Lima Pilar ESG Tentukan Keberlanjutan Perusahaan Sektor Konsumen Primer di Bursa Efek Indonesia

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jambi - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dodi Areadi bersama Mukhzarudfa, Ratih Kusumastuti, dan Wiwik Tiswiyanti dari Universitas Jambi mengungkap faktor utama yang membentuk praktik keberlanjutan perusahaan sektor consumer goods primer di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020–2024. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa keberlanjutan kini tidak lagi sekadar kewajiban regulasi, melainkan telah menjadi strategi bisnis inti yang menentukan daya saing perusahaan.

Dalam lanskap bisnis modern, perusahaan tidak lagi dinilai hanya dari keuntungan finansial. Dimensi lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menjadi indikator penting dalam menilai kinerja jangka panjang. Di Indonesia, sektor consumer goods primer memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Oleh karena itu, praktik keberlanjutan di sektor ini memiliki dampak luas bagi ekonomi dan sosial.

Latar Belakang: ESG Jadi Standar Baru Bisnis

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya tekanan regulasi dan ekspektasi publik terhadap perusahaan untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab. Regulasi OJK mewajibkan perusahaan publik untuk menyusun laporan keberlanjutan, mendorong integrasi ESG ke dalam strategi bisnis.

Namun, meski laporan keberlanjutan semakin banyak, kualitas implementasinya masih beragam. Banyak perusahaan masih berfokus pada kepatuhan formal, bukan pada dampak nyata. Di sinilah penelitian ini hadir, untuk memetakan pola dan faktor yang benar-benar memengaruhi keberlanjutan perusahaan.

Metodologi: Analisis 105 Dokumen Perusahaan

Tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis isi (content analysis) terhadap 105 dokumen dari 21 perusahaan yang terdaftar di BEI. Dokumen tersebut mencakup laporan tahunan dan laporan keberlanjutan selama lima tahun (2020–2024).

Metode ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi tema dominan dan pola implementasi ESG secara mendalam. Analisis dilakukan melalui tiga tahap: open coding, axial coding, dan selective coding, sehingga menghasilkan kategori yang terstruktur.

Sampel penelitian mencakup berbagai subsektor, dengan dominasi perusahaan perkebunan kelapa sawit (47,6%), diikuti makanan-minuman, peternakan, tembakau, ritel, serta kosmetik dan produk rumah tangga.

Temuan Utama: Lima Pilar Keberlanjutan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan perusahaan dibentuk oleh lima pilar utama:

  1. Kapasitas inovasi
  2. Tata kelola perusahaan (governance)
  3. Manajemen lingkungan
  4. Tanggung jawab sosial (CSR)
  5. Investasi pada sumber daya manusia

Kelima pilar ini bekerja secara sinergis. Tidak ada satu faktor tunggal yang dominan, melainkan kombinasi yang saling memperkuat.

Temuan Data: Tema Dominan dan yang Masih Lemah

Analisis frekuensi menunjukkan beberapa temuan penting:

  • Program kemitraan sosial muncul di 100% dokumen
  • Pengelolaan limbah dan emisi: 95,2%
  • Kesehatan dan keselamatan kerja (SDM): 90,5%
  • Mekanisasi dan monitoring: 61,9%
  • Tata kelola perusahaan: 42,9%
  • Energi terbarukan: 23,8%
  • Digitalisasi: hanya 9,5%

Data ini menunjukkan bahwa aspek sosial dan lingkungan sudah cukup matang, tetapi inovasi struktural seperti energi terbarukan dan digitalisasi masih tertinggal.

Perbedaan Antar Sub-Sektor

Penelitian juga menemukan variasi implementasi yang signifikan antar subsektor:

  • Ritel fokus pada digitalisasi dan efisiensi distribusi
  • Makanan dan minuman menekankan inovasi produk dan kemasan ramah lingkungan
  • Peternakan mengembangkan teknologi closed-house dan monitoring digital
  • Perkebunan sawit menonjol dalam sertifikasi lingkungan dan konservasi
  • Kosmetik mulai mengadopsi energi terbarukan

Perbedaan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bersifat kontekstual, tergantung pada karakteristik industri masing-masing.

Implikasi: Keberlanjutan Jadi Strategi Inti

Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan telah bergeser dari sekadar kewajiban menjadi strategi bisnis jangka panjang.

Dodi Areadi dari Universitas Jambi menjelaskan bahwa keberlanjutan perusahaan tidak bisa berdiri sendiri. “Keberlanjutan terbentuk dari integrasi inovasi, tata kelola, lingkungan, sosial, dan sumber daya manusia secara bersamaan,” ujarnya dalam publikasi penelitian.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu mengintegrasikan ESG secara menyeluruh cenderung lebih adaptif terhadap perubahan pasar dan tekanan regulasi.

Namun, rendahnya adopsi energi terbarukan dan digitalisasi menimbulkan pertanyaan: apakah perusahaan benar-benar berkomitmen, atau hanya sekadar membangun citra?

Dampak bagi Dunia Usaha dan Kebijakan

Hasil penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting:

  • Bagi perusahaan: perlu mengintegrasikan ESG ke dalam strategi inti, bukan hanya laporan
  • Bagi regulator (OJK): perlu mendorong kualitas, bukan hanya kuantitas laporan
  • Bagi investor: ESG dapat menjadi indikator penting dalam pengambilan keputusan
  • Bagi masyarakat: praktik keberlanjutan berdampak langsung pada lingkungan dan kesejahteraan sosial

Penelitian ini juga membuka peluang bagi pengembangan kebijakan berbasis sektor, karena setiap industri memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda.

Profil Penulis

Dodi Areadi adalah peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jambi, dengan fokus pada corporate sustainability dan ESG.
Mukhzarudfa, Ratih Kusumastuti, dan Wiwik Tiswiyanti juga merupakan akademisi Universitas Jambi yang memiliki keahlian di bidang akuntansi, tata kelola perusahaan, dan keberlanjutan bisnis.

Sumber Penelitian

Areadi, D., Mukhzarudfa, Kusumastuti, R., & Tiswiyanti, W. (2026). Identification Factors Affecting Corporate Sustainability in the Primary Consumer Goods Sector on the Indonesia Stock Exchange, 2020–2024. Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 4, 1125–1138.

Posting Komentar

0 Komentar