Lulusan Sistem Informasi Unesa Banyak Terserap Kerja, Tapi Kemampuan Bahasa Inggris Masih Perlu Ditingkatkan

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Lulusan Program Studi Sistem Informasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terbukti memiliki tingkat serapan kerja yang tinggi, namun masih menghadapi tantangan dalam keterampilan komunikasi dan bahasa Inggris. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni Widya Purwita bersama Berlian Maulidya Izzati, Monica Cinthya, dan I Kadek Dwi Nuryana dari Fakultas Teknik Unesa pada tahun 2024. Studi ini penting karena menilai sejauh mana pendidikan tinggi selaras dengan kebutuhan industri sekaligus mendukung target Sustainable Development Goals (SDG) 4 tentang pendidikan berkualitas.

Penelitian ini berangkat dari isu global tentang kesenjangan antara hasil pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga harus menghasilkan lulusan yang siap kerja dan relevan dengan perkembangan industri digital. Dalam konteks ini, tracer study atau pelacakan alumni menjadi alat penting untuk menilai kualitas pendidikan secara nyata.

Metode Sederhana, Data Nyata dari Alumni

Tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan memanfaatkan data tracer study terhadap 91 lulusan tahun 2024. Metode ini tidak menggunakan analisis statistik kompleks, melainkan menggambarkan kondisi nyata lulusan, mulai dari status pekerjaan, kesesuaian bidang kerja, hingga kompetensi yang dimiliki.

Pendekatan ini memungkinkan universitas melihat secara langsung bagaimana lulusan beradaptasi di dunia kerja serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka.

71 Persen Lulusan Sudah Bekerja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71 persen lulusan telah bekerja, baik penuh waktu maupun paruh waktu. Selain itu, 7 persen memilih jalur wirausaha, sementara 20 persen masih mencari pekerjaan. Data ini menunjukkan tingkat kesiapan kerja yang cukup tinggi.

Mayoritas lulusan bekerja di bidang yang relevan dengan studi mereka. Sekitar:

  • 38% bekerja sebagai system developer
  • 20% sebagai IT consultant
  • 6% sebagai analis sistem
  • Sisanya bekerja di berbagai bidang yang tetap memanfaatkan keterampilan digital

Temuan ini menunjukkan bahwa kurikulum yang diterapkan cukup selaras dengan kebutuhan industri, terutama di sektor teknologi.

Selain itu, rata-rata gaji awal lulusan mencapai sekitar Rp4,3 juta per bulan, atau sekitar 1,2 kali upah minimum provinsi Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan tidak hanya terserap kerja, tetapi juga memperoleh kompensasi yang kompetitif.

Kekuatan Lulusan: Etika, Kerja Tim, dan IT

Penelitian juga mengungkap kompetensi utama yang dimiliki lulusan. Tiga kemampuan yang paling menonjol adalah:

  • Etika kerja
  • Kemampuan kerja tim
  • Penguasaan teknologi informasi

Data pada tabel di halaman 7 menunjukkan bahwa etika memiliki skor tertinggi dalam kebutuhan industri maupun penguasaan lulusan.

Hal ini menandakan bahwa lulusan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki karakter profesional yang kuat, yang sangat dibutuhkan di dunia kerja modern.

Kelemahan Utama: Komunikasi dan Bahasa Inggris

Di sisi lain, penelitian menemukan adanya kesenjangan kompetensi, terutama pada:

  • Kemampuan komunikasi
  • Kemampuan bahasa Inggris
  • Pengembangan diri

Pada grafik dan tabel di halaman 8–9, terlihat bahwa komunikasi memiliki gap terbesar antara kebutuhan industri dan kemampuan lulusan.

Artinya, meskipun perusahaan sangat membutuhkan kemampuan komunikasi, lulusan belum sepenuhnya siap dalam aspek ini. Hal yang sama juga terjadi pada kemampuan bahasa Inggris, yang semakin penting di era global.

Pendidikan Sudah Relevan, Tapi Perlu Penguatan Soft Skills

Sebanyak 66 persen lulusan bekerja di bidang yang sangat relevan dengan studi mereka, sementara 83 persen merasa tingkat pendidikan mereka sudah sesuai dengan pekerjaan yang dijalani. Ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang ada sudah cukup efektif.

Namun, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari angka serapan kerja, tetapi juga dari kualitas kompetensi yang dimiliki lulusan.

Menurut Anggraeni Widya Purwita dari Universitas Negeri Surabaya, hasil ini menunjukkan pentingnya pembaruan kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri, terutama dalam penguatan soft skills.

Dampak bagi Dunia Pendidikan dan Industri

Temuan ini memberikan beberapa implikasi penting:

  • Perguruan tinggi perlu memperkuat pembelajaran berbasis praktik seperti magang dan proyek industri
  • Pengajaran bahasa Inggris harus lebih terintegrasi dalam kurikulum
  • Kolaborasi antara kampus dan industri perlu ditingkatkan
  • Data tracer study harus dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan pendidikan

Penelitian ini juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung SDG 4, yaitu memastikan pendidikan yang berkualitas, relevan, dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Anggraeni Widya Purwita adalah dosen di Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, dengan fokus pada pengembangan kurikulum dan kualitas pendidikan tinggi.

Berlian Maulidya Izzati, Monica Cinthya, dan I Kadek Dwi Nuryana merupakan akademisi di bidang sistem informasi yang memiliki minat pada employability lulusan, tracer study, dan pengembangan kompetensi digital.

Sumber Penelitian

Artikel ini disusun berdasarkan penelitian berjudul “Graduate Employment Outcomes and Competency Alignment in Achieving SDG 4: An Empirical Study of Information Systems Graduates” yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 4 tahun 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i4.48, URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar