![]() |
| Illustration by Ai |
Arus Kas dan Pertumbuhan Penjualan Jadi Penentu Risiko Financial Distress Perusahaan Konsumen
Perusahaan sektor consumer cyclical di Indonesia semakin rentan mengalami tekanan keuangan di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Temuan itu terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan Sando Kalferi, Wiralestari, dan Lutfi dari Universitas Jambi pada 2026. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) ini menunjukkan bahwa arus kas dan pertumbuhan penjualan menjadi faktor paling berpengaruh terhadap kondisi financial distress perusahaan sektor consumer cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2022–2024.
Penelitian ini penting karena sektor consumer cyclical merupakan kelompok industri yang sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi. Sektor ini mencakup bisnis otomotif, ritel, tekstil, hotel, restoran, hingga pariwisata. Ketika daya beli masyarakat melemah, penjualan perusahaan biasanya ikut turun dan risiko tekanan keuangan meningkat.
Tim peneliti menjelaskan bahwa kondisi tersebut mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Data pasar menunjukkan saham sektor consumer cyclical mengalami pelemahan cukup besar dibanding indeks saham gabungan. Penurunan daya beli masyarakat juga berdampak pada penjualan kendaraan, sektor wisata, restoran, dan pusat perbelanjaan.
Dalam riset ini, peneliti menganalisis 82 perusahaan consumer cyclical yang tercatat di Bursa Efek Indonesia menggunakan laporan keuangan periode 2022 hingga 2024. Total observasi penelitian mencapai 218 data setelah dilakukan penyesuaian statistik untuk menghilangkan data outlier.
Kondisi financial distress diukur menggunakan metode Zmijewski X-Score, yaitu model yang umum dipakai untuk memprediksi potensi kesulitan keuangan dan risiko kebangkrutan perusahaan. Jika nilai X-Score berada di atas nol, perusahaan dinilai memiliki potensi mengalami financial distress.
Dari seluruh variabel yang diuji, arus kas operasional terbukti memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress. Artinya, semakin baik arus kas perusahaan, semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami tekanan keuangan.
Peneliti menjelaskan bahwa arus kas mencerminkan kemampuan perusahaan menjalankan operasional sehari-hari dan memenuhi kewajiban finansialnya. Perusahaan dengan arus kas stabil cenderung lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Sebaliknya, pertumbuhan penjualan justru menunjukkan hubungan positif terhadap financial distress. Temuan ini cukup menarik karena secara teori kenaikan penjualan biasanya dianggap sebagai indikator positif perusahaan.
Namun dalam praktiknya, peningkatan penjualan yang terlalu cepat juga dapat meningkatkan beban operasional, kebutuhan modal kerja, dan tekanan pembiayaan perusahaan. Jika pertumbuhan tidak diimbangi pengelolaan keuangan yang sehat, risiko financial distress tetap dapat meningkat.
“Perusahaan dengan arus kas operasional yang lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami financial distress karena keterbatasan pendanaan operasional dan kewajiban keuangan,” tulis Sando Kalferi dan tim peneliti dari Universitas Jambi dalam pembahasannya.
Sementara itu, ukuran perusahaan dan tingkat solvabilitas atau rasio utang tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap financial distress dalam penelitian ini. Besarnya aset perusahaan ternyata tidak selalu menjamin kondisi keuangan yang sehat.
Peneliti menilai efektivitas pengelolaan aset dan kemampuan manajemen jauh lebih penting dibanding sekadar ukuran perusahaan. Demikian juga dengan struktur utang perusahaan yang tidak selalu menjadi faktor utama pemicu financial distress selama perusahaan masih mampu menjaga stabilitas operasional.
Secara statistik, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi empat variabel, yakni arus kas, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, dan solvabilitas, secara bersama-sama memengaruhi kondisi financial distress perusahaan.
Meski begitu, tingkat pengaruhnya masih relatif kecil. Nilai koefisien determinasi penelitian hanya mencapai 7,7 persen. Artinya, masih banyak faktor lain di luar model penelitian yang memengaruhi kondisi financial distress perusahaan, seperti profitabilitas, tata kelola perusahaan, likuiditas, hingga kondisi ekonomi global.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi investor, pelaku usaha, dan lembaga keuangan. Investor disarankan tidak hanya melihat pertumbuhan penjualan atau ukuran perusahaan saat membeli saham, tetapi juga memperhatikan kualitas arus kas operasional perusahaan.
Bagi perusahaan, menjaga arus kas positif dinilai lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan penjualan agresif. Perusahaan yang terlalu fokus memperbesar penjualan tanpa pengelolaan keuangan yang sehat justru berpotensi menghadapi tekanan finansial di masa depan.
Lembaga perbankan dan pemberi pinjaman juga disarankan lebih cermat menilai kualitas arus kas perusahaan sebelum memberikan kredit, terutama pada sektor consumer cyclical yang sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kondisi ekonomi nasional dan daya beli masyarakat memiliki dampak langsung terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Ketika konsumsi masyarakat menurun, sektor consumer cyclical menjadi salah satu industri yang paling cepat merasakan tekanan.
Profil Singkat Penulis
Sando Kalferi merupakan peneliti dan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi dengan fokus kajian pada akuntansi keuangan, analisis laporan keuangan, dan financial distress perusahaan. Penelitian ini juga melibatkan Wiralestari dan Lutfi dari universitas yang sama dalam bidang akuntansi dan manajemen keuangan perusahaan.

0 Komentar