Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) Vol. 5 No. 2 Tahun 2026. Studi ini menyoroti bagaimana budaya religius bukan hanya menjadi aktivitas seremonial di sekolah, tetapi telah menjadi strategi utama dalam membangun karakter generasi muda berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.
Penelitian dilakukan di sejumlah sekolah dasar di bawah naungan LP Ma’arif NU Tulungagung menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Tim peneliti mengumpulkan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, serta pihak terkait lainnya.
Suminto menjelaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga menyangkut penurunan moral dan perilaku sosial siswa. Perkembangan teknologi digital, media sosial, serta arus globalisasi dinilai memengaruhi kedisiplinan, sopan santun, hingga rasa hormat siswa kepada guru dan orang tua.
“Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter dan moral yang kuat,” tulis Suminto dalam penelitiannya.
Penelitian menemukan bahwa budaya religius di sekolah diterapkan secara konsisten melalui berbagai kegiatan rutin. Aktivitas tersebut meliputi salat berjamaah, pembacaan doa sebelum dan sesudah belajar, istighotsah, pembacaan shalawat, budaya salam dan salim, serta pembelajaran Aswaja atau Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan setiap hari sebagai bentuk pembiasaan perilaku positif. Menurut peneliti, pendekatan pembiasaan menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan karakter karena siswa tidak hanya memahami nilai moral secara teori, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Guru juga memegang peran penting dalam proses pembentukan karakter. Penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru memiliki pengaruh besar terhadap perilaku siswa. Guru tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi contoh dalam kedisiplinan, kesopanan, kepedulian sosial, dan perilaku religius.
Selain melalui aktivitas keagamaan, nilai-nilai karakter juga diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di kelas. Guru menghubungkan materi pelajaran dengan nilai tanggung jawab, kerja sama, toleransi, dan kepedulian sosial sehingga pendidikan karakter menjadi bagian dari seluruh aktivitas pendidikan, bukan program tambahan semata.
Penelitian ini juga menemukan sejumlah faktor pendukung keberhasilan pendidikan karakter di sekolah NU Tulungagung. Komitmen kepala sekolah dalam membangun lingkungan religius menjadi faktor utama. Dukungan guru, tenaga kependidikan, dan orang tua turut memperkuat implementasi budaya religius di sekolah.
Namun demikian, peneliti mengungkapkan adanya tantangan besar yang dihadapi sekolah dalam membentuk karakter siswa. Pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi digital menjadi hambatan utama karena siswa sangat mudah terpapar budaya luar yang tidak selalu sesuai dengan nilai moral dan religius yang diajarkan sekolah.
Kurangnya pengawasan penggunaan teknologi di lingkungan keluarga juga dinilai memperberat proses pendidikan karakter. Selain itu, latar belakang keluarga siswa yang berbeda-beda menyebabkan tidak semua anak memperoleh pembiasaan religius yang sama di rumah.
Meski menghadapi berbagai tantangan, hasil penelitian menunjukkan dampak positif yang cukup signifikan. Siswa di lingkungan LP Ma’arif NU Tulungagung dinilai memiliki tingkat disiplin yang lebih baik, lebih sopan kepada guru, lebih bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Budaya religius juga membantu membangun karakter moderat dan toleran pada siswa. Nilai-nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal yang diajarkan dalam tradisi Nahdlatul Ulama membentuk sikap seimbang, menghargai perbedaan, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekolah.
Menurut Rifo Rifat Basya, pendekatan budaya religius berbasis Aswaja menjadi model pendidikan karakter yang relevan di era modern karena mampu menjaga identitas keislaman sekaligus membentuk siswa yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Penelitian ini merekomendasikan agar sekolah memperkuat kolaborasi dengan orang tua dalam pendidikan karakter. Peneliti juga mendorong pemanfaatan teknologi digital secara positif melalui media pembelajaran berbasis nilai religius untuk mengimbangi pengaruh negatif media sosial terhadap perilaku siswa.
Selain itu, guru dinilai perlu mendapatkan pelatihan khusus mengenai strategi pendidikan karakter berbasis budaya religius agar proses internalisasi nilai moral dan spiritual dapat berjalan lebih efektif.
Temuan ini dinilai penting bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu krisis moral generasi muda. Model pendidikan karakter berbasis budaya religius yang diterapkan LP Ma’arif NU Tulungagung dinilai dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembentukan akhlak dan karakter siswa.
Profil Penulis
Suminto merupakan akademisi dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang fokus pada bidang pendidikan Islam, pendidikan karakter, dan budaya religius di lingkungan sekolah.
Rifo Rifat Basya adalah peneliti dan akademisi dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang memiliki minat kajian pada pendidikan berbasis nilai keislaman, karakter siswa, dan pengembangan budaya sekolah.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Strategy for Strengthening Character Education Through Religious Culture in Schools in The Ma'arif NU Tulungagung Primary School
Penulis: Suminto dan Rifo Rifat Basya
Jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Vol. 5 No. 2 Tahun 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/jiph.v5i2.15
URL: https://journaljiph.my.id/index.php/jiph/index
0 Komentar