Risiko Bisnis Jadi Penentu Utama Kinerja Keuangan Perusahaan Makanan dan Minuman

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Bandung - Kinerja keuangan perusahaan makanan dan minuman di Indonesia dipengaruhi signifikan oleh risiko bisnis, sementara rasio utang dan ukuran perusahaan tidak memberikan dampak berarti secara individu. Temuan ini diungkap dalam penelitian oleh Aria Aji Priyanto bersama Jaja Suteja, Dedi Mulyadi, Horas Djulius, dan Liza Laila Nurwulan dari Universitas Pasundan, yang menganalisis data perusahaan sektor tersebut di Bursa Efek Indonesia periode 2015–2024 . Studi ini penting karena memberikan gambaran faktor utama yang menentukan kesehatan finansial perusahaan di industri yang terus berkembang.

Industri makanan dan minuman mengalami perkembangan pesat seiring kemajuan teknologi pangan dan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk sehat. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, kinerja keuangan perusahaan dalam sektor ini menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun. Berdasarkan grafik pada halaman 3, kinerja keuangan sempat menurun pada 2015–2016 akibat turunnya laba bersih, kemudian meningkat pada 2016–2017 sebelum kembali berfluktuasi di tahun-tahun berikutnya .

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik. Sampel penelitian mencakup perusahaan makanan dan minuman yang memenuhi kriteria tertentu selama periode pengamatan 10 tahun.

Secara sederhana, penelitian ini menguji tiga faktor utama yang diduga memengaruhi kinerja keuangan, yaitu risiko bisnis, rasio utang, dan ukuran perusahaan. Risiko bisnis diukur melalui kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasional terhadap total aset, rasio utang menggambarkan proporsi utang terhadap aset, sementara ukuran perusahaan dihitung berdasarkan total aset.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko bisnis memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Artinya, perusahaan dengan kemampuan operasional yang baik dan mampu mengelola risiko bisnis secara efektif cenderung memiliki kinerja keuangan yang lebih kuat. Nilai koefisien yang tinggi pada variabel ini menegaskan bahwa faktor operasional menjadi penentu utama keberhasilan finansial.

Sebaliknya, rasio utang tidak terbukti memberikan pengaruh signifikan secara parsial. Meskipun utang sering dianggap sebagai alat untuk meningkatkan ekspansi bisnis, dalam konteks penelitian ini, penggunaan utang tidak secara langsung meningkatkan kinerja keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur modal berbasis utang tidak selalu menjadi strategi yang efektif bagi perusahaan makanan dan minuman.

Ukuran perusahaan juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Perusahaan dengan aset besar tidak selalu memiliki performa yang lebih baik dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa skala perusahaan bukan jaminan utama dalam menghasilkan keuntungan.

Namun, ketika ketiga variabel dianalisis secara bersama-sama, hasilnya menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja keuangan. Hal ini dibuktikan oleh uji simultan (F-test) dengan nilai signifikansi yang sangat kecil, menandakan bahwa kombinasi ketiga faktor tetap memiliki peran dalam menjelaskan kinerja perusahaan.

Penelitian ini juga menunjukkan tingkat kontribusi yang sangat tinggi dari ketiga variabel tersebut terhadap kinerja keuangan. Nilai koefisien determinasi mencapai 95,4 persen, yang berarti sebagian besar variasi kinerja keuangan dapat dijelaskan oleh risiko bisnis, rasio utang, dan ukuran perusahaan, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian .

Implikasi dari temuan ini cukup penting bagi pelaku industri dan pengambil kebijakan. Perusahaan disarankan untuk lebih fokus pada pengelolaan risiko bisnis dan peningkatan efisiensi operasional dibandingkan hanya mengandalkan pembiayaan utang atau ekspansi ukuran aset. Pengelolaan risiko yang baik dapat membantu menjaga stabilitas keuangan dan meningkatkan profitabilitas.

Bagi investor, hasil penelitian ini memberikan wawasan bahwa indikator operasional seperti kemampuan menghasilkan laba dari aset lebih relevan dalam menilai kinerja perusahaan dibandingkan sekadar melihat ukuran perusahaan atau tingkat utang. Sementara itu, bagi pemerintah dan regulator, temuan ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang mendukung stabilitas sektor industri makanan dan minuman.

Menurut Aria Aji Priyanto dari Universitas Pasundan, kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko bisnis menjadi faktor kunci dalam menjaga kinerja keuangan yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa strategi operasional yang efisien lebih penting dibandingkan sekadar memperbesar skala usaha atau meningkatkan leverage.

Profil Penulis
Aria Aji Priyanto merupakan akademisi di Universitas Pasundan dengan fokus pada manajemen keuangan dan kinerja perusahaan. Penelitian ini juga melibatkan Jaja Suteja, Dedi Mulyadi, Horas Djulius, dan Liza Laila Nurwulan, yang memiliki keahlian di bidang ekonomi, akuntansi, dan manajemen bisnis.

Sumber Penelitian
Priyanto, Aria Aji, et al. (2026). The Effects of Business Risk, Debt Ratio, and Company Size on Corporate Financial Performance (A Study of Food and Beverage Companies Listed on the Indonesian Stock Exchange From 2015 to 2024). Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 4, 1295–1304. DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i4.65, URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar