Benjolan Berdarah di Pusar Bisa Jadi Endometriosis Langka, Kasus Perempuan 52 Tahun Diungkap Peneliti Unair

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Benjolan pada pusar yang disertai perdarahan saat menstruasi ternyata tidak selalu berkaitan dengan hernia atau infeksi kulit. Penelitian terbaru dari dr. Ismu Nugroho dari Universitas Airlangga mengungkap kasus langka endometriosis umbilikalis primer pada perempuan berusia 52 tahun yang masih mengalami siklus menstruasi teratur. Temuan ini dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology tahun 2026 dan menjadi pengingat penting bagi tenaga medis untuk lebih waspada terhadap gejala endometriosis di luar organ reproduksi.

Kasus ini menarik perhatian karena endometriosis umumnya ditemukan di area panggul, ovarium, atau rahim. Pada pasien ini, jaringan mirip lapisan rahim justru tumbuh di area pusar tanpa riwayat operasi sebelumnya. Kondisi tersebut tergolong sangat jarang dan dikenal sebagai primary umbilical endometriosis atau endometriosis umbilikalis primer.

Dalam laporan kasusnya, Ismu Nugroho menjelaskan bahwa pasien datang dengan keluhan benjolan di pusar yang muncul sejak sekitar satu tahun sebelumnya. Benjolan itu perlahan membesar dan beberapa kali mengeluarkan darah secara siklik ketika menstruasi berlangsung. Meski tidak disertai nyeri hebat, pola perdarahan yang mengikuti siklus hormonal menjadi petunjuk penting dalam proses diagnosis.

Endometriosis sendiri merupakan penyakit inflamasi kronis ketika jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Secara global, penyakit ini dialami sekitar 5–10 persen perempuan usia reproduktif. Namun, hanya sebagian kecil kasus yang muncul di luar organ reproduksi, termasuk di pusar. Literatur medis menyebut insidensinya hanya sekitar 0,5–1 persen dari seluruh kasus endometriosis.

Menurut peneliti, kondisi langka ini sering salah diagnosis karena gejalanya mirip dengan benjolan pusar lainnya seperti hernia umbilikalis, granuloma, kista, hingga kanker metastatik yang dikenal sebagai Sister Mary Joseph’s nodule. Risiko salah diagnosis meningkat pada pasien tanpa riwayat operasi perut karena dokter umumnya mengaitkan endometriosis umbilikalis dengan bekas tindakan bedah.

Pada pemeriksaan fisik, pasien menunjukkan massa berwarna merah gelap di pusar dengan batas yang tidak tegas. Pemeriksaan ultrasonografi menemukan massa padat berukuran sekitar 3,16 × 3,37 × 2,8 sentimeter dengan vaskularisasi perifer. Sementara itu, CT scan memperlihatkan peningkatan densitas massa setelah pemberian kontras, yang menunjukkan adanya lesi dengan aliran darah cukup tinggi.

Tim peneliti kemudian melakukan operasi eksisi luas untuk mengangkat seluruh jaringan abnormal. Hasil pemeriksaan histopatologi memastikan adanya jaringan kelenjar dan stroma endometrium di area pusar. Temuan tersebut menjadi bukti definitif bahwa pasien mengalami endometriosis umbilikalis primer.

Selama satu tahun pemantauan pascaoperasi, pasien tidak mengalami kekambuhan maupun perdarahan ulang. Hasil ini menunjukkan bahwa eksisi luas menjadi terapi paling efektif untuk mencegah kekambuhan pada kasus serupa.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa endometriosis umbilikalis tidak hanya menyerang perempuan usia muda. Sebagian besar laporan sebelumnya mencatat usia rata-rata pasien sekitar 37 tahun, sedangkan pasien dalam penelitian ini berusia 52 tahun dan berada pada fase perimenopause. Artinya, aktivitas hormonal yang masih berlangsung pada usia menjelang menopause tetap dapat memicu pertumbuhan jaringan endometriosis.

Dalam pembahasannya, Ismu Nugroho menjelaskan bahwa penyebab pasti endometriosis umbilikalis primer masih diperdebatkan. Sejumlah teori menyebut sel endometrium dapat menyebar melalui pembuluh darah atau limfatik, lalu menempel pada jaringan pusar yang kaya vaskularisasi. Ada pula teori yang mengaitkannya dengan sisa jaringan embrional di area umbilikus.

Penelitian ini memiliki implikasi penting bagi dunia medis, terutama dalam meningkatkan akurasi diagnosis penyakit langka pada perempuan. Dokter bedah, dokter umum, dan dokter kandungan perlu mempertimbangkan kemungkinan endometriosis ketika menemukan benjolan pusar yang mengalami perubahan mengikuti siklus menstruasi.

Selain membantu diagnosis lebih cepat, pengenalan dini juga penting untuk mencegah komplikasi. Literatur medis menyebut bahwa meskipun jarang, endometriosis umbilikalis dapat mengalami transformasi ganas menjadi kanker tertentu. Karena itu, pemeriksaan histopatologi tetap menjadi standar emas untuk memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat.

Laporan kasus ini memperkuat pentingnya integrasi pemeriksaan klinis, pencitraan radiologi, dan analisis jaringan dalam menangani kasus-kasus langka. Penanganan yang cepat dan tepat terbukti mampu memberikan hasil klinis optimal serta menekan risiko kekambuhan jangka panjang.

Profil Penulis

dr. Ismu Nugroho merupakan peneliti dan akademisi dari Universitas Airlangga yang memiliki fokus pada kajian kasus klinis dan penanganan penyakit bedah serta ginekologi. Dalam penelitian ini, ia menyoroti pentingnya kewaspadaan klinis terhadap manifestasi endometriosis yang tidak biasa, terutama pada perempuan usia perimenopause tanpa riwayat operasi sebelumnya.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Primary Umbilical Endometriosis in a 52-Year-Old Woman: A Case Report
Penulis: Ismu Nugroho
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 4, 2026

Posting Komentar

0 Komentar