Alasan Pedagogis Guru dalam Menggunakan Pendekatan Translanguaging di Kelas Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing yang Multibahasa: Temuan dari Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Guru di Indonesia Gunakan Metode Translanguaging untuk Bantu Siswa Kuasai Bahasa Inggris. Penelitian yang dilakukan oleh Syarifuddin dan Ashadi, dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 4 Tahun 2026 menyoroti bahwa mencampur bahasa di dalam kelas bukanlah sebuah tanda kegagalan mengajar, melainkan sebuah strategi kognitif yang dikendalikan secara matang oleh guru. 

Penelitian yang dilakukan oleh Syarifuddin dan Ashadi, dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyoroti bahwa pendekatan kaku ini justru sering kali membuat siswa dengan kemampuan bahasa Inggris rendah menjadi bingung dan pasif di kelas

Dilema Kelas Multikultural di Indonesia 
Indonesia memiliki karakteristik unik karena sebagian besar masyarakatnya terlahir dalam lingkungan multibahasa. Sejak kecil, siswa terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah sekaligus Bahasa Indonesia. Ketika mereka mulai belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah, ruang kelas secara otomatis berubah menjadi lingkungan multilingual yang kompleksSayangnya, kurikulum dan norma pengajaran yang ada masih sering menuntut guru untuk menerapkan kebijakan bahasa tunggal. Hal ini menciptakan ketegangan tersendiri bagi tenaga pendidik. Di satu sisi mereka harus memaparkan bahasa Inggris sebanyak mungkin, namun di sisi lain mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua siswa memiliki tingkat kompetensi bahasa Inggris yang sama. Hambatan bahasa ini kerap memicu rasa cemas pada siswa, membuat mereka takut salah, dan akhirnya memilih untuk diam selama pelajaran berlangsung.

Membedah Cara Berpikir Guru Melalui Pendekatan Sederhana
Untuk memahami alasan mendalam di balik keputusan para guru menggunakan variasi bahasa, Syarifuddin dan Ashadi melakukan riset kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Riset ini dilakukan di lingkungan sekolah menengah di Indonesia, yang mencakup Sekolah Menengah Atas (SMA) umum dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Tim peneliti memilih lima orang guru bahasa Inggris berpengalaman yang mengajar di lingkungan multibahasa sebagai partisipan. Data dikumpulkan secara langsung melalui dua cara:
  • Observasi Kelas: Mengamati dan mendokumentasikan bagaimana para guru berinteraksi dan menggunakan bahasa secara nyata saat proses belajar-mengajar berlangsung.
  • Wawancara Semi-Terstruktur: Berdiskusi secara mendalam dengan para guru untuk menggali penalaran pedagogis atau alasan di balik pilihan bahasa yang mereka gunakan di kelas.
Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara tematik untuk menemukan pola-pola tindakan guru yang konsisten.

Empat Temuan Utama: Mengapa Guru Mencampur Bahasa?
Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan metode translanguaging oleh para guru di Indonesia bukanlah tindakan spontan atau tanpa arah. Sebaliknya, praktik ini didasari oleh empat alasan pedagogis yang sangat kuat:
  • Sebagai Alat Bantu Kognitif untuk Pemahaman Materi. Guru memanfaatkan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah secara strategis untuk menjelaskan kosakata yang sulit, konsep-konsep abstrak, serta instruksi tugas yang rumit. Dengan cara ini, siswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya masih berada di tingkat dasar tetap dapat menyerap esensi materi pelajaran tanpa kehilangan arah. Bahasa ibu berfungsi sebagai perancah (scaffold) yang memperkuat pondasi pemahaman mereka.
  • Memberikan Dukungan Emosional dan Mendorong Interaksi. Ketika guru mengizinkan penggunaan bahasa yang familier, tingkat kecemasan siswa terbukti menurun drastis. Siswa merasa lebih aman, nyaman, dan dihargai di dalam kelas. Dampaknya, interaksi dua arah meningkat karena siswa menjadi lebih berani mengekspresikan ide dan menjawab pertanyaan guru tanpa takut dihakimi akibat keterbatasan kosakata bahasa Inggris mereka.
  • Strategi Pembelajaran Berbasis Inklusivitas. Setiap kelas memiliki keberagaman tingkat kemahiran bahasa. Guru menggunakan translanguaging sebagai alat instruksi berdiferensiasi. Guru dapat menyesuaikan kedalaman penjelasan sesuai kebutuhan individu: memberikan bantuan bahasa ekstra bagi siswa yang kesulitan, sembari tetap menantang siswa yang sudah mahir untuk terus mengeksplorasi bahasa Inggris.
  • Penerapan Kontrol Pedagogis yang Ketat. Penelitian ini mematahkan kekhawatiran bahwa mencampur bahasa akan merusak kemampuan berbahasa Inggris siswa. Faktanya, para guru yang diteliti tidak menggunakan bahasa Indonesia secara sembarangan. Mereka menerapkan kendali yang ketat dan selektif hanya menggunakannya pada momen-momen krusial seperti klarifikasi konsep sulit. Target utama untuk memberikan paparan bahasa Inggris yang optimal kepada siswa tetap dijaga secara seimbang.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan dan Kebijakan
Penelitian dari Universitas Negeri Yogyakarta ini membawa dampak penting bagi masa depan dunia pendidikan, khususnya dalam metode pengajaran bahasa asing di negara berkembang. Hasil studi ini merekomendasikan agar para pembuat kebijakan kurikulum dan institusi pencetak guru tidak lagi memandang sebelah mata praktik pencampuran bahasaPenulis menyarankan agar metode translanguaging yang terstruktur dapat diintegrasikan ke dalam program pendidikan guru serta pelatihan profesi berkelanjutan. Guru perlu dibekali panduan yang jelas mengenai kapan, mengapa, dan bagaimana cara memadukan bahasa secara efektif, sehingga metode ini bisa menjadi alat bantu pengajaran yang sah dan ilmiah, bukan lagi dianggap sebagai bentuk pelanggaran norma monolingual.

Profil Peneliti
Syarifuddin adalah peneliti utama dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Indonesia. Bidang keahliannya berfokus pada metodologi pengajaran bahasa Inggris (EFL), pendidikan multibahasa, dan pengembangan strategi pembelajaran inklusif di sekolah menengah.
Ashadi adalah dosen, peneliti senior, sekaligus akademisi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Indonesia. Beliau memiliki keahlian mendalam di bidang kognisi guru, metodologi penelitian kualitatif, serta kebijakan bahasa dalam pendidikan.

Sumber Penelitian
Syarifuddin & Ashadi 2026, Teachers' Pedagogical Reasoning for Translanguaging in Multilingual EFL Classrooms: Evidence from Indonesia. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR)Vol. 5, No. 4 2026, Halaman 263-270.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i4.27
URL: https://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar