Penelitian dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) dan berfokus pada Gurih 7 Restaurant di Bogor, Jawa Barat. Restoran ini dipilih karena menjadi contoh ekstrem restoran Sunda berkapasitas besar yang menggunakan sistem saung tradisional di atas kolam ikan dan mampu menampung hingga 800 pengunjung, bahkan mencapai sekitar 1.500 orang saat akhir pekan.
Menurut Muhamad Sugeng Riyadi dan tim dari Universitas Kristen Indonesia, desain saung selama ini dipahami sebagai ruang yang mempererat interaksi sosial antaranggota keluarga atau kelompok makan. Namun, dari sudut pandang operasional, desain yang sama justru menciptakan hambatan komunikasi dan pergerakan bagi pekerja restoran.
Fenomena inilah yang oleh peneliti diberi nama SSAC.
Secara sederhana, SSAC menggambarkan paradoks ruang. Bagi pelanggan, saung menciptakan suasana intim, privat, tenang, dan nyaman. Sebaliknya, bagi staf pelayanan, saung menjadi penghalang visual dan sirkulasi yang membuat pekerjaan lebih berat.
Latar belakang penelitian ini berangkat dari perkembangan industri kuliner Indonesia yang semakin banyak menggunakan elemen arsitektur tradisional sebagai pembeda pengalaman makan. Restoran Sunda dengan konsep lesehan dan saung menjadi salah satu model yang populer karena menawarkan nuansa budaya sekaligus kenyamanan psikologis.
Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya hanya melihat kualitas ruang dari sudut pandang pelanggan. Padahal, restoran juga merupakan ruang kerja yang melibatkan interaksi intens antara pengunjung dan staf.
Untuk memahami persoalan tersebut, tim peneliti melakukan observasi langsung di Gurih 7 Restaurant menggunakan metode kualitatif. Pengamatan dilakukan pada jam sibuk akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu pukul 12.00–14.00 dalam empat sesi observasi.
Peneliti memetakan pergerakan pengunjung dan staf, mencatat pola aktivitas, serta mendokumentasikan kondisi arsitektur restoran. Pendekatan ini memungkinkan mereka melihat bagaimana desain ruang memengaruhi perilaku manusia tanpa mengubah kondisi alami di lapangan.
Hasil penelitian menemukan tiga zona konflik utama.
Zona pertama muncul di area tunggu. Peneliti menemukan bahwa posisi kursi tunggu berada dalam garis pandang langsung menuju saung yang sedang digunakan pengunjung lain. Secara fisik jaraknya memang cukup jauh, tetapi secara psikologis kondisi itu dianggap mengganggu privasi.
Akibatnya, banyak pengunjung yang menunggu justru menghindari kursi tunggu resmi dan memilih berdiri atau berkumpul di tepi kolam ikan. Perilaku spontan ini menunjukkan bahwa desain ruang tunggu tidak berhasil menciptakan batas privasi yang nyaman.
Zona konflik kedua terjadi antara area hiburan musik dan taman bermain anak.
Penelitian menunjukkan bahwa suara pertunjukan musik dan aktivitas bermain anak saling bertabrakan. Anak-anak membutuhkan ruang gerak bebas dan dinamis, sementara pertunjukan musik membutuhkan area dengan fokus suara yang stabil.
Benturan dua aktivitas tersebut menimbulkan kebisingan yang menyebar hingga ke saung. Dampaknya, pelanggan yang memilih saung untuk menikmati suasana tenang justru tetap terganggu oleh suara dari dalam area restoran sendiri.
Konflik ketiga dinilai sebagai persoalan paling serius, yaitu jalur pelayanan staf.
Tim peneliti menemukan bahwa staf harus menempuh rute panjang dan tidak beraturan dari dapur menuju saung. Bentuk lahan bertingkat dan susunan saung yang tertutup menyebabkan pekerja tidak dapat memantau pelanggan secara visual.
Di restoran terbuka biasa, pelayan dapat melihat meja yang membutuhkan bantuan hanya melalui kontak mata atau gelas kosong. Di Gurih 7, kondisi itu hampir mustahil terjadi karena saung menutup pandangan.
Sebagai solusi sementara, restoran memasang bel elektronik di setiap saung. Namun menurut penelitian ini, bel tersebut hanya menjadi “tambalan teknologi” yang mengatasi gejala, bukan akar persoalan.
Setiap bunyi bel memaksa staf melakukan perjalanan pelayanan khusus untuk satu permintaan saja. Akibatnya, beban gerak meningkat dan pelayanan menjadi reaktif, bukan proaktif.
Muhamad Sugeng Riyadi dan tim Universitas Kristen Indonesia menegaskan bahwa konflik ini bukan kesalahan desain sederhana yang dapat diperbaiki hanya melalui dekorasi atau material bangunan.
Menurut mereka, masalah tersebut melekat pada tipe ruang saung itu sendiri. Semakin tertutup sebuah saung untuk menjaga privasi pelanggan, semakin besar pula hambatan yang dihadapi pekerja di luar ruang tersebut.
Temuan ini dinilai penting bukan hanya untuk bisnis kuliner, tetapi juga bagi dunia arsitektur dan perencanaan ruang publik.
Konsep SSAC menunjukkan bahwa satu ruang bisa sekaligus bersifat “sosiopetal” atau mendekatkan manusia, dan “sosiofugal” atau menjauhkan interaksi, tergantung siapa penggunanya.
Implikasinya meluas ke berbagai fasilitas publik seperti hotel, rumah sakit, bandara, hingga institusi pendidikan yang melibatkan kelompok pengguna dengan kebutuhan berbeda.
Peneliti merekomendasikan agar restoran tradisional berkapasitas besar mulai melakukan analisis SSAC sejak tahap desain. Area tunggu sebaiknya memiliki pembatas visual, area hiburan dipisahkan dari taman bermain, dan jalur pelayanan dilengkapi titik pengamatan yang memudahkan staf memantau pengunjung tanpa mengorbankan privasi saung.
Profil Penulis
Muhamad Sugeng Riyadi merupakan mahasiswa Magister Arsitektur Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia dengan fokus kajian arsitektur vernacular, perilaku ruang, dan desain lingkungan komersial.
Prof. Dr. Ir. James ED Rilatupa, M.Si. adalah akademisi dan peneliti Universitas Kristen Indonesia yang menaruh perhatian pada arsitektur, lingkungan binaan, dan kajian spasial.
Dr. Yophie Septiady, S.T., M.Si. merupakan dosen dan peneliti Universitas Kristen Indonesia dengan bidang keahlian arsitektur, desain ruang, dan studi lingkungan terbangun.
Sumber Penelitian
Riyadi, Muhamad Sugeng; Rilatupa, James ED; Septiady, Yophie. 2026. Analysis of the Sociopetal-Sociofugal Architectural Conflict (SSAC) in High-Density Vernacular Sundanese Restaurants. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 5, hlm. 631–646. DOI: http://10.55927/ijar.v5i5.16548.
0 Komentar