Sebuah studi terbaru yang ditulis Muhammad Husein Maruapey dari Universitas Djuanda Bogor bersama Rajab Lestaluhu dari Universitas Muhammadiyah Sorong dan Mulyadi dari Universitas Djuanda mengungkap bahwa strategi Iran dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel lebih berorientasi pada bertahan hidup daripada ekspansi militer. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS) ini menjadi penting karena memberikan sudut pandang baru tentang konflik Timur Tengah yang selama ini sering dipahami secara sepihak.
Penelitian ini menjelaskan bahwa kebijakan Iran tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang intervensi asing, terutama kudeta tahun 1953 yang didukung Amerika Serikat dan Inggris. Peristiwa tersebut membentuk cara pandang Iran terhadap ancaman luar, yang tidak hanya berupa serangan militer, tetapi juga intervensi politik dan ekonomi. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran semakin menegaskan posisinya sebagai negara yang menolak dominasi asing dan berupaya menjaga kedaulatan politiknya.
Dalam konteks geopolitik modern, Iran berada dalam tekanan berlapis, mulai dari sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, hingga ancaman militer. Situasi ini mendorong Iran mengembangkan strategi yang tidak mengandalkan kekuatan militer konvensional, melainkan pendekatan yang lebih fleksibel dan efisien.
Strategi Tidak Simetris dan Biaya Rendah
Penelitian ini menemukan bahwa Iran menggunakan strategi “asymmetric warfare” atau perang tidak simetris. Artinya, Iran tidak mencoba menyaingi kekuatan militer Amerika Serikat atau Israel secara langsung. Sebaliknya, Iran mengandalkan:
- Rudal balistik
- Drone berbiaya rendah
- Jaringan sekutu regional (proxy)
- Operasi tidak langsung di kawasan
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan biaya konflik bagi lawan. Dengan sumber daya yang relatif lebih kecil, Iran mampu memaksa negara lawan mengeluarkan biaya besar untuk pertahanan dan respons militer.
Menurut Maruapey, strategi ini bukan bentuk agresi, melainkan cara realistis untuk bertahan dalam sistem internasional yang tidak memiliki jaminan keamanan. Negara yang lebih lemah, seperti Iran, cenderung memilih strategi yang memaksimalkan peluang bertahan daripada mengejar kemenangan mutlak.
Doktrin “Forward Defense”
Selain itu, Iran juga menerapkan konsep “forward defense”, yaitu menghadapi ancaman jauh dari wilayah inti negara. Strategi ini dilakukan dengan membangun pengaruh dan jaringan di kawasan Timur Tengah, sehingga konflik tidak langsung terjadi di dalam negeri.
Dengan cara ini, Iran menciptakan “kedalaman strategis” atau ruang pertahanan tambahan. Ancaman dapat dikelola lebih awal sebelum mencapai wilayah domestik. Studi ini menegaskan bahwa jaringan regional Iran bukan semata alat ekspansi, tetapi bagian dari sistem pertahanan yang diperluas.
Bukan Sekadar Militer, Tapi Identitas
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran identitas dan budaya strategis. Kebijakan Iran tidak hanya didorong oleh perhitungan militer, tetapi juga oleh faktor ideologis dan sejarah.
Pengalaman masa lalu, terutama intervensi asing, membentuk memori kolektif yang kuat. Iran melihat tekanan dari luar sebagai ancaman terhadap:
- Kedaulatan negara
- Identitas politik
- Nilai revolusi
- Stabilitas rezim
Dalam hal ini, strategi pertahanan menjadi bagian dari narasi nasional. Maruapey menyebut bahwa kebijakan seperti pengembangan rudal atau program nuklir tidak hanya soal teknologi, tetapi juga simbol kemandirian dan harga diri bangsa.
Peran “Martabat Nasional”
Penelitian ini juga menyoroti konsep “national dignity” atau martabat nasional sebagai faktor kunci. Bagi Iran, mempertahankan kebijakan strategis meskipun menghadapi sanksi berat dianggap sebagai bentuk menjaga kehormatan negara.
Hal ini menjelaskan mengapa Iran tetap mempertahankan program militernya meskipun menghadapi tekanan internasional yang besar. Keputusan tersebut tidak selalu efisien secara ekonomi, tetapi rasional dalam konteks identitas dan legitimasi politik.
Dampak dan Implikasi
Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi:
Maruapey menegaskan bahwa “strategi Iran bukan untuk memenangkan perang secara konvensional, tetapi memastikan lawan tidak bisa menekan mereka dengan biaya rendah.” Pendekatan ini menjelaskan mengapa Iran tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan global.
Profil Penulis
Muhammad Husein Maruapey adalah akademisi dari Universitas Djuanda Bogor yang memiliki keahlian di bidang hubungan internasional dan studi keamanan. Ia menulis bersama Rajab Lestaluhu dari Universitas Muhammadiyah Sorong, yang fokus pada kajian geopolitik kawasan, serta Mulyadi dari Universitas Djuanda yang meneliti strategi pertahanan dan kebijakan luar negeri.
Sumber Penelitian
Maruapey, Muhammad Husein; Lestaluhu, Rajab; Mulyadi. 2026. Iran’s Strategic Responses to Pressure from the United States and Israel in Contemporary Conflict. International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 4, halaman 315–330. DOI: https://doi.org/10.59890/ijarss.v4i4.229

0 Komentar