Tata Kelola Sumber Daya Alam Berbasis Komunitas di Bali Adaptif Hadapi Tekanan Ekonomi Hijau Global

Created by AI

FORMOSA NEWS - Bali - Perubahan menuju ekonomi hijau global mendorong transformasi tata kelola sumber daya alam di Bali. Studi terbaru oleh I Gusti Ayu Lia Yasmita dari Universitas Tabanan (2026) mengungkap bagaimana komunitas lokal menyesuaikan aturan, ekonomi, dan kelembagaan agar tetap bertahan di tengah tuntutan keberlanjutan global. Temuan ini penting karena Bali menjadi contoh wilayah yang ekonominya bergantung pada sumber daya alam sekaligus pariwisata berkelanjutan.

Tekanan Ekonomi Hijau Mengubah Sistem Lokal

Dalam beberapa tahun terakhir, agenda ekonomi hijau menjadi prioritas global sebagai respons terhadap krisis iklim dan degradasi lingkungan. Standar keberlanjutan internasional, kebijakan pariwisata hijau, dan tuntutan pasar global kini memengaruhi cara masyarakat lokal mengelola sumber daya alam.

Wilayah seperti Bali menghadapi tantangan unik. Ekonomi lokal sangat bergantung pada alam, budaya, dan pariwisata. Ketika standar global meningkat, komunitas lokal harus menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan nilai sosial budaya.

Studi ini menyoroti bagaimana tata kelola berbasis komunitas mampu beradaptasi di tengah tekanan tersebut.

Bagaimana Penelitian Dilakukan

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Fokusnya adalah memahami dinamika perubahan kelembagaan dan strategi adaptasi komunitas.

Pengumpulan data dilakukan melalui:

  • Wawancara mendalam dengan 10 informan kunci
  • Observasi lapangan
  • Analisis dokumen seperti awig-awig (aturan adat), peraturan desa, dan kebijakan ekonomi hijau

Data kemudian dianalisis secara tematik menggunakan kerangka analisis kelembagaan dan adaptive governance untuk melihat pola perubahan aturan, interaksi aktor, serta kapasitas adaptasi komunitas.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggambarkan perubahan sosial dan kelembagaan secara mendalam.

Temuan Utama: Muncul Tata Kelola Hibrida

Penelitian menemukan bahwa tekanan ekonomi hijau global mendorong munculnya model tata kelola hibrida—kombinasi aturan formal pemerintah dan norma adat lokal.

1. Standar Keberlanjutan Memicu Transformasi Kelembagaan

Kebijakan pariwisata hijau dan standar keberlanjutan global mendorong perubahan pada aturan lokal. Komunitas mulai menyesuaikan regulasi untuk mendukung praktik ramah lingkungan.

Perubahan ini terlihat pada:

  • Penguatan aturan adat terkait pelestarian alam
  • Penyesuaian kebijakan desa dengan prinsip keberlanjutan
  • Integrasi aturan lokal dengan kebijakan pemerintah

2. Komunitas Menunjukkan Kapasitas Adaptasi Tinggi

Masyarakat lokal tidak hanya mengikuti kebijakan global, tetapi juga aktif beradaptasi melalui berbagai strategi:

  • Modifikasi aturan adat agar sesuai dengan standar keberlanjutan
  • Diversifikasi ekonomi berbasis sumber daya lokal
  • Pembangunan jaringan kolaborasi antar pemangku kepentingan

Adaptasi ini menunjukkan kemampuan komunitas untuk tetap relevan tanpa kehilangan identitas lokal.

3. Diversifikasi Ekonomi Jadi Strategi Bertahan

Komunitas mulai mengembangkan kegiatan ekonomi baru yang lebih ramah lingkungan, seperti:

  • Pariwisata berbasis komunitas
  • Produk lokal berkelanjutan
  • Inisiatif ekonomi kreatif berbasis budaya

Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam secara langsung.

4. Kolaborasi Antar Aktor Semakin Penting

Penelitian menemukan meningkatnya kerja sama antara:

  • Pemerintah daerah
  • Komunitas adat
  • Pelaku usaha
  • Organisasi lingkungan

Kolaborasi ini menciptakan jaringan tata kelola yang lebih kuat dan inklusif.

5. Tensi antara Pasar dan Budaya Masih Ada

Meski adaptif, komunitas tetap menghadapi konflik antara tuntutan pasar global dan nilai sosial budaya lokal. Tantangan ini menjadi bagian dari proses transisi menuju ekonomi hijau yang lebih inklusif.

Penulis menegaskan bahwa komunitas Bali menunjukkan ketahanan dengan “menyelaraskan struktur otoritas tradisional dengan tuntutan ekonomi-lingkungan modern.”

Dampak bagi Masyarakat dan Kebijakan

Temuan penelitian ini memiliki implikasi luas.

Bagi masyarakat lokal

Model tata kelola berbasis komunitas terbukti mampu:

  • Menjaga keberlanjutan lingkungan
  • Memperkuat ekonomi lokal
  • Melestarikan nilai budaya

Pendekatan ini memberi bukti bahwa keberlanjutan tidak harus mengorbankan identitas lokal.

Bagi pemerintah dan pembuat kebijakan

Penelitian ini menegaskan pentingnya kebijakan transisi hijau yang inklusif dan berbasis komunitas. Program keberlanjutan akan lebih efektif jika:

  • Mengakui peran institusi adat
  • Melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan
  • Menggabungkan aturan formal dan kearifan lokal

Bagi dunia akademik

Studi ini memperkaya teori adaptive governance dengan bukti empiris dari konteks Indonesia, khususnya dalam tata kelola sumber daya berbasis komunitas.

Profil Penulis

I Gusti Ayu Lia Yasmita, S.E., M.M.
Dosen Universitas Tabanan.
Bidang keahlian: tata kelola sumber daya alam, ekonomi lingkungan, dan adaptive governance.

Sumber Penelitian

Yasmita, I.G.A.L. (2026).
“The Dynamics of Community-Based Natural Resource Economic Governance in Responding to Global Green Economy Pressures.”
International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI), Vol. 4 No. 2, hlm. 151–162.

Posting Komentar

0 Komentar