Pelatihan Keamanan Pangan TESDA-ISAT Terhambat Waktu dan Fasilitas

Ilustrasi by AI

ILAGAN CITY — Penelitian dari Isabela School of Arts and Trades di bawah Technical Education and Skills Development Authority (TESDA) mengungkap bahwa implementasi pelatihan keamanan pangan di lembaga vokasi masih menghadapi kendala serius, terutama keterbatasan waktu, fasilitas, dan dukungan sumber daya. Studi ini juga melibatkan kontribusi akademik dari Pangal Sur High School, yang memperkuat perspektif administratif dalam analisis program pelatihan.

Penelitian yang dilakukan oleh Leigh Belle A. Manaligod dan Celso C. Dumalig ini dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) 2026 dan meneliti hambatan serta faktor pendukung implementasi pelatihan keamanan pangan di TESDA–ISAT berdasarkan perspektif pelatih dan administrator.

Menggunakan pendekatan mixed methods, penelitian melibatkan 30 responden yang terdiri dari instruktur bersertifikat TESDA dan pengelola program pelatihan. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun pelatihan berjalan cukup efektif, berbagai faktor struktural masih membatasi dampaknya terhadap kesiapan tenaga kerja sektor pangan.

Keterbatasan Waktu dan Beban Kerja Jadi Hambatan Utama

Salah satu temuan paling menonjol adalah keterbatasan waktu pelatihan yang menyebabkan materi keamanan pangan tidak dapat disampaikan secara optimal. Banyak instruktur juga menjalankan tugas administratif tambahan sehingga proses pembelajaran menjadi terburu-buru.

Selain itu, kurangnya peralatan laboratorium dapur dan materi pelatihan yang mutakhir turut menghambat efektivitas pembelajaran praktik. Responden penelitian secara umum menyatakan bahwa faktor-faktor ini berpengaruh langsung terhadap kualitas pelatihan.

Data survei menunjukkan nilai rata-rata persepsi hambatan mencapai 4,02 (kategori setuju), menandakan bahwa sebagian besar responden mengakui adanya kendala signifikan dalam implementasi pelatihan keamanan pangan di institusi tersebut (lihat tabel hasil pada halaman 465).

Hambatan lain yang muncul meliputi keterbatasan akses informasi terbaru tentang standar keamanan pangan serta rendahnya akses terhadap perangkat pembelajaran digital.

Dukungan Administrasi Jadi Faktor Penguat Program

Meski menghadapi banyak kendala, penelitian juga menemukan sejumlah faktor pendukung penting. Dukungan administratif menjadi faktor paling dominan dengan skor tertinggi 4,30, menunjukkan bahwa pimpinan institusi berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan program pelatihan (lihat tabel halaman 466).

Motivasi instruktur juga menjadi kekuatan utama. Banyak pelatih tetap berkomitmen memberikan pengajaran berkualitas meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas.

Selain itu, implementasi pedoman TESDA yang relatif jelas serta adanya kerja sama antarbagian institusi membantu menjaga konsistensi program pelatihan.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan organisasi mitra juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelatihan, meskipun dukungan eksternal ini belum merata di semua kegiatan.

Pembelajaran Praktik Jadi Kunci Efektivitas Pelatihan

Penelitian menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis simulasi dan tugas nyata merupakan komponen paling efektif dalam meningkatkan kompetensi peserta. Pendekatan praktik langsung dinilai lebih berhasil dibanding metode pembelajaran teoritis semata.

Responden memberikan nilai tertinggi pada indikator penggunaan simulasi kerja nyata dengan skor 4,25, yang menegaskan pentingnya model pelatihan berbasis kompetensi dalam pendidikan vokasi (lihat tabel halaman 468).

Namun demikian, sistem evaluasi pelatihan masih perlu diperkuat agar mampu mengukur dampak pembelajaran secara lebih komprehensif.

Kendala Kebijakan dan Anggaran Masih Dominan

Di tingkat kelembagaan, keterbatasan anggaran menjadi tantangan paling besar dalam implementasi pelatihan keamanan pangan. Responden menilai bahwa pembaruan fasilitas laboratorium dan peralatan pelatihan sering terhambat oleh keterbatasan dana.

Selain itu, minimnya keterlibatan instruktur dalam proses perencanaan program serta ketidaksesuaian antara kebijakan nasional dan kondisi lokal juga memengaruhi efektivitas pelatihan.

Masalah akses transportasi dan internet di wilayah tertentu turut menjadi hambatan tambahan, terutama bagi peserta dari daerah terpencil.

Secara keseluruhan, skor rata-rata tantangan kelembagaan mencapai 4,07, menunjukkan bahwa hambatan struktural masih menjadi faktor dominan dalam implementasi program pelatihan keamanan pangan (lihat tabel halaman 469).

Fondasi Kuat untuk Penguatan Pelatihan Vokasi Keamanan Pangan

Meski menghadapi berbagai kendala, penelitian ini menegaskan bahwa pelatihan keamanan pangan di TESDA–ISAT tetap berjalan efektif dan memiliki fondasi institusional yang kuat untuk ditingkatkan lebih lanjut.

Penguatan fasilitas, peningkatan pelatihan profesional instruktur, serta peningkatan koordinasi kebijakan dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelatihan di masa depan.

Temuan ini penting tidak hanya bagi TESDA–ISAT, tetapi juga bagi lembaga pendidikan vokasi lainnya di kawasan Asia Tenggara yang menghadapi tantangan serupa dalam menyiapkan tenaga kerja sektor pangan yang kompeten dan aman secara higienis.

Leigh Belle A. Manaligod & Celso C. Dumalig
Isabela School of Arts and Trades (TESDA) & Pangal Sur High School

Posting Komentar

0 Komentar