Digitalisasi Keselamatan Kerja Tak Cukup Soal Efisiensi, Kesehatan Mental Pekerja Juga Jadi Taruhan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Baubau- Transformasi digital telah mengubah cara perusahaan menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Namun, penelitian terbaru yang ditulis oleh La Ode Muhammad Zainal Abidin dari Politeknik Baubau dan Suryo Ediyono dari Universitas Sebelas Maret Surakarta menunjukkan bahwa teknologi keselamatan kerja tidak hanya menghadirkan efisiensi, tetapi juga membawa tantangan baru terhadap kesehatan mental pekerja. Studi tersebut dipublikasikan pada 2026 dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) dan menyoroti pentingnya menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan kesejahteraan psikososial tenaga kerja.

Penelitian ini mengulas bagaimana sistem K3 modern kini semakin bergantung pada teknologi digital seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Virtual Reality (VR), serta berbagai platform komunikasi digital. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau kondisi kerja secara real-time, mendeteksi potensi bahaya lebih cepat, dan memberikan pelatihan keselamatan yang lebih interaktif.

Menurut La Ode Muhammad Zainal Abidin dan Suryo Ediyono, perkembangan ini menciptakan paradigma baru dalam manajemen keselamatan kerja yang berbasis data, prediktif, dan responsif terhadap risiko di tempat kerja. Namun di balik manfaat tersebut, digitalisasi juga menghadirkan persoalan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam lingkungan kerja modern, komunikasi keselamatan memegang peran penting karena berhubungan langsung dengan budaya keselamatan, kesadaran pekerja terhadap risiko, serta kecepatan penanganan potensi bahaya. Teknologi digital dinilai mampu memperkuat komunikasi tersebut melalui penyampaian informasi yang lebih cepat, luas, dan mudah diakses.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui systematic literature review. Tim peneliti menelaah berbagai publikasi akademik dari Google Scholar, Scopus, Web of Science, dan ProQuest yang terbit antara 2000 hingga 2026. Dari proses seleksi tersebut, sebanyak 15 sumber utama dianalisis untuk membangun pemahaman menyeluruh mengenai transformasi digital K3 dan dampaknya terhadap pekerja.

Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat tiga kelompok teknologi yang paling banyak mengubah sistem keselamatan kerja.

Pertama adalah IoT yang memungkinkan sensor digital memantau kualitas udara, suhu, tingkat kebisingan, hingga indikator kelelahan pekerja secara terus-menerus. Data tersebut dikirim secara langsung ke sistem pengelolaan K3 sehingga potensi bahaya dapat diidentifikasi lebih dini.

Kedua, penggunaan AI membantu perusahaan menganalisis data keselamatan dalam jumlah besar. Teknologi ini mampu mengenali pola risiko, memprediksi kemungkinan kecelakaan, serta merekomendasikan tindakan pencegahan secara proaktif.

Ketiga adalah teknologi VR dan Augmented Reality (AR) yang mengubah metode pelatihan keselamatan kerja. Melalui simulasi virtual, pekerja dapat menghadapi kondisi berbahaya dalam lingkungan yang aman sehingga kemampuan merespons situasi darurat meningkat tanpa harus menghadapi risiko nyata.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa digitalisasi K3 juga memunculkan risiko psikososial yang semakin kompleks. Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah munculnya fenomena technostress atau tekanan psikologis akibat penggunaan teknologi digital secara intensif.

Technostress hadir dalam beberapa bentuk. Pekerja dapat mengalami techno-overload, yakni kondisi ketika mereka merasa kewalahan menghadapi arus informasi digital yang terus mengalir. Ada pula techno-invasion, yaitu hilangnya batas antara waktu kerja dan waktu pribadi karena tuntutan untuk selalu terhubung secara digital. Selain itu, muncul techno-insecurity, berupa rasa khawatir kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi dan penggunaan AI.

La Ode Muhammad Zainal Abidin dan Suryo Ediyono menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang terlalu terdigitalisasi berpotensi meningkatkan stres, kecemasan, bahkan menurunkan rasa aman pekerja terhadap masa depan profesinya. Kondisi ini justru dapat mengurangi efektivitas sistem keselamatan kerja karena pekerja mengalami kelelahan mental dan penurunan konsentrasi.

Penelitian ini juga menyoroti persoalan pengawasan digital di tempat kerja. Sistem berbasis algoritma yang memonitor aktivitas pekerja secara terus-menerus memang dapat membantu pengawasan keselamatan, tetapi penggunaan yang berlebihan dan tidak transparan berpotensi merusak kepercayaan serta mengurangi otonomi pekerja.

Menurut para penulis, teknologi seharusnya tidak dipahami sebagai alat yang netral. Cara teknologi dirancang dan digunakan selalu berkaitan dengan nilai, kepentingan, serta relasi kekuasaan di dalam organisasi. Karena itu, digitalisasi K3 tidak boleh hanya mengejar efisiensi produksi, tetapi juga harus memperhatikan martabat manusia.

Suryo Ediyono dari Universitas Sebelas Maret turut memperkaya analisis ini melalui perspektif humanisme kerja dan filsafat teknologi. Dalam pandangan tersebut, teknologi idealnya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup pekerja, bukan alat kontrol yang memperbesar tekanan psikologis.

Penelitian ini merekomendasikan pendekatan socio-technical system yang menempatkan aspek teknis dan sosial sebagai satu kesatuan. Pekerja perlu dilibatkan dalam perancangan, penerapan, dan evaluasi sistem K3 digital agar teknologi yang digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Selain itu, organisasi disarankan mengembangkan kebijakan ergonomi digital, termasuk pengaturan batas konektivitas di luar jam kerja, transparansi penggunaan data pekerja, peningkatan literasi digital, serta dukungan terhadap kesehatan mental.

Bagi dunia industri dan pembuat kebijakan, temuan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan digitalisasi tidak cukup diukur dari kecepatan sistem atau penurunan angka kecelakaan semata. Kualitas kesejahteraan psikologis pekerja, rasa percaya terhadap organisasi, dan makna kerja yang dirasakan tenaga kerja juga harus menjadi indikator utama.

Profil Penulis
La Ode Muhammad Zainal Abidin merupakan akademisi dari Politeknik Baubau yang menaruh perhatian pada komunikasi digital, keselamatan dan kesehatan kerja, serta dinamika sosial teknologi di dunia kerja.
Suryo Ediyono adalah akademisi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan bidang keahlian filsafat, humanisme kerja, dan kajian sosial budaya di era digital.

Sumber Penelitian
Abidin, La Ode Muhammad Zainal & Ediyono, Suryo. 2026. The Dialectic of Digital Communication Transformation in Occupational Safety and Health (OSH): Between the Rationality of Technological Efficiency and Workers’ Psychosocial Well-Being. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 5, 703–714. DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i5.16506

Posting Komentar

0 Komentar