Pemberdayaan Lansia dan Keluarga Tingkatkan Kepatuhan Prolanis di Sulawesi Utara

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Manado - Program pemberdayaan lansia dan keluarga yang dilakukan oleh Michelle Kairupan dan tim dari Fakultas Keperawatan Universitas Pembangunan Indonesia Manado pada 2026 menunjukkan hasil nyata dalam meningkatkan kepatuhan peserta terhadap Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Kegiatan ini dilaksanakan di Puskesmas Motoling Barat, Sulawesi Utara, dan dinilai penting karena kepatuhan lansia terhadap pengelolaan penyakit kronis masih menjadi tantangan besar di Indonesia.

Penelitian ini berangkat dari masalah utama rendahnya pengetahuan dan efikasi diri lansia dalam mengelola penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Padahal, jumlah lansia di Indonesia terus meningkat setiap tahun, sehingga risiko penyakit tidak menular juga ikut bertambah. Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dapat memperburuk kualitas hidup lansia serta meningkatkan beban sistem kesehatan.

Prolanis sendiri merupakan program yang dikembangkan oleh BPJS Kesehatan untuk membantu pasien dengan penyakit kronis melalui pendekatan promotif dan preventif. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif peserta, yang sering kali terkendala oleh kurangnya motivasi, pengetahuan, dan dukungan keluarga.

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti mengembangkan pendekatan pemberdayaan berbasis keluarga. Program ini melibatkan 30 peserta yang terdiri dari lansia dan anggota keluarga mereka. Metode yang digunakan mencakup edukasi kesehatan, pelatihan, diskusi interaktif, simulasi, serta pendampingan secara personal.

Pelaksanaan kegiatan dibagi dalam beberapa tahap. Pada tahap awal, tim melakukan koordinasi dengan pihak puskesmas, menyusun materi edukasi, dan merekrut peserta. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan, peserta diberikan edukasi tentang penyakit kronis, pentingnya kepatuhan pengobatan, serta peran keluarga dalam mendukung lansia.

Diskusi interaktif menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Melalui sesi ini, terungkap berbagai kendala yang sering dialami lansia, seperti lupa jadwal kontrol, kurang disiplin minum obat, hingga minimnya dukungan dari keluarga. Untuk mengatasi hal tersebut, peserta juga dilibatkan dalam simulasi dan role play, yang membantu keluarga memahami cara mendampingi lansia secara efektif.

Pendampingan individu atau coaching menjadi salah satu strategi kunci. Melalui pendekatan ini, lansia didorong untuk lebih percaya diri dalam mengelola kondisi kesehatannya. Efikasi diri yang meningkat terbukti berpengaruh langsung terhadap kepatuhan dalam mengikuti program.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh indikator utama. Sebelum intervensi, sebagian besar peserta memiliki pengetahuan rendah tentang Prolanis. Setelah program berjalan, sebanyak 83,3% peserta masuk dalam kategori pengetahuan baik.

Efikasi diri lansia juga mengalami peningkatan. Jika sebelumnya mayoritas berada pada kategori rendah, setelah intervensi sebanyak 80% peserta berada pada kategori sedang dan menunjukkan peningkatan kepercayaan diri. Dampak paling nyata terlihat pada tingkat kepatuhan. Sebelum program, 70% peserta tergolong kurang patuh. Setelah intervensi, 86,7% peserta menunjukkan peningkatan kepatuhan dan lebih rutin mengikuti kegiatan Prolanis.

Data karakteristik peserta menunjukkan bahwa sebagian besar lansia berada pada usia 60–69 tahun dan didominasi oleh perempuan. Mayoritas memiliki tingkat pendidikan dasar dan tidak bekerja, dengan penyakit yang paling umum adalah hipertensi. Kondisi ini menggambarkan kelompok rentan yang membutuhkan pendekatan edukasi yang sederhana dan mudah dipahami.

Temuan ini memperkuat pentingnya peran keluarga dalam mendukung kesehatan lansia. Keluarga tidak hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi juga sebagai sumber motivasi dan pengingat dalam menjalankan pengobatan. Lansia yang mendapatkan dukungan keluarga cenderung lebih aktif dan disiplin dalam mengikuti program kesehatan.

Michelle Kairupan dan timnya menegaskan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program ini. “Ketika lansia dan keluarga dilibatkan secara aktif, mereka tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mampu mengubah perilaku kesehatan secara nyata,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Selain itu, pembentukan kelompok dukungan (support group) menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan program. Melalui kelompok ini, lansia dan keluarga dapat saling berbagi pengalaman, memberikan motivasi, serta membangun kebiasaan sehat secara bersama-sama.

Dari sisi kebijakan, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi fasilitas kesehatan. Puskesmas diharapkan tidak hanya fokus pada layanan kuratif, tetapi juga memperkuat program edukasi dan pemberdayaan berbasis keluarga. Pendampingan berkelanjutan juga diperlukan untuk memastikan perubahan perilaku tetap terjaga dalam jangka panjang.

Bagi masyarakat, penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan penyakit kronis tidak bisa dilakukan secara individu. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi faktor penentu keberhasilan. Sementara bagi dunia pendidikan dan tenaga kesehatan, pendekatan partisipatif dapat menjadi model intervensi yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup lansia.

Profil Penulis
Michelle Kairupan, bersama Olvin Manengkey, Verra Karame, Esther Lontoh, Drova Manorek, dan Rivani Muntu merupakan akademisi dari Fakultas Keperawatan Universitas Pembangunan Indonesia Manado. Mereka memiliki keahlian di bidang keperawatan komunitas, kesehatan lansia, dan pemberdayaan masyarakat berbasis kesehatan.

Sumber Penelitian
Kairupan, M., Manengkey, O., Karame, V., Lontoh, E., Manorek, D., & Muntu, R. (2026). Empowering Older Adults and Their Families to Enhance Self-Efficacy in Support of Prolanis Program Adherence at the Motoling Barat Community Health Center. Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5(1), 55–66. DOI: https://doi.org/10.55927/jpp.v5i1.8, URL: https://journaljpp.my.id/index.php/jpp

Posting Komentar

0 Komentar