SAN AGUSTIN — Penelitian terbaru dari Dabubu Grande Elementary School bersama Pangal Sur High School menunjukkan bahwa paparan media sosial tidak memiliki hubungan signifikan dengan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar, meskipun penggunaannya cukup tinggi di kalangan anak usia 9 hingga 12 tahun.
Studi yang dilakukan oleh Trisha Jane G. Pascual dan Celso C. Dumalig ini dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) 2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional terhadap 100 siswa kelas 4 sampai kelas 6 pada tahun ajaran 2025–2026 untuk menganalisis keterkaitan antara paparan media sosial dan kebiasaan belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial tidak berkorelasi signifikan dengan kualitas kebiasaan belajar siswa.
Data penelitian memperlihatkan bahwa YouTube dan TikTok menjadi platform yang paling banyak digunakan oleh siswa sekolah dasar. Sebanyak 91 persen responden menggunakan YouTube dan 85 persen menggunakan TikTok sebagai bagian dari aktivitas harian mereka. Facebook dan Messenger Kids juga cukup banyak dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dengan teman dan keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas digital anak sejak usia sekolah dasar.
Frekuensi penggunaan media sosial juga tergolong tinggi. Sebagian besar siswa mengakses platform digital antara dua hingga lima kali dalam sehari, sementara sebagian lainnya bahkan menggunakannya lebih dari enam kali per hari. Durasi penggunaan rata-rata berada pada rentang satu hingga empat jam per hari, meskipun terdapat kelompok kecil yang menghabiskan waktu lebih dari lima jam setiap harinya. Tingginya intensitas penggunaan tersebut menegaskan bahwa media sosial telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari siswa tanpa secara langsung mengganggu pola belajar mereka.
Dalam aspek kebiasaan belajar, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan manajemen waktu siswa berada pada kategori sedang. Banyak siswa mampu menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi masih menghadapi kesulitan dalam menjaga konsistensi jadwal belajar dan menghindari penundaan pekerjaan. Kemampuan konsentrasi juga berada pada tingkat sedang, terutama karena gangguan penggunaan perangkat digital selama proses belajar berlangsung.
Di sisi lain, keterampilan mencatat menjadi aspek paling kuat dalam kebiasaan belajar siswa. Sebagian besar responden terbiasa mencatat materi pelajaran secara teratur, mengorganisasi catatan dengan baik, serta meninjau kembali catatan tersebut untuk memperkuat pemahaman. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi belajar berbasis pencatatan masih menjadi praktik akademik yang efektif bagi siswa sekolah dasar.
Persiapan menghadapi ujian juga berada pada kategori baik secara umum. Banyak siswa melakukan peninjauan materi beberapa hari sebelum ujian dan aktif meminta bantuan guru maupun orang tua ketika mengalami kesulitan. Namun demikian, kemampuan menyusun bahan rangkuman secara mandiri dan membangun kesiapan mental menghadapi ujian masih memerlukan penguatan lebih lanjut.
Analisis statistik dalam penelitian ini menunjukkan nilai korelasi sebesar r = –0,142 dengan tingkat signifikansi 0,162. Hasil tersebut menegaskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi penggunaan media sosial dan kebiasaan belajar siswa sekolah dasar. Temuan ini memperlihatkan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi tidak secara otomatis menurunkan kualitas perilaku belajar siswa.
Penelitian juga menemukan bahwa faktor usia, tingkat kelas, dan jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap kebiasaan belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pola belajar pada tingkat sekolah dasar relatif stabil di berbagai kelompok demografis dan lebih dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, budaya sekolah, serta dukungan guru dalam proses pembelajaran.
Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa pendekatan pendidikan yang efektif tidak hanya berfokus pada pembatasan penggunaan media sosial, tetapi juga pada penguatan keterampilan pengelolaan waktu, konsentrasi belajar, serta pembentukan rutinitas akademik yang konsisten sejak usia dini. Dengan dukungan lingkungan belajar yang tepat, media sosial dapat berdampingan dengan aktivitas akademik tanpa mengganggu perkembangan kebiasaan belajar siswa.
0 Komentar