Risiko Rantai Pasok Obat Rumah Sakit Terungkap, Tekanan Waktu dan Kekurangan Staf Jadi Faktor Utama

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surakarta - Ketersediaan obat di rumah sakit tidak hanya soal stok, tetapi juga soal sistem yang kompleks dan rentan gangguan. Penelitian terbaru oleh Viktorda S. Noti, Jason Merari Peranginangin, dan Iswandi dari Program Magister Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta (2026) mengungkap berbagai risiko dalam rantai pasok obat di instalasi farmasi sebuah rumah sakit di Surakarta. Temuan ini penting karena gangguan kecil dalam distribusi obat dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien dan kualitas layanan kesehatan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology ini memetakan risiko rantai pasok obat sekaligus menentukan strategi mitigasi yang paling efektif. Dengan menggunakan kombinasi metode SCOR (Supply Chain Operations Reference) dan House of Risk (HOR), tim peneliti berhasil mengidentifikasi titik-titik rawan dalam proses pengelolaan obat—mulai dari perencanaan hingga distribusi ke pasien.

Masalah Lama: Ketersediaan Obat yang Tidak Stabil

Dalam praktik sehari-hari, instalasi farmasi rumah sakit menghadapi berbagai tantangan seperti keterlambatan pengadaan, kekosongan stok, hingga kendala sistem e-katalog nasional. Kondisi ini tidak hanya memperlambat pelayanan, tetapi juga berpotensi mengganggu terapi pasien.

Penelitian ini menegaskan bahwa rantai pasok obat mencakup banyak tahapan yang saling bergantung: perencanaan kebutuhan, pengadaan dari distributor, penyimpanan, peracikan, distribusi, hingga pengelolaan retur. Gangguan pada satu tahap dapat merambat ke tahap lain.

“Rantai pasok farmasi di rumah sakit memiliki konsekuensi klinis, bukan sekadar logistik,” tulis Viktorda S. Noti dari Universitas Setia Budi dalam laporan penelitiannya.

Metode Sederhana, Hasil Terarah

Penelitian ini melibatkan empat apoteker berpengalaman yang menangani langsung proses rantai pasok obat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan kuesioner terstruktur.

Metode SCOR digunakan untuk memetakan alur kerja menjadi lima tahap utama:

  • Plan (perencanaan)
  • Source (pengadaan)
  • Make (peracikan)
  • Deliver (distribusi)
  • Return (pengembalian)

Sementara itu, metode House of Risk digunakan untuk:

  • Mengidentifikasi sumber risiko utama
  • Mengukur tingkat keparahan dan kemungkinan risiko
  • Menentukan prioritas tindakan mitigasi

Pendekatan ini memungkinkan manajemen rumah sakit tidak hanya mengetahui risiko, tetapi juga langsung memiliki daftar tindakan prioritas.

21 Risiko Ditemukan, Ini yang Paling Kritis

Penelitian ini mengidentifikasi total 21 kejadian risiko dan 21 sumber risiko di seluruh rantai pasok obat. Namun, beberapa faktor muncul sebagai penyebab utama gangguan:

  • Tekanan waktu dalam kondisi darurat
  • Kekurangan tenaga farmasi
  • Birokrasi yang lambat
  • Gangguan berulang pada sistem e-katalog
  • Sistem informasi rumah sakit (SIMRS) yang belum optimal
  • Komunikasi lemah dengan distributor

Dua faktor pertama tekanan waktu dan kekurangan staf dikategorikan sebagai risiko paling ekstrem. Kombinasi keduanya meningkatkan kemungkinan kesalahan peracikan, keterlambatan layanan, hingga penumpukan resep.

Menariknya, risiko tidak hanya terjadi di tahap pengadaan, tetapi juga di tahap peracikan dan distribusi yang langsung berdampak pada pasien.

Strategi Solusi: Koordinasi Jadi Kunci

Penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi masalah. Tim juga merumuskan strategi mitigasi yang paling efektif berdasarkan rasio efektivitas dan kemudahan implementasi.

Berikut prioritas solusi yang direkomendasikan:

  1. Koordinasi rutin antar unit dan standar kualitas layanan baru
  2. Penambahan tenaga farmasi sesuai beban kerja
  3. Peningkatan komunikasi dengan distributor
  4. Penjadwalan pelatihan dan perluasan layanan farmasi
  5. Pelaporan resmi masalah e-katalog ke pemerintah
  6. Penguatan sistem informasi rumah sakit (SIMRS)

Strategi pertama menjadi yang paling efektif karena menyasar langsung akar masalah: kurangnya koordinasi dan lambatnya pengambilan keputusan.

Menurut Jason Merari Peranginangin dari Universitas Setia Budi, “Koordinasi lintas unit dan eskalasi masalah ke pimpinan menjadi langkah paling cepat untuk mengurangi hambatan operasional.”

Dampak Nyata bagi Layanan Kesehatan

Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan. Beberapa dampak pentingnya antara lain:

  • Peningkatan keselamatan pasien melalui pengurangan kesalahan layanan
  • Efisiensi operasional dalam pengelolaan obat
  • Penguatan sistem digital kesehatan seperti e-prescribing
  • Perbaikan hubungan dengan distributor obat
  • Dasar kebijakan untuk reformasi pengadaan farmasi

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa investasi pada sumber daya manusia dan sistem informasi sama pentingnya dengan pengadaan obat itu sendiri.

Profil Penulis

  • Viktorda S. Noti, S.Farm. – Peneliti utama, mahasiswa Magister Farmasi, Universitas Setia Budi; fokus pada manajemen farmasi dan rantai pasok

  • Jason Merari Peranginangin, S.Farm., M.Farm. – Akademisi dan peneliti di Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi; spesialis manajemen farmasi klinis

  • Iswandi, S.Farm., M.Farm. – Dosen dan praktisi farmasi; fokus pada sistem pelayanan farmasi rumah sakit

Sumber Penelitian

Noti, V. S., Peranginangin, J. M., & Iswandi. (2026). Risk Mitigation Design for the Drug Supply Chain at the Pharmacy Installation of Hospital X in Surakarta Using the SCOR and House of Risk Methods. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5(4), 1007–1014.


Penelitian ini menegaskan bahwa tantangan utama dalam layanan farmasi rumah sakit bukan hanya pada ketersediaan obat, tetapi pada bagaimana sistem bekerja secara terintegrasi. Tanpa koordinasi yang kuat dan dukungan sistem yang memadai, risiko akan terus muncul—dan pasien menjadi pihak yang paling terdampak.

Posting Komentar

0 Komentar