Analisis Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja Tinggi dan Upaya untuk Meningkatkan Pelaksanaan Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Industri Modern



Ilustrasi by AI

Faktor Human Error Jadi Penyebab Utama Kecelakaan Kerja di Industri Modern Jawa Barat

Kecelakaan kerja di industri modern masih menjadi persoalan serius di Indonesia, terutama di kawasan industri Jawa Barat yang berkembang pesat dalam sektor manufaktur dan logistik. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Hanifah Handayani dan Amri dari Institut Teknologi Petroleum Balongan menemukan bahwa faktor perilaku tidak aman, lemahnya pengawasan, dan kurangnya pelatihan menjadi penyebab dominan tingginya angka kecelakaan kerja di industri modern.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Natural and Health Sciences Volume 4 Nomor 2 tahun 2026 dengan judul Analysis of Factors Causing High Workplace Accidents and Efforts to Improve the Implementation of Occupational Health and Safety (OHS) Systems in Modern Industry. Studi ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa keberadaan sistem keselamatan kerja formal belum tentu efektif jika implementasinya di lapangan masih lemah.

Dalam riset selama tiga bulan itu, peneliti melibatkan 40 pekerja industri berisiko tinggi serta enam informan utama yang terdiri dari petugas K3/HSE, supervisor operasional, manajer operasional, dan pekerja lapangan. Penelitian menggunakan pendekatan campuran atau mixed-method melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis risiko kerja menggunakan metode HIRARC, Fishbone Diagram, serta 5 Why Analysis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor manusia menjadi penyebab paling dominan dalam kecelakaan kerja. Perilaku tidak aman memperoleh skor tertinggi dengan nilai rata-rata 4,25, diikuti ketidakpatuhan terhadap prosedur operasi standar (SOP) dengan skor 4,20. Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja sering mengabaikan prosedur keselamatan ketika menghadapi tekanan target produksi.

Salah satu pekerja operasional yang diwawancarai peneliti mengakui bahwa percepatan pekerjaan sering membuat pekerja mengambil jalan pintas. “Kadang sebenarnya kami tahu itu berbahaya, tapi karena target pekerjaan, tetap dilakukan,” ungkap pekerja tersebut dalam wawancara penelitian.

Penelitian juga menemukan bahwa faktor lingkungan kerja masih berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi. Paparan bahaya di area kerja mendapatkan skor 4,05, menunjukkan bahwa pekerja masih sering berhadapan dengan kondisi berbahaya seperti area sempit, tata letak kerja yang kurang aman, dan paparan alat kerja berisiko tinggi.

Menurut hasil observasi peneliti, kondisi lingkungan kerja yang kurang optimal menjadi lebih berbahaya ketika dikombinasikan dengan perilaku pekerja yang tidak aman. Supervisor operasional dalam penelitian itu menyebut beberapa area kerja memiliki ruang yang sempit sehingga meningkatkan risiko kecelakaan apabila pekerja tidak berhati-hati.

Selain faktor manusia dan lingkungan, aspek organisasi perusahaan juga dinilai belum optimal. Sistem pengawasan keselamatan, pelatihan kerja, dan penegakan aturan keselamatan masih berada pada kategori sedang. Penelitian menemukan bahwa keterbatasan jumlah supervisor menyebabkan proses pengawasan keselamatan tidak berjalan maksimal di semua area operasional.

Petugas HSE dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa perusahaan sebenarnya telah memiliki sistem keselamatan kerja, tetapi implementasinya belum konsisten di seluruh departemen. Hal ini terlihat dari lemahnya pengawasan dan pengendalian risiko di lapangan.

Secara lebih mendalam, penelitian ini menggunakan metode HIRARC untuk mengidentifikasi aktivitas kerja berisiko tinggi, Fishbone Diagram untuk memetakan faktor penyebab kecelakaan, serta metode 5 Why untuk menemukan akar masalah. Hasil integrasi ketiga metode tersebut menunjukkan bahwa lemahnya pengawasan menjadi akar utama munculnya perilaku tidak aman di tempat kerja.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa budaya keselamatan kerja atau safety culture masih menjadi tantangan besar di industri modern Indonesia. Banyak perusahaan telah memiliki dokumen dan kebijakan K3 formal, tetapi belum berhasil membangun budaya disiplin keselamatan dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Menurut Hanifah Handayani dan Amri, kecelakaan kerja tidak dapat dipahami hanya sebagai kesalahan individu pekerja. Tekanan target produksi, keterbatasan pengawasan, dan lemahnya penerapan sistem keselamatan turut membentuk perilaku berisiko di tempat kerja. Dengan kata lain, kecelakaan kerja merupakan hasil interaksi antara faktor manusia, lingkungan, dan manajemen perusahaan.

Penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis untuk menurunkan angka kecelakaan kerja di industri modern. Di antaranya adalah memperkuat budaya keselamatan kerja melalui pelatihan berkelanjutan, meningkatkan kualitas pengawasan lapangan, memperbaiki sistem kontrol risiko, serta memastikan penerapan SOP dilakukan secara konsisten di seluruh unit kerja.

Peneliti juga menekankan pentingnya penerapan pendekatan berbasis risiko seperti HIRARC dalam operasional harian perusahaan. Pendekatan ini dinilai mampu membantu perusahaan mengidentifikasi potensi bahaya lebih awal sebelum terjadi kecelakaan kerja.

Temuan tersebut dinilai relevan dengan kondisi industri modern saat ini yang semakin kompleks dan memiliki tingkat risiko tinggi akibat percepatan produksi serta penggunaan teknologi industri yang semakin intensif. Jika tidak diimbangi dengan sistem keselamatan yang kuat, risiko kecelakaan kerja diperkirakan akan terus meningkat.

Bagi dunia industri, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi penting untuk meningkatkan efektivitas sistem manajemen keselamatan kerja sesuai standar internasional seperti ISO 45001. Sementara bagi pemerintah dan regulator ketenagakerjaan, penelitian ini menunjukkan perlunya penguatan pengawasan implementasi K3 secara nyata di lapangan, bukan hanya pada aspek administratif.

Profil Penulis

Hanifah Handayani merupakan akademisi dan peneliti dari Institut Teknologi Petroleum Balongan yang memiliki fokus penelitian pada keselamatan dan kesehatan kerja (K3), analisis risiko industri, serta sistem manajemen keselamatan modern.

Amri merupakan peneliti dari Institut Teknologi Petroleum Balongan dengan bidang keahlian pada manajemen risiko industri, implementasi sistem K3, dan pengembangan budaya keselamatan kerja di lingkungan industri modern.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Analysis of Factors Causing High Workplace Accidents and Efforts to Improve the Implementation of Occupational Health and Safety (OHS) Systems in Modern Industry

Jurnal: International Journal of Natural and Health Sciences Volume 4 Nomor 2 Tahun 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijnhs.v4i2.213

Posting Komentar

0 Komentar