Campuran Pupuk Kandang Sapi dan Tanah Dongkrak Kualitas Bunga Marigold di Lahan Kering

Ilustrasi by AI

KUPANG — Penggunaan media tanam organik yang tepat terbukti menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura di daerah beriklim kering. Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Tri Luchi Proklamita dan Laurensius Lehar dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang pada tahun 2026 mengungkapkan strategi efektif untuk memacu pertumbuhan dan hasil panen bunga marigold (Tagetes erecta L.). Kajian ilmiah ini memberikan solusi praktis bagi para petani florikultura di wilayah tropis yang sering menghadapi tantangan keterbatasan hara tanah dan efisiensi air.

Bunga marigold atau yang dikenal luas di Indonesia sebagai bunga tahi ayam memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Selain menjadi elemen penting dalam berbagai upacara adat dan keagamaan, bunga ini juga banyak dibudidayakan untuk keperluan lanskap perkotaan, agen pengendalian hama alami, hingga bahan baku industri kosmetik dan farmasi. Tingginya permintaan pasar menuntut metode budidaya yang tidak hanya mampu menghasilkan bunga berkualitas tinggi, tetapi juga tetap menjaga kelestarian lingkungan melalui pengurangan pupuk kimia sintetis.

Tantangan terbesar budidaya tanaman di wilayah lahan kering tropis adalah karakteristik tanah lokal yang umumnya kekurangan karbon organik, memiliki stabilitas agregat yang lemah, dan daya ikat air yang sangat rendah. Kondisi lingkungan yang ekstrem seperti ini sering kali menghambat perkembangan akar dan pasokan nutrisi penting pada fase pertumbuhan tanaman. Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sebagai pembenah tanah menjadi alternatif berkelanjutan yang sangat potensial.

Guna menguji efektivitas berbagai formula media tanam, tim peneliti Politeknik Pertanian Negeri Kupang menggelar eksperimen langsung di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Percobaan lapangan ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan menguji sembilan kombinasi media tanam yang berbeda. Para peneliti mencampur tanah Vertisol lokal dengan aneka bahan organik dan anorganik menggunakan rasio volume tetap, tanpa menambahkan pupuk kimia tambahan selama penelitian berlangsung agar hasil yang diperoleh murni merepresentasikan pengaruh dari media tanam tersebut.

Berdasarkan analisis data yang dihimpun, formula media tanam yang mencampurkan tanah dengan kompos pupuk kandang sapi memuncaki seluruh indikator keberhasilan. Tanaman marigold yang ditanam pada media ini menunjukkan performa vegetatif terbaik dengan rata-rata tinggi tanaman mencapai 81,54 sentimeter dan diameter batang mencapai 1,20 milimeter pada minggu kelima setelah tanam. Keunggulan fase vegetatif ini berdampak langsung pada produktivitas bunga saat memasuki masa panen.

Formulasi tanah dan kompos kotoran sapi tersebut sukses menghasilkan rata-rata 14,44 kuntum bunga per tanaman. Kualitas fisik bunga yang dihasilkan pun sangat masif, dengan diameter rata-rata bunga mencapai 71,85 milimeter serta berat segar per bunga menyentuh angka 21,89 gram. Capaian angka ini jauh melampaui kelompok tanaman kontrol yang hanya menggunakan media tanah biasa atau media campuran bahan lain seperti serbuk gergaji dan arang sekam.

Keunggulan mutlak dari kompos kotoran sapi ini terjadi karena karakteristik kimiawinya yang kaya akan karbon organik dan memiliki tingkat keasaman yang ideal bagi tanaman. Kompos matang mampu memperbaiki struktur fisik tanah di sekitar perakaran, meningkatkan kapasitas retensi air, serta menyediakan unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium secara bertahap. Kondisi lingkungan akar yang optimal ini memacu kapasitas fotosintesis daun menjadi lebih tinggi, sehingga tanaman memiliki energi yang melimpah untuk dialokasikan bagi pembentukan bunga yang besar dan lebat.

Meskipun media tanam lain seperti bokashi ayam petelur dan biochar batok kelapa ikut memberikan dampak positif bagi tanaman, capaiannya masih berada di tingkat moderat dan belum bisa menyamai konsistensi dari kompos kotoran sapi. Biochar atau arang padat memang sangat baik untuk kestabilan karbon tanah jangka panjang, namun kemampuan instannya dalam menyuplai nutrisi harian tanaman siap pakai masih sangat terbatas jika tidak dikombinasikan dengan bahan organik kaya hara lainnya.

Dampak praktis dari publikasi riset ini memberikan rekomendasi yang sangat berharga bagi industri hortikultura skala kecil maupun besar di wilayah tropis kering. Penggunaan kompos kotoran sapi sebagai media tanam berbasis pot atau polibag terbukti menjadi strategi yang murah, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan untuk mendongkrak nilai jual estetika bunga marigold di pasaran. Optimalisasi bahan organik lokal ini diharapkan mampu memotong biaya produksi petani sekaligus menjadi langkah nyata dalam menggalakkan sistem pertanian sirkular yang berkelanjutan.

Profil Penulis:

Tri Luchi Proklamita adalah peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Laurensius Lehar adalah peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Sumber Penelitian: The Effect of Growing Media on the Growth and Yield of Marigold (Tagetes erecta L.), East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026. DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.118 URL: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar