Pendampingan Guru PAUD Tingkatkan Pembelajaran Aktif dan Karakter Anak di Desa Peley
Program pendampingan guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa Peley, Sulawesi Tengah, terbukti meningkatkan kualitas pembelajaran dan perkembangan karakter anak. Studi yang dilakukan oleh Hasna Koba’a, Artika Sri Devi Bungalim, dan Rani Julianti Solodi dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai ini dipublikasikan pada 2026 dalam Indonesian Journal of Society Development. Hasilnya menunjukkan bahwa pendampingan guru secara sistematis mampu mengubah pembelajaran menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan berdampak langsung pada kemampuan serta kepribadian anak.
Penelitian ini menjadi penting karena banyak lembaga PAUD, terutama di daerah, masih menghadapi tantangan dalam menerapkan pembelajaran aktif. Metode mengajar yang cenderung konvensional membuat anak kurang terlibat, padahal masa usia dini merupakan fase krusial untuk perkembangan kognitif, sosial, dan emosional.
Tantangan Pembelajaran di PAUD
Di banyak kelas PAUD, guru masih berperan sebagai pemberi materi, bukan fasilitator pembelajaran. Akibatnya, aktivitas belajar sering berfokus pada instruksi satu arah, bukan eksplorasi anak. Padahal, pendekatan pembelajaran aktif berbasis permainan terbukti lebih efektif dalam meningkatkan motivasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis anak.
Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menemukan bahwa guru di PAUD Amaliyah Peley awalnya kesulitan menghubungkan aktivitas bermain dengan tujuan pembelajaran. Rencana pembelajaran lebih menekankan hiburan daripada pengembangan kemampuan anak. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendampingan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan berkelanjutan.
Pendekatan Pendampingan yang Sistematis
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengamati langsung kegiatan belajar di kelas, melakukan wawancara mendalam dengan guru, serta menganalisis dokumen pembelajaran.
Pendampingan dilakukan melalui beberapa tahap utama:
- Perencanaan: Mengidentifikasi kebutuhan guru dan menyusun materi pembelajaran aktif
- Pelaksanaan: Simulasi kegiatan bermain, integrasi literasi, dan praktik langsung di kelas
- Refleksi: Evaluasi bersama untuk memperbaiki strategi mengajar
Pendekatan ini menekankan kolaborasi antara mentor dan guru. Guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga mempraktikkan, mendapatkan umpan balik, dan melakukan refleksi.
Selain itu, pendampingan juga mengintegrasikan literasi dasar sejak dini melalui kegiatan seperti membaca kartu huruf, bercerita interaktif, dan permainan bahasa. Dengan cara ini, anak belajar membaca dan menulis secara alami melalui aktivitas yang menyenangkan.
Hasil Nyata di Kelas
Pendampingan ini membawa perubahan signifikan pada guru dan siswa.
Perubahan pada guru:
- Lebih percaya diri dalam merancang pembelajaran
- Mampu mengelola kelas secara aktif dan interaktif
- Terampil menyesuaikan metode dengan kebutuhan anak
- Menunjukkan peningkatan profesionalisme dan refleksi diri
Perubahan pada anak:
- Lebih aktif dan antusias dalam belajar
- Meningkatkan kemampuan literasi dasar
- Lebih mandiri dan percaya diri
- Mampu bekerja sama dan berinteraksi sosial dengan baik
Anak-anak mulai menunjukkan inisiatif, seperti membaca sederhana, bercerita, dan berpartisipasi tanpa harus diarahkan terus-menerus. Hal ini menunjukkan peningkatan motivasi intrinsik dalam belajar.
Hasna Koba’a dari Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai menegaskan bahwa keberhasilan ini berasal dari pendekatan yang terstruktur. Ia menjelaskan bahwa pendampingan membantu guru menghubungkan kegiatan bermain dengan tujuan pembelajaran, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna.
Peran Kreativitas dalam Pembelajaran
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah pentingnya kreativitas guru. Melalui pendampingan, guru belajar mengembangkan aktivitas yang menggabungkan permainan, seni, musik, dan gerak.
Contohnya:
- Belajar huruf melalui lagu dan gerakan
- Bercerita menggunakan gambar dan peran
- Permainan kelompok untuk melatih kerja sama
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan anak, tetapi juga membantu perkembangan kognitif dan sosial-emosional secara bersamaan.
Kegiatan kreatif juga terbukti efektif dalam menanamkan nilai karakter. Anak belajar disiplin, empati, kerja sama, dan tanggung jawab melalui aktivitas bermain yang terarah.
Dampak Lebih Luas bagi Anak dan Lingkungan
Manfaat pendampingan tidak hanya terlihat di dalam kelas. Anak-anak mulai menerapkan keterampilan literasi di rumah, seperti membaca buku sederhana dan menceritakan pengalaman kepada keluarga.
Selain itu, guru menjadi lebih adaptif dalam menilai kemampuan anak dan menyesuaikan metode pembelajaran. Setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Pendampingan ini juga menciptakan budaya belajar yang lebih positif, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Anak menjadi lebih percaya diri, kreatif, dan termotivasi untuk belajar secara mandiri.
Implikasi bagi Pendidikan dan Kebijakan
Hasil penelitian ini memberikan pesan kuat bagi pengembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia:
- Sekolah perlu mengadopsi program pendampingan guru secara berkelanjutan
- Pemerintah perlu mendukung pelatihan praktis berbasis kelas, bukan hanya teori
- Guru perlu mengembangkan kreativitas dan pendekatan belajar aktif
- Orang tua perlu dilibatkan untuk memperkuat literasi di rumah
Model pendampingan ini dinilai dapat direplikasi di berbagai daerah, terutama wilayah dengan keterbatasan sumber daya. Pendekatan sederhana namun terstruktur terbukti mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan.
Profil Penulis
Hasna Koba’a adalah akademisi di Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai yang fokus pada pendidikan anak usia dini dan pengembangan kompetensi guru. Ia bekerja sama dengan Artika Sri Devi Bungalim dan Rani Julianti Solodi, yang memiliki keahlian di bidang pendidikan, pembelajaran aktif, dan pengembangan kreativitas anak.
Sumber Penelitian
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i2.13
URL : https://journalijsd.my.id/index.php/ijsd/index
0 Komentar