Kelompok peneliti dari School of Economics Oemathonis Kupang—Yolanda O.M. Widyasari, Theresia Fouk Leu, dan Thomas Ola Langoday—mengungkap bahwa komoditas unggulan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, belum memiliki daya saing kuat akibat lemahnya sistem perdagangan desa. Studi ini dilakukan pada 2026 dengan fokus pada kelompok usaha dalam Program Desa Mandiri Anggur Merah di 11 desa penerima bantuan sejak 2011. Temuan ini penting karena menyangkut upaya pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Wilayah NTT masih menghadapi tingkat kemiskinan tinggi dan keterbatasan akses pasar. Di Kabupaten Belu, meskipun memiliki potensi sumber daya lokal yang besar, sistem perdagangan dan kelembagaan ekonomi desa belum mampu menghubungkan produk masyarakat ke pasar yang lebih luas. Akibatnya, komoditas unggulan hanya berputar di pasar lokal dengan nilai tambah yang rendah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan gabungan, yakni analisis data kuantitatif dan kualitatif. Para peneliti mengidentifikasi komoditas unggulan menggunakan metode Location Quotient (LQ) dan Shift-Share, lalu mengkaji kelembagaan perdagangan yang ada di tingkat kelompok usaha desa. Data diperoleh dari laporan kelompok usaha, observasi lapangan, serta sumber pemerintah.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan utama:
- Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan dan peternakan, menjadi basis ekonomi utama di Kabupaten Belu.
- Dari tujuh jenis usaha desa, lima memiliki potensi berkembang: peternakan, pertanian pangan, koperasi simpan pinjam, industri kecil, dan perdagangan/jasa.
- Daya saing produk masih rendah karena produksi skala kecil, kualitas belum standar, dan bergantung pada musim.
- Sistem perdagangan masih tradisional, bergantung pada tengkulak dan pasar lokal.
Menurut Thomas Ola Langoday dari School of Economics Oemathonis Kupang, kekuatan produksi saja tidak cukup untuk mendorong ekonomi desa. Produk unggulan harus didukung sistem perdagangan yang terintegrasi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Penelitian ini menekankan pentingnya reformasi kelembagaan perdagangan desa. Model yang direkomendasikan meliputi pembentukan koperasi jasa pemasaran, koperasi produsen, serta pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas lokal. Dengan model ini, kelompok usaha dapat meningkatkan posisi tawar, menentukan harga yang lebih adil, dan memperluas akses pasar hingga tingkat regional dan internasional.
Selain itu, peluang perdagangan lintas batas dengan Timor Leste dinilai sangat strategis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah perbatasan. Integrasi antara identifikasi komoditas unggulan dan penguatan kelembagaan perdagangan menjadi kunci menuju kemandirian ekonomi desa.
Dampak dari penerapan model ini tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha desa, tetapi juga berpotensi meningkatkan lapangan kerja, pendapatan masyarakat, serta memperkuat struktur ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Profil Penulis
- Yolanda O.M. Widyasari - School of Economics Oemathonis Kupang
- Theresia Fouk Leu - School of Economics Oemathonis Kupang
- Thomas Ola Langoday - School of Economics Oemathonis Kupang
Sumber Penelitian
Widyasari, Y.O.M., Leu, T.F., & Langoday, T.O. (2026). Model of Trade Institutional Arrangements for Leading Commodities in Desa Mandiri Anggur Merah Business Groups in Belu Regency, East Nusa Tenggara Province. International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5 No. 2, 571–588.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i2.1

0 Komentar