Jayapura — Katarak masih menjadi penyebab utama gangguan penglihatan di Indonesia, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan mata yang terbatas seperti Papua. Penelitian terbaru dari Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura menemukan bahwa usia lanjut dan riwayat trauma mata merupakan faktor risiko paling berpengaruh terhadap kejadian katarak pada pasien rawat jalan sepanjang tahun 2025.
Temuan ini berasal dari studi yang menganalisis 202 rekam medis pasien poliklinik mata, dengan tujuan memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap munculnya katarak dalam konteks layanan kesehatan rujukan di Papua. Hasilnya memberikan bukti lokal yang penting bagi penguatan program deteksi dini dan strategi pelayanan kesehatan mata berbasis risiko.
Secara global, katarak dikenal sebagai penyebab utama kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah melalui tindakan operasi sederhana. Namun, di daerah dengan distribusi layanan kesehatan yang belum merata, keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar. Papua termasuk wilayah yang menghadapi hambatan geografis dan keterbatasan tenaga spesialis mata, sehingga penelitian berbasis data lokal sangat dibutuhkan untuk memperkuat kebijakan kesehatan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) berbasis data rekam medis elektronik pasien rawat jalan selama Januari hingga Desember 2025. Dari total sampel, 151 pasien (74,8%) terdiagnosis katarak, sementara sisanya tidak. Distribusi karakteristik pasien menunjukkan bahwa mayoritas responden berasal dari kelompok usia produktif, beretnis Papua, dan masih bekerja secara aktif.
Meski demikian, analisis statistik menunjukkan bahwa faktor yang benar-benar memiliki hubungan signifikan dengan kejadian katarak hanyalah usia dan riwayat trauma mata. Pasien berusia 60 tahun ke atas memiliki kemungkinan 1,53 kali lebih tinggi mengalami katarak dibandingkan kelompok usia lebih muda.
Secara biologis, hubungan ini dapat dijelaskan melalui proses degeneratif alami pada lensa mata. Seiring bertambahnya usia, lensa mengalami perubahan struktur protein, peningkatan stres oksidatif, serta penurunan elastisitas yang menyebabkan kekeruhan bertahap. Akibatnya, kemampuan mata memfokuskan cahaya ke retina menurun dan penglihatan menjadi kabur.
Selain usia, faktor lain yang menonjol adalah riwayat trauma mata. Dalam analisis multivariat, trauma mata menjadi faktor paling dominan dengan peluang kejadian katarak sekitar 2,7 kali lebih besar dibandingkan pasien tanpa riwayat trauma. Temuan ini menegaskan pentingnya pencegahan cedera mata dalam aktivitas sehari-hari maupun pekerjaan berisiko tinggi.
Sebaliknya, variabel lain seperti etnis, pekerjaan, riwayat diabetes melitus, riwayat penyakit mata sebelumnya, serta riwayat operasi mata tidak menunjukkan hubungan signifikan secara statistik dengan kejadian katarak dalam penelitian ini. Peneliti menjelaskan bahwa keterbatasan detail data rekam medis—misalnya durasi diabetes atau paparan sinar ultraviolet—dapat memengaruhi hasil analisis.
Menariknya, sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat penyakit mata sebelumnya maupun diabetes. Hal ini menunjukkan bahwa katarak tetap dapat berkembang tanpa faktor klinis yang jelas, terutama pada kelompok usia lanjut.
Dalam konteks pelayanan kesehatan masyarakat, hasil penelitian ini memberikan arah strategis yang jelas. Program skrining katarak sebaiknya diprioritaskan pada kelompok lansia serta individu dengan riwayat cedera mata. Selain itu, edukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan mata rutin perlu diperkuat, terutama di wilayah dengan akses layanan terbatas.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas dokumentasi rekam medis elektronik sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti. Data yang lebih lengkap akan membantu mengidentifikasi faktor risiko tambahan seperti paparan sinar ultraviolet, penggunaan steroid jangka panjang, serta status gizi pasien.
Secara praktis, temuan ini memperkuat peran rumah sakit rujukan daerah sebagai pusat deteksi dini gangguan penglihatan. Dengan pendekatan berbasis risiko, pelayanan kesehatan mata dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.
Ke depan, penelitian lanjutan disarankan untuk memasukkan variabel lingkungan dan gaya hidup agar gambaran faktor risiko katarak menjadi lebih komprehensif, khususnya di wilayah timur Indonesia yang masih minim data epidemiologis.
0 Komentar