Pengaruh Target Keuangan, Komisaris Independen, Perubahan Auditor, Perubahan Direksi, Kepemilikan Manajerial, dan Kredit Macet terhadap Potensi FFS di Perbankan Indonesia

Illustration by Ai


Kepemilikan Manajerial Jadi Faktor Utama Risiko Manipulasi Laporan Keuangan Bank

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Annisa Fitriyani, Wiralestari, dan Aulia Beatrice Brilliant dari Universitas Jambi mengungkap bahwa kepemilikan saham oleh manajemen menjadi faktor paling berpengaruh terhadap potensi manipulasi laporan keuangan di sektor perbankan Indonesia. Studi ini dipublikasikan pada 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) dan menyoroti pentingnya struktur kepemilikan dalam menjaga integritas laporan keuangan bank.

Riset ini menganalisis 29 bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021 hingga 2024. Temuan ini menjadi penting karena sektor perbankan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, sehingga setiap indikasi kecurangan dapat berdampak luas terhadap kepercayaan publik dan stabilitas sistem keuangan.

Latar Belakang: Risiko Fraud di Tengah Kompleksitas Perbankan

Industri perbankan Indonesia terus berkembang dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi. Persaingan ketat, fluktuasi ekonomi, serta tekanan untuk mencapai kinerja finansial tertentu membuka peluang terjadinya kecurangan, khususnya dalam bentuk fraudulent financial statements atau manipulasi laporan keuangan.

Kasus-kasus kredit fiktif dan manipulasi data keuangan yang terungkap dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lemahnya tata kelola dan pengawasan internal masih menjadi celah utama terjadinya fraud. Dalam konteks ini, penelitian dari Universitas Jambi mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang benar-benar berpengaruh terhadap risiko tersebut.

Metodologi: Analisis 116 Data Bank dengan Regresi Logistik

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan bank. Total terdapat 116 observasi yang dianalisis menggunakan metode regresi logistik, karena variabel dependen berupa kategori—apakah suatu bank terindikasi melakukan kecurangan atau tidak.

Variabel yang diuji meliputi:

  • Target keuangan (ROA)
  • Komisaris independen
  • Pergantian auditor
  • Pergantian direksi
  • Kepemilikan manajerial
  • Non-performing loans (NPL)

Untuk mendeteksi potensi kecurangan, peneliti menggunakan model F-Score yang menggabungkan indikator kualitas akrual dan kinerja keuangan.

Temuan Utama: Hanya Kepemilikan Manajerial yang Signifikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama, semua variabel memang berpengaruh terhadap potensi kecurangan laporan keuangan. Namun, ketika diuji secara individu, hanya satu faktor yang terbukti signifikan: kepemilikan manajerial.

Berikut ringkasan temuan utama:

  • Kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap potensi fraud
  • Target keuangan (ROA) tidak berpengaruh signifikan
  • Komisaris independen tidak berpengaruh signifikan
  • Pergantian auditor tidak berpengaruh signifikan
  • Pergantian direksi tidak berpengaruh signifikan
  • Non-performing loans (NPL) tidak berpengaruh signifikan

Koefisien regresi menunjukkan bahwa semakin besar kepemilikan saham oleh manajemen, semakin tinggi potensi terjadinya manipulasi laporan keuangan.

Mengapa Kepemilikan Manajerial Berisiko?

Menurut Annisa Fitriyani dari Universitas Jambi, kepemilikan saham oleh manajemen memang dapat menyelaraskan kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Namun, dalam praktiknya, kepemilikan yang terlalu besar justru dapat menciptakan dominasi kekuasaan.

“Ketika manajemen memiliki kendali yang besar, mereka berpotensi mengabaikan mekanisme pengawasan dan melakukan manipulasi demi menjaga nilai saham atau citra kinerja perusahaan,” jelas Fitriyani dalam analisisnya.

Temuan ini sejalan dengan konsep Fraud Hexagon Theory, khususnya pada dimensi arrogance atau kesombongan kekuasaan, di mana individu dengan kontrol tinggi merasa mampu mengendalikan sistem tanpa terdeteksi.

Faktor Lain Tidak Terbukti Berpengaruh

Menariknya, faktor-faktor yang selama ini dianggap penting justru tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Misalnya:

  • Target keuangan tidak mendorong manajemen untuk memanipulasi laporan
  • Kehadiran komisaris independen belum tentu efektif dalam mencegah fraud
  • Pergantian auditor dan direksi lebih bersifat administratif, bukan indikator kecurangan
  • Tingginya kredit bermasalah (NPL) tidak selalu berarti adanya manipulasi

Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme tata kelola formal belum tentu efektif jika tidak diimbangi dengan integritas individu dalam manajemen.

Implikasi: Pentingnya Pengawasan Struktur Kepemilikan

Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi regulator, investor, dan manajemen perusahaan.

Bagi regulator, temuan ini menegaskan pentingnya:

  • Mengawasi struktur kepemilikan saham manajemen
  • Memperkuat regulasi terkait transparansi kepemilikan
  • Meningkatkan pengawasan internal di sektor perbankan

Bagi investor, kepemilikan manajerial dapat menjadi indikator risiko yang perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.

Sementara itu, bagi perusahaan, hasil ini menjadi pengingat bahwa tata kelola yang baik tidak hanya bergantung pada struktur formal, tetapi juga pada keseimbangan kekuasaan dalam organisasi.

Profil Penulis

  • Annisa Fitriyani, S.E. – Peneliti di bidang akuntansi dan fraud detection, Universitas Jambi
  • Wiralestari, S.E., M.Si. – Dosen dan peneliti di bidang akuntansi keuangan, Universitas Jambi
  • Aulia Beatrice Brilliant, S.E., M.Ak. – Akademisi di bidang auditing dan tata kelola perusahaan, Universitas Jambi

Ketiga penulis memiliki fokus penelitian pada fraud, corporate governance, dan analisis laporan keuangan.

Sumber Penelitian

Fitriyani, A., Wiralestari, & Brilliant, A. B. (2026). The Influence of Financial Targets, Independent Commissioner, Change in Auditor, Change in Director, Managerial Ownership, and Non-Performing Loans on the Potential for Fraudulent Financial Statements in Indonesian Banking
Vol. 6 No. 3.


Posting Komentar

0 Komentar