Salinitas Tinggi Hambat Pertumbuhan Padi Lokal Tapanuli Selatan Sejak Fase Awal

Ilustrasi by AI

Penelitian tahun 2026 oleh Dahrul Faiz Sormin bersama Rasmita Adelina, Burhanuddin, Yusriani Nasution, dan Nggelem Ginting dari Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan mengungkap bahwa peningkatan kadar garam secara signifikan menghambat pertumbuhan padi lokal sejak fase vegetatif awal. Studi yang dilakukan pada Mei–Juli 2025 ini penting karena memberikan gambaran awal tentang ketahanan varietas padi lokal terhadap ancaman salinitas yang semakin meluas akibat perubahan lingkungan.

Masalah salinitas menjadi tantangan serius bagi pertanian, terutama di wilayah pesisir dan lahan rendah yang rentan terhadap intrusi air laut. Bahkan, dampaknya kini mulai meluas ke lahan non-pesisir akibat degradasi tanah dan pengelolaan air yang kurang optimal. Di tengah kondisi ini, varietas padi lokal dinilai memiliki potensi adaptasi, namun masih minim data ilmiah terkait ketahanannya terhadap tekanan garam.

Penelitian dilakukan di rumah kaca dengan menguji empat varietas padi, yaitu Inpari 49, Siporang, Silatihan, dan Silottik, pada tiga tingkat salinitas berbeda (0, 3, dan 6 gram per liter NaCl). Pertumbuhan tanaman diamati melalui beberapa indikator sederhana seperti tinggi tanaman, jumlah daun, daya kecambah, dan kadar klorofil.

Hasil utama penelitian menunjukkan:

  • Salinitas tinggi menurunkan tinggi tanaman dan jumlah daun secara signifikan
  • Indeks klorofil menurun seiring meningkatnya kadar garam
  • Semua varietas mengalami penurunan pertumbuhan pada kondisi salin
  • Setiap varietas menunjukkan respons adaptasi yang berbeda
  • Tidak ada varietas yang benar-benar tahan terhadap salinitas tinggi

Temuan ini menegaskan bahwa tekanan salinitas menjadi faktor utama yang membatasi pertumbuhan padi, terutama pada fase vegetatif yang krusial bagi pembentukan akar, batang, dan daun.

Dahrul Faiz Sormin dari Universitas Graha Nusantara menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan mencerminkan terganggunya proses fisiologis tanaman, termasuk fotosintesis. Ia menekankan bahwa meskipun varietas lokal memiliki variasi genetik yang memungkinkan adaptasi, ketahanannya masih terbatas pada tingkat salinitas tertentu.

Implikasi penelitian ini sangat penting bagi sektor pertanian. Bagi petani, hasil ini menjadi peringatan untuk lebih selektif dalam memilih varietas di lahan dengan risiko salinitas tinggi. Bagi peneliti dan pemulia tanaman, varietas lokal yang menunjukkan adaptasi lebih baik dapat dikembangkan sebagai sumber genetik untuk menghasilkan padi tahan salinitas. Sementara bagi pemerintah, temuan ini dapat menjadi dasar dalam merancang strategi ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lahan.

Profil Penulis

  • Dahrul Faiz Sormin - Universitas Graha Nusantara 
  • Rasmita Adelina - Universitas Graha Nusantara 
  • Burhanuddin - Universitas Graha Nusantara 
  • Yusriani Nasution-Universitas Graha Nusantara 
  • Nggelem Ginting -Universitas Graha Nusantara 

Sumber Penelitian

Sormin, D. F., Adelina, R., Burhanuddin, Nasution, Y., & Ginting, N. (2026). Salinity Stress Test for Several Local Rice Varieties from South Tapanuli During the Vegetative Phase. International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 3, hlm. 283–292.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i3.297

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

Posting Komentar

0 Komentar