus.
Efisiensi energi dan air dapat menekan biaya operasional. Pengelolaan limbah yang baik mampu mengurangi risiko hukum dan pencemaran. Lingkungan rumah sakit yang lebih sehat juga meningkatkan kenyamanan pasien serta kualitas kerja tenaga medis.
Selain itu, citra rumah sakit ramah lingkungan dinilai dapat meningkatkan daya saing institusi kesehatan di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap isu perubahan iklim dan keberlanjutan.
Kajian tersebut juga menyoroti pentingnya kebijakan nasional yang lebih kuat. Peneliti menilai pemerintah perlu mengembangkan indikator nasional yang lebih operasional, rumah sakit percontohan, sistem benchmarking, serta insentif bagi fasilitas kesehatan yang berhasil menerapkan prinsip keberlanjutan.
Panduan dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2025 dan kerangka WHO 2024 disebut mulai mendorong transformasi menuju fasilitas kesehatan yang tahan iklim, rendah emisi, dan efisien sumber daya. Namun implementasi di lapangan masih sangat bergantung pada kapasitas masing-masing rumah sakit.
Menurut penelitian ini, masa depan green hospital di Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan rumah sakit mengubah konsep keberlanjutan dari sekadar program tambahan menjadi prinsip utama tata kelola organisasi.
Jika keberlanjutan berhasil diintegrasikan ke dalam perencanaan, operasional, pengadaan barang, hingga evaluasi kinerja, rumah sakit dinilai dapat menjadi institusi yang lebih efisien, tangguh, aman, dan bertanggung jawab secara sosial maupun ekologis.
Profil Penulis
Ade Triansyah merupakan akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palu yang meneliti bidang manajemen rumah sakit dan kesehatan lingkungan. Penelitian ini juga melibatkan Eka Widya Citra, Benny Tumbelaka, Andy Khalidah Lemba, Adisscka Beti Stevani, Irani Nur Ramadhani, dan Nurhafida.
Sumber Penelitian
Triansyah, A., Citra, E.W., Tumbelaka, B., Lemba, A.K., Stevani, A.B., Ramadhani, I.N., dan Nurhafida. “Green Hospital Implementation in Indonesia: A Literature Review.” Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA), Vol. 5 No. 1, 2026.
0 Komentar