Tradisi Bekana Dayak Kebahan Terbukti Menjadi Media Pendidikan Karakter Antar Generasi

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS
Sintang - Tradisi lisan bekana yang diwariskan masyarakat Dayak Kebahan di Sintang, Kalimantan Barat, ternyata bukan sekadar cerita pengantar tidur. Penelitian terbaru yang dilakukan Yuliono Evendi dan Agustina Ace Wagena dari Sekolah Tinggi Teologi Khatulistiwa Sintang menunjukkan bahwa bekana berperan penting sebagai media pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak sejak dini. Temuan ini dipublikasikan dalam International Journal of Sustainable Applied Sciences tahun 2026 dan menjadi penting di tengah kekhawatiran akan memudarnya tradisi lokal akibat modernisasi.

Di banyak keluarga Dayak Kebahan, bekana dilakukan oleh orang tua atau kakek-nenek sebelum anak tidur. Cerita yang disampaikan biasanya berisi kisah kepahlawanan leluhur, kerja keras, kehidupan sosial, hingga pesan-pesan religius yang diambil dari cerita Alkitab. Melalui cerita tersebut, anak-anak tidak hanya dihibur tetapi juga diajarkan tentang kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, dan nilai moral lainnya.

Menurut para peneliti, keberadaan bekana menjadi sangat relevan karena tradisi ini mampu menjaga identitas budaya sekaligus membentuk karakter generasi muda. Di tengah arus digital dan perubahan pola interaksi keluarga, praktik bercerita seperti ini menjadi salah satu cara paling efektif untuk meneruskan nilai budaya dan pendidikan moral secara alami.

Untuk memahami peran bekana dalam pendidikan nilai, peneliti menggunakan metode etnografi kualitatif dengan melibatkan 15 partisipan dari beberapa desa masyarakat Dayak Kebahan di Kabupaten Sintang. Partisipan terdiri dari pendongeng tradisional, orang tua, tetua adat, remaja, dan anak-anak. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis narasi cerita yang biasa digunakan dalam praktik bekana.

Hasil penelitian menemukan bahwa ada sembilan nilai utama yang secara konsisten ditanamkan melalui bekana, yaitu:

  1. Kejujuran
  2. Tanggung jawab
  3. Solidaritas
  4. Rasa hormat
  5. Kebijaksanaan
  6. Keberanian
  7. Kesabaran
  8. Spiritualitas
  9. Kesadaran lingkungan

Nilai kejujuran, misalnya, diajarkan melalui cerita tentang akibat buruk dari kebohongan. Anak-anak belajar bahwa berkata jujur lebih dihargai daripada menyembunyikan kesalahan. Nilai tanggung jawab dan kerja keras muncul dalam kisah tentang anak yang rajin membantu orang tua dan memperoleh hasil baik dari usahanya. Sementara solidaritas diajarkan melalui cerita mengenai pentingnya gotong royong dan saling membantu dalam kehidupan komunitas.

Penelitian juga menemukan bahwa bekana sangat efektif menumbuhkan rasa hormat dan empati pada anak. Cerita tentang anak yang tidak menghormati orang tua atau orang lain digunakan sebagai sarana refleksi agar anak memahami pentingnya sikap sopan santun. Dengan pendekatan naratif, anak lebih mudah menerima pesan moral dibandingkan melalui instruksi langsung.

Selain itu, bekana memperkuat identitas budaya anak-anak Dayak Kebahan. Melalui cerita leluhur, anak diperkenalkan pada asal-usul komunitasnya, nilai kebersamaan, dan pandangan hidup masyarakat adat. Hal ini penting untuk menjaga kesinambungan budaya di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Peneliti menilai bahwa bekana menjadi “kurikulum informal” yang membantu anak memahami jati dirinya sebagai bagian dari komunitas budaya tertentu.

Aspek menarik lainnya adalah integrasi nilai spiritual dan kesadaran lingkungan dalam tradisi ini. Cerita yang disampaikan sering mengaitkan hubungan manusia dengan Tuhan dan alam. Anak-anak diajarkan pentingnya berdoa, menghormati alam, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Dalam konteks pendidikan modern, nilai-nilai ini sangat relevan untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan memiliki integritas moral.

Yuliono Evendi dan Agustina Ace Wagena menegaskan bahwa bekana merupakan sistem pendidikan lokal yang holistik. Tradisi ini tidak hanya menyampaikan pesan moral, tetapi juga memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Interaksi dalam kegiatan bercerita memungkinkan terjadinya dialog nilai yang lebih mendalam dan membangun ikatan keluarga yang kuat.

Temuan ini membawa implikasi penting bagi dunia pendidikan. Di saat sekolah formal sering berfokus pada capaian akademik, tradisi seperti bekana menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat berlangsung secara efektif di lingkungan keluarga dan komunitas. Nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun dapat menjadi fondasi bagi pendidikan yang lebih kontekstual dan berakar pada budaya masyarakat.

Penelitian ini juga membuka peluang bagi integrasi kearifan lokal ke dalam sistem pendidikan formal. Cerita-cerita tradisional seperti bekana dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis budaya untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Dengan demikian, pelestarian budaya lokal tidak hanya menjadi urusan kebudayaan, tetapi juga bagian dari strategi pendidikan nasional.

Bagi masyarakat luas, hasil penelitian ini mengingatkan bahwa tradisi lisan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter. Ketika banyak keluarga mulai kehilangan kebiasaan bercerita karena dominasi gawai dan media digital, bekana menghadirkan contoh bagaimana warisan budaya dapat tetap relevan dan berdampak nyata bagi pembentukan moral anak.

Profil Penulis
Yuliono Evendi, peneliti dari Sekolah Tinggi Teologi Khatulistiwa Sintang, memiliki perhatian pada pendidikan berbasis budaya dan nilai-nilai lokal masyarakat Dayak. Bersama Agustina Ace Wagena, ia meneliti bagaimana tradisi lokal dapat menjadi sumber pendidikan karakter yang relevan bagi generasi modern.

Sumber Penelitian:
Yuliono Evendi & Agustina Ace Wagena. Cultural Transmission of Life Values through Bekana: An Educational Perspective on the Dayak Kebahan in Sintang. International Journal of Sustainable Applied Sciences, Vol. 4 No. 4, 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i4.389
URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar