Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako, tempat mahasiswa Vietnam berkuliah bersama mahasiswa lokal yang mayoritas berasal dari etnis Kaili. Temuan ini relevan di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa internasional di Indonesia, yang menuntut kemampuan komunikasi lintas budaya yang lebih baik.
Perbedaan Budaya Mempengaruhi Interaksi
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya yang sangat tinggi. Di Sulawesi Tengah, etnis Kaili memiliki gaya komunikasi yang cenderung lugas dan langsung. Karakter ini berbeda dengan gaya komunikasi mahasiswa Vietnam yang dalam beberapa situasi cenderung lebih berhati-hati.
Perbedaan ini sering memicu kendala dalam interaksi sehari-hari. Hambatan bahasa, perbedaan intonasi, serta norma sosial yang tidak sama dapat menimbulkan kesalahpahaman. Dalam beberapa kasus, mahasiswa Vietnam memilih membatasi interaksi sosial dan lebih sering bergaul dengan sesama mereka.
Penelitian ini mencatat bahwa kondisi tersebut berpotensi menciptakan jarak sosial bahkan stereotip antar kelompok jika tidak dikelola dengan baik.
Metode: Studi Kasus Kualitatif
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan mahasiswa yang terlibat dalam interaksi lintas budaya.
Informan dipilih secara purposif, yaitu berdasarkan keterlibatan mereka dalam komunikasi antarbudaya serta kesediaan untuk berbagi pengalaman. Analisis difokuskan pada bagaimana mahasiswa memahami, merespons, dan menyesuaikan diri terhadap perbedaan budaya dalam kehidupan kampus.
Temuan Utama: Adaptasi melalui Konvergensi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Vietnam menerapkan perilaku konvergensi, yaitu menyesuaikan gaya komunikasi agar lebih mendekati lawan bicara.
Beberapa bentuk adaptasi yang ditemukan antara lain:
- Penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat utama komunikasi dengan mahasiswa lokal
- Kolaborasi dalam tugas kelompok sebagai sarana membangun interaksi
- Penyesuaian dua arah, di mana mahasiswa lokal juga membantu dengan menyederhanakan bahasa dan mengajak berinteraksi
- Berkurangnya kesalahpahaman seiring meningkatnya kemampuan komunikasi
Donal Adrian dari Universitas Tadulako menjelaskan bahwa konvergensi tidak hanya terjadi pada bahasa, tetapi juga pada sikap dan perilaku dalam berinteraksi sosial.
Culture Shock dan Jarak Sosial
Penelitian ini juga menemukan bahwa banyak mahasiswa Vietnam mengalami culture shock saat pertama kali berada di lingkungan baru. Kondisi ini ditandai dengan rasa canggung, bingung, dan kurang percaya diri dalam berkomunikasi.
Dampaknya antara lain:
- Enggan berinteraksi dengan mahasiswa lokal
- Lebih nyaman berada dalam kelompok sendiri
- Muncul kekhawatiran akan kesalahan komunikasi
Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat memperkuat stereotip dan menghambat integrasi sosial. Namun, penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi secara bertahap mampu mengurangi hambatan tersebut.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Membangun Kampus yang Inklusif
Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi lintas budaya bukan tentang menghilangkan perbedaan, tetapi bagaimana mengelolanya secara efektif. Perilaku konvergensi memungkinkan mahasiswa tetap mempertahankan identitas budaya masing-masing sambil membangun hubungan yang harmonis.
“Interaksi sosial antara mahasiswa Vietnam dan mahasiswa lokal berkembang melalui penyesuaian dalam pandangan dan perilaku,” jelas tim peneliti.
Temuan ini memperlihatkan bahwa komunikasi adalah proses dinamis yang dipengaruhi oleh konteks, hubungan, dan kemampuan adaptasi.
Profil Penulis
- Donal Adrian – Dosen dan peneliti komunikasi di Universitas Tadulako, fokus pada komunikasi antarbudaya
- Retnadumillah Saliha – Akademisi Universitas Muhammadiyah Palu di bidang komunikasi sosial
- Chontina Siahaan – Peneliti komunikasi dari Universitas Kristen Indonesia Jakarta
- Edwan – Dosen Universitas Tadulako dengan minat pada komunikasi sosial dan politik
0 Komentar