Padangsidimpuan-
Agroforestri Terbukti Efektif Mengurangi Laju Erosi Tanah di Tapanuli Selatan. Penelitian
terbaru yang dilakukan oleh Dita Susanty, Yusriani Nasution, Sutan Pulungan,
Rasmita Adelina, dan Dewi Sartika dari Universitas Graha Nusantara
Padangsidimpuan yang dipublikasikan
dalam International Journal of Education and Life Sciences (IJELS) Vol.
4 No. 2 (Februari 2026).
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dita Susanty, Yusriani Nasution, Sutan Pulungan, Rasmita Adelina, dan Dewi Sartika dari Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan menunjukkan bahwa sistem agroforestri mampu menekan laju erosi tanah di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Erosi Tanah Mengancam Produktivitas
Lahan
Erosi tanah terjadi ketika lapisan
tanah bagian atas yang kaya unsur hara terangkut oleh aliran air hujan. Lapisan
ini sangat penting karena mengandung bahan organik dan nutrisi yang dibutuhkan
tanaman.
Jika lapisan tersebut hilang, maka
produktivitas lahan dapat menurun secara signifikan. Selain itu, erosi juga
dapat memicu berbagai masalah lain seperti:
- penurunan
kesuburan tanah
- kerusakan
struktur tanah
- peningkatan
aliran permukaan
- degradasi
lahan dalam jangka panjang
Indonesia sebagai negara tropis
memiliki curah hujan yang tinggi sehingga risiko erosi tanah cukup besar,
terutama pada wilayah dengan lereng curam dan tutupan vegetasi yang kurang
memadai.
Agroforestri Sebagai Solusi
Pengelolaan Lahan Berkelanjutan
Agroforestri merupakan sistem
penggunaan lahan yang menggabungkan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian
dalam satu area pengelolaan.
Sistem ini menghasilkan struktur
vegetasi yang lebih berlapis dan beragam sehingga mampu memberikan perlindungan
yang lebih baik terhadap tanah.
Beberapa manfaat agroforestri antara
lain:
- meningkatkan
infiltrasi air ke dalam tanah
- memperbaiki
struktur tanah
- mengurangi
kecepatan aliran permukaan
- meningkatkan
keanekaragaman hayati
- menjaga
produktivitas lahan secara berkelanjutan
Di Kabupaten Tapanuli Selatan,
masyarakat telah mengembangkan berbagai bentuk agroforestri untuk meningkatkan
hasil ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Jenis agroforestri yang banyak
diterapkan di daerah tersebut antara lain:
- agroforestri
silvikultur
- silvopastura (kombinasi pohon dan peternakan)
- silvofishery (kombinasi pohon dan perikanan)
Menggunakan Metode USLE untuk
Menghitung Erosi
Penelitian ini menggunakan metode Universal
Soil Loss Equation (USLE) untuk menghitung laju kehilangan tanah akibat
erosi.
Metode ini memperhitungkan lima faktor
utama yang memengaruhi erosi, yaitu:
- R
(erosivitas hujan)
– kekuatan hujan dalam menyebabkan erosi
- K
(erodibilitas tanah)
– tingkat kerentanan tanah terhadap erosi
- LS
(panjang dan kemiringan lereng)
- C
(faktor penutup lahan atau vegetasi)
- P
(faktor tindakan konservasi)
Data diperoleh melalui pengamatan lapangan, pengukuran lereng, pengambilan sampel tanah, serta analisis laboratorium terhadap sifat fisik tanah seperti tekstur, struktur, permeabilitas, dan kandungan bahan organik.
Tutupan Vegetasi Berpengaruh Besar
terhadap Erosi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
laju erosi berbeda-beda pada setiap jenis agroforestri, tergantung pada kondisi
vegetasi, sifat tanah, serta praktik konservasi yang diterapkan.
Lahan dengan tutupan vegetasi lebih
rapat menunjukkan tingkat erosi yang lebih rendah dibandingkan lahan dengan
vegetasi yang lebih jarang.
Vegetasi memiliki peran penting dalam
mengurangi erosi, antara lain:
- tajuk
tanaman mengurangi energi tumbukan air hujan
- akar
tanaman memperkuat struktur tanah
- serasah
daun menutupi permukaan tanah
- meningkatkan
infiltrasi air ke dalam tanah
Selain itu, sistem agroforestri juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang membuat struktur tanah menjadi lebih stabil dan lebih tahan terhadap proses erosi.
Perbedaan Laju Erosi pada Setiap
Sistem Agroforestri
Penelitian ini juga menemukan
perbedaan tingkat erosi di antara berbagai sistem agroforestri.
Agroforestri silvikultur, yang didominasi tanaman berkayu,
menunjukkan tingkat erosi paling rendah. Akar tanaman yang lebih dalam
membantu memperkuat struktur tanah dan meningkatkan stabilitas lahan.
Sementara itu, sistem silvopastura
memiliki tingkat erosi yang relatif lebih tinggi karena aktivitas ternak dapat
meningkatkan kepadatan tanah dan mempercepat aliran permukaan.
Pada sistem silvofishery, tingkat erosi sangat dipengaruhi oleh kondisi vegetasi di sekitar area perairan serta praktik pengelolaan lahan yang diterapkan.
Praktik Konservasi Tanah Juga Sangat
Penting
Penelitian ini menegaskan bahwa
keberhasilan agroforestri dalam mengurangi erosi tidak hanya bergantung pada
jenis vegetasi, tetapi juga pada praktik pengelolaan lahan.
Beberapa praktik konservasi yang
terbukti membantu menekan erosi antara lain:
- penanaman
mengikuti kontur lereng
- menjaga
tutupan tanah dengan tanaman penutup
- mempertahankan
serasah daun di permukaan tanah
Jika agroforestri diterapkan bersamaan dengan teknik konservasi tanah yang tepat, risiko degradasi lahan dapat dikurangi secara signifikan.
Implikasi bagi Pengelolaan Lahan
Berkelanjutan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
agroforestri dapat menjadi strategi penting dalam pengelolaan lahan
berkelanjutan di daerah dengan risiko erosi tinggi.
Dengan mengombinasikan tanaman
kehutanan dan pertanian serta menerapkan teknik konservasi tanah, masyarakat
dapat menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Para peneliti juga menyarankan agar program pengembangan agroforestri terus diperluas disertai dengan pendampingan dan penyuluhan kepada masyarakat agar sistem ini dapat diterapkan secara optimal.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem
agroforestri dengan tutupan vegetasi yang lebih rapat dan praktik konservasi
yang baik mampu menurunkan laju erosi tanah secara signifikan.
Di antara sistem yang diteliti, agroforestri
silvikultur menjadi sistem yang paling efektif dalam melindungi tanah dari
erosi.
Temuan ini menegaskan bahwa agroforestri dapat menjadi solusi penting untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung produktivitas pertanian secara berkelanjutan.
Profil Penulis
- Dita Susanty- Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
- Yusriani Nasution-Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
- Sutan Pulungan- Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
- Rasmita Adelina- Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
- Dewi Sartika-Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan
Sumber Penelitian
Susanty,
D., Nasution, Y., Pulungan, S., Adelina, R., & Sartika, D. (2026).
Erosion Rate in Various Types of Agroforestry in South Tapanuli.
International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 2,
253–262.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.284
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar