Surabaya — Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Nanang Setiyawan dan Insyirah Putikadea dari Universitas Negeri Surabaya pada tahun 2026 mengungkap faktor utama yang memengaruhi keputusan investasi generasi muda. Studi ini menyoroti bahwa literasi keuangan dan pengaruh sosial memainkan peran penting dalam membentuk keputusan investasi pekerja Milenial dan Generasi Z, sementara rasa percaya diri berlebihan justru tidak memberikan dampak signifikan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research ini menjadi penting karena jumlah investor muda di Indonesia terus meningkat pesat, namun tidak selalu diiringi dengan pemahaman keuangan yang memadai. Temuan ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana generasi produktif mengambil keputusan finansial di tengah perkembangan pasar modal yang semakin dinamis.
Fenomena meningkatnya investor muda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kemudahan akses teknologi dan informasi. Data nasional menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen investor berasal dari kalangan Milenial dan Generasi Z. Namun, di sisi lain, tingkat literasi keuangan masih tertinggal dibandingkan tingkat inklusi keuangan. Artinya, banyak masyarakat yang sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko dan cara kerjanya.
Kondisi ini menjadi latar belakang penting penelitian yang dilakukan di Surabaya, salah satu kota metropolitan dengan aktivitas ekonomi dan investasi yang tinggi. Dengan jumlah tenaga kerja yang besar dan partisipasi pasar modal yang aktif, Surabaya dianggap representatif untuk menggambarkan perilaku investor muda di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 100 responden pekerja berusia 18 hingga 40 tahun yang aktif berinvestasi. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang dirancang untuk mengukur tingkat literasi keuangan, kecenderungan percaya diri berlebihan, perilaku ikut-ikutan, serta kualitas keputusan investasi yang diambil.
Hasil analisis menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki pengaruh paling kuat terhadap keputusan investasi. Individu dengan pemahaman keuangan yang baik cenderung lebih rasional dalam memilih instrumen investasi, mampu menilai risiko dengan lebih tepat, serta tidak mudah terjebak dalam keputusan spekulatif. Dengan kata lain, pengetahuan menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan finansial yang sehat.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku herding atau kecenderungan mengikuti keputusan orang lain memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan investasi. Banyak investor muda yang mengambil keputusan berdasarkan tren, rekomendasi teman, atau informasi yang beredar di media sosial. Dalam situasi ketidakpastian, mengikuti mayoritas dianggap sebagai pilihan yang lebih aman.
Sebaliknya, faktor overconfidence atau rasa percaya diri berlebihan ternyata tidak berpengaruh signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih memiliki kontrol diri dalam mengambil keputusan dan tidak sepenuhnya mengandalkan keyakinan pribadi tanpa pertimbangan rasional. Temuan ini cukup menarik karena bertentangan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyebutkan bahwa overconfidence sering menjadi penyebab kesalahan investasi.
Secara keseluruhan, ketiga variabel yang diteliti mampu menjelaskan sekitar 33,3 persen variasi dalam keputusan investasi. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini, seperti pengalaman investasi, kondisi ekonomi, atau faktor emosional.
Nanang Setiyawan dari Universitas Negeri Surabaya menegaskan bahwa literasi keuangan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mengelola informasi dan mengambil keputusan yang tepat. Ia menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan harus menjadi prioritas, terutama bagi generasi muda yang kini mendominasi pasar investasi.
Temuan ini memiliki implikasi luas, baik bagi pemerintah, lembaga keuangan, maupun masyarakat. Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini menjadi dasar penting untuk memperkuat program edukasi keuangan secara lebih masif dan terarah. Edukasi tidak hanya perlu dilakukan di lembaga pendidikan, tetapi juga melalui platform digital yang dekat dengan generasi muda.
Bagi pelaku industri keuangan, pemahaman terhadap perilaku investor muda dapat membantu dalam merancang produk dan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Sementara itu, bagi masyarakat, khususnya investor pemula, penelitian ini menjadi pengingat penting untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami dasar-dasar investasi sebelum mengambil keputusan.
Di tengah maraknya informasi dan kemudahan akses investasi saat ini, kemampuan untuk memilah informasi menjadi kunci utama. Tanpa literasi yang memadai, investor berisiko mengambil keputusan yang tidak optimal, bahkan merugikan.
0 Komentar