Efisiensi Operasional Jadi Kunci Profit Bank Akuisisi di Indonesia

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Malang - Akuisisi bank tidak otomatis meningkatkan keuntungan. Temuan itu muncul dalam riset terbaru karya Heru Purwanto dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) yang meneliti bank-bank hasil akuisisi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021–2024. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan modal dan likuiditas belum cukup untuk mendongkrak profitabilitas jika tidak diikuti efisiensi operasional yang baik.

Riset tersebut menjadi penting di tengah gelombang konsolidasi industri perbankan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong merger dan akuisisi agar bank memiliki modal lebih kuat dan mampu bersaing secara global. Namun, di lapangan, banyak bank justru menghadapi tekanan biaya tinggi setelah akuisisi akibat integrasi sistem, restrukturisasi organisasi, hingga penyesuaian portofolio kredit.

Dalam penelitian ini, Heru Purwanto menganalisis hubungan antara struktur modal, likuiditas, efisiensi operasional, dan profitabilitas pada 14 bank yang mengalami akuisisi. Variabel yang digunakan meliputi Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai indikator struktur modal, Loan to Deposit Ratio (LDR) sebagai indikator likuiditas, BOPO sebagai ukuran efisiensi operasional, dan Return on Assets (ROA) sebagai indikator profitabilitas.

Data penelitian diambil dari laporan keuangan tahunan bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan dianalisis menggunakan pendekatan panel data serta path analysis. Metode ini digunakan untuk melihat hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel keuangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa CAR memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap BOPO. Artinya, semakin kuat modal bank, semakin efisien operasionalnya karena biaya dapat dikendalikan lebih baik. Temuan ini terlihat dari koefisien sebesar -0,0912 dengan tingkat signifikansi 0,0046.

Sebaliknya, LDR atau tingkat likuiditas tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap efisiensi operasional bank. Penelitian mencatat bahwa perbedaan strategi antarbank menjadi penyebab utama. Bank digital, misalnya, cenderung memiliki rasio LDR tinggi karena agresif menyalurkan kredit berbasis teknologi, sementara bank konvensional lebih stabil dalam menjaga efisiensi biaya.

Secara deskriptif, rata-rata CAR bank sampel mencapai 0,52, sementara rata-rata LDR berada di angka 1,14 atau melampaui rentang ideal OJK sebesar 78–92 persen. Ini menunjukkan adanya ekspansi kredit yang cukup agresif di sektor perbankan pasca-akuisisi. Sementara itu, rata-rata BOPO berada di angka 0,79 dan ROA sebesar 0,0357 yang menandakan profitabilitas masih tergolong moderat.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa CAR, LDR, dan BOPO tidak memiliki pengaruh signifikan secara langsung terhadap ROA. Dengan kata lain, modal besar dan likuiditas tinggi belum tentu menghasilkan laba yang lebih tinggi. Profitabilitas bank ternyata lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti kualitas aset, diversifikasi pendapatan, dan efisiensi biaya internal.

Meski demikian, arah hubungan antarvariabel tetap menunjukkan pola yang sesuai teori ekonomi perbankan. CAR cenderung meningkatkan ROA, sedangkan LDR dan BOPO cenderung menurunkan profitabilitas ketika tidak dikelola dengan baik. Namun hubungan tersebut belum cukup kuat secara statistik.

Heru Purwanto menjelaskan bahwa efisiensi operasional menjadi faktor paling penting dalam menentukan keberhasilan bank hasil akuisisi. Menurutnya, tambahan modal dari investor baru hanya akan efektif jika mampu diterjemahkan menjadi efisiensi biaya dan integrasi operasional yang lebih baik.

Penelitian ini juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi bank digital di Indonesia. Banyak bank digital memiliki modal kuat setelah akuisisi, tetapi harus mengeluarkan biaya besar untuk investasi teknologi, pengembangan aplikasi, dan ekspansi layanan digital. Kondisi ini membuat rasio BOPO meningkat sehingga menekan profitabilitas jangka pendek.

Bagi regulator, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dalam mengawasi bank hasil konsolidasi. OJK dinilai perlu memberi perhatian lebih pada efisiensi operasional, bukan hanya kecukupan modal. Penguatan modal memang penting untuk menjaga stabilitas, tetapi tanpa manajemen biaya yang efisien, profitabilitas bank tetap sulit meningkat.

Bagi investor, penelitian ini memberikan pesan bahwa rasio modal tinggi tidak selalu menjadi indikator keberhasilan akuisisi. Investor juga perlu memperhatikan tren efisiensi operasional bank, terutama kemampuan menekan biaya di tengah transformasi digital yang semakin agresif.

Dari sisi akademik, penelitian ini menawarkan perspektif baru karena menempatkan efisiensi operasional sebagai variabel mediasi antara struktur modal, likuiditas, dan profitabilitas. Pendekatan seperti ini masih jarang digunakan dalam studi perbankan Indonesia, khususnya pada konteks konsolidasi pasca-akuisisi.

Penelitian juga memiliki sejumlah keterbatasan. Sampel hanya mencakup bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan mengalami akuisisi selama 2021–2024. Variabel lain seperti risiko kredit, margin bunga bersih, dan kondisi makroekonomi belum dimasukkan dalam model penelitian. Karena itu, peneliti menyarankan studi lanjutan dengan cakupan bank yang lebih luas dan pendekatan kombinasi kuantitatif serta wawancara manajerial.

Profil Penulis

Heru Purwanto merupakan akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) yang memiliki fokus kajian pada manajemen keuangan, efisiensi perbankan, dan strategi konsolidasi sektor keuangan di Indonesia.

Sumber Penelitian

Artikel ilmiah ini berjudul “The Effect of Capital Structure and Liquidity on Company Efficiency and Profitability (Study on Banks that Experienced Acquisitions on the Indonesia Stock Exchange in 2021-2024)” yang dipublikasikan dalam jurnal Formosa Journal of Business and Economic Statistics (FJBES) Volume 2 Nomor 2 Tahun 2026.
URL: https://mtiformosapublisher.org/index.php/fjbes
DOI resmi penelitian: https://doi.org/10.55927/fjbes.v2i2.635

Posting Komentar

0 Komentar