Filosofi tradisional Bali Tri Hita Karana (THK) dinilai mampu menjadi model alternatif pembangunan ruang berkelanjutan di tengah krisis lingkungan global dan urbanisasi modern. Temuan itu diungkap dalam penelitian Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dari Universitas Udayana yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST). Studi ini menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Bali tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung sistem keberlanjutan ekologis, sosial, dan spiritual yang masih relevan untuk perencanaan kota modern.
Penelitian menyoroti meningkatnya persoalan lingkungan global akibat pembangunan modern, termasuk perubahan iklim, konsumsi energi tinggi, dan kerusakan ekosistem. Menurut peneliti, pendekatan arsitektur modern yang terlalu berorientasi pada teknologi dan efisiensi teknis sering kali mengabaikan dimensi budaya, sosial, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Sebagai alternatif, sistem pengetahuan lokal seperti arsitektur tradisional Bali dinilai menawarkan pendekatan yang lebih holistik. Dalam filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan hidup dibangun melalui hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tata ruang, orientasi bangunan, hingga sistem lingkungan masyarakat Bali.
Penelitian menjelaskan bahwa berbagai konsep arsitektur tradisional Bali secara inheren mendukung prinsip keberlanjutan modern. Salah satunya adalah konsep Tri Mandala, yaitu pembagian ruang berdasarkan tingkat kesakralan menjadi zona utama, tengah, dan luar. Selain itu terdapat konsep Sanga Mandala yang mengatur orientasi ruang berdasarkan arah kosmologis seperti gunung-laut dan matahari terbit-terbenam.
Peneliti menemukan bahwa tata ruang tradisional Bali secara alami mendukung strategi desain pasif yang ramah lingkungan, seperti:
- ventilasi silang alami,
- pencahayaan alami,
- pengaturan suhu tanpa pendingin mekanis,
- penggunaan material lokal seperti bambu dan kayu,
- serta sistem pengelolaan air berbasis Subak.
Sistem Subak disebut menjadi contoh penting integrasi antara lanskap pertanian, pengelolaan air, dan praktik spiritual masyarakat Bali. Sistem ini tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur irigasi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis dan memperkuat kohesi sosial masyarakat adat.
Penelitian juga menyoroti kuatnya fungsi sosial dalam tata ruang Bali. Kehadiran ruang komunal seperti bale banjar dan halaman bersama mendorong interaksi sosial, gotong royong, dan keberlanjutan budaya lokal. Menurut peneliti, pola ruang tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan sosial telah menjadi bagian integral dalam desain arsitektur tradisional Bali jauh sebelum konsep sustainable architecture berkembang secara global.
Selain aspek ekologis dan sosial, dimensi spiritual juga menjadi karakter utama arsitektur Bali. Penempatan pura dan ruang suci berdasarkan orientasi kosmologis dinilai membentuk etika lingkungan yang mendorong penghormatan terhadap alam dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.
Dalam penelitian ini, peneliti memperkenalkan konsep Contextual Harmonization Model, yaitu model desain yang menggabungkan kearifan lokal dengan prinsip keberlanjutan modern. Model tersebut menempatkan budaya lokal bukan sekadar ornamen estetika, tetapi sebagai dasar utama dalam perencanaan ruang berkelanjutan.
Namun penelitian juga mengkritik praktik arsitektur modern di Bali yang dinilai sering hanya meniru bentuk visual arsitektur tradisional tanpa memahami filosofi ruang di baliknya. Fenomena ini disebut menyebabkan “pengenceran budaya” karena unsur tradisional hanya dijadikan simbol estetika untuk kebutuhan pariwisata dan komersialisasi.
Menurut Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, prinsip THK seharusnya tidak hanya dipahami sebagai filosofi budaya, tetapi juga dijadikan kerangka operasional dalam perencanaan kota, regulasi bangunan, pendidikan arsitektur, hingga sistem sertifikasi bangunan hijau. Peneliti menilai integrasi pengetahuan lokal dan desain modern dapat menciptakan pembangunan yang lebih kontekstual, resilien, dan berkelanjutan.
Penelitian ini dinilai relevan bagi negara berkembang yang sedang menghadapi tekanan urbanisasi dan homogenisasi arsitektur global. Model pembangunan berbasis budaya lokal disebut dapat menjadi alternatif untuk menjaga identitas budaya sekaligus mengurangi dampak lingkungan pembangunan modern.
Profil Penulis
- Ngakan Ketut Acwin Dwijendra - Universitas Udayana, Bali.
Sumber Penelitian
Dwijendra, N.K.A. (2026). Reinterpreting Traditional Balinese Architecture Through Tri Hita Karana for Sustainable Spatial Development. International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), Vol. 4 No. 4, 222–235.

0 Komentar