Pariaman — Di tengah berkembangnya ekonomi gig yang menawarkan fleksibilitas kerja namun minim kepastian pendapatan, sebuah studi terbaru menemukan bahwa kepemimpinan transaksional dan motivasi ekstrinsik berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja lepas di Kota Pariaman.
Penelitian ini menyoroti bagaimana hubungan antara gaya kepemimpinan berbasis penghargaan, motivasi finansial, dan dukungan sosial memengaruhi kondisi psikologis pekerja gig—kelompok tenaga kerja yang semakin dominan dalam sektor jasa dan informal di daerah berkembang.
Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 209 responden pekerja gig, penelitian ini menganalisis keterkaitan antara kepemimpinan transaksional, motivasi ekstrinsik, dukungan sosial, dan kesejahteraan karyawan menggunakan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasilnya menunjukkan bahwa kepemimpinan yang jelas dalam target kerja dan sistem penghargaan berdampak langsung pada kesejahteraan pekerja.
Dalam konteks ekonomi gig, pekerja umumnya tidak memiliki kontrak jangka panjang, jaminan sosial, atau kepastian pendapatan. Situasi ini membuat faktor psikologis seperti rasa aman, kepuasan kerja, dan stabilitas emosional menjadi sangat bergantung pada hubungan kerja sehari-hari dengan atasan.
Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transaksional—yang menekankan kejelasan tugas, konsistensi penghargaan, dan pengawasan terstruktur—memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kesejahteraan pekerja. Ketika pekerja memahami hubungan langsung antara kinerja dan imbalan, mereka cenderung merasa lebih dihargai dan stabil secara psikologis.
Selain itu, kepemimpinan transaksional juga terbukti meningkatkan motivasi ekstrinsik pekerja secara signifikan. Insentif finansial, bonus, dan penghargaan berbasis kinerja menjadi pendorong utama perilaku kerja dalam lingkungan gig yang bergantung pada pendapatan harian.
Motivasi ekstrinsik sendiri terbukti memiliki pengaruh langsung terhadap kesejahteraan pekerja. Dalam kondisi kerja tanpa kepastian kontrak, penghargaan ekonomi bukan hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai simbol pengakuan atas kontribusi tenaga kerja.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa motivasi ekstrinsik berperan sebagai mediator antara kepemimpinan transaksional dan kesejahteraan pekerja. Artinya, kepemimpinan yang efektif meningkatkan kesejahteraan tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui peningkatan motivasi berbasis penghargaan.
Selain faktor kepemimpinan dan motivasi, dukungan sosial juga terbukti berpengaruh positif terhadap kesejahteraan pekerja gig. Dukungan dari atasan maupun rekan kerja membantu mengurangi tekanan kerja dan meningkatkan ketahanan psikologis, terutama dalam situasi kerja yang tidak stabil.
Namun demikian, dukungan sosial tidak terbukti memperkuat hubungan antara motivasi ekstrinsik dan kesejahteraan pekerja. Temuan ini menunjukkan bahwa dalam konteks pekerja gig, faktor ekonomi seperti insentif dan upah tetap menjadi penentu utama kesejahteraan dibandingkan faktor relasional.
Karakteristik responden penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas pekerja gig di Pariaman berasal dari kelompok usia muda produktif, terutama rentang 21–25 tahun (65,1%), dengan sistem kerja harian mendominasi hingga 81% responden. Data ini menunjukkan bahwa ekonomi gig menjadi ruang kerja utama generasi muda di daerah tersebut.
Secara keseluruhan, model penelitian mampu menjelaskan sekitar 65,6% variasi kesejahteraan pekerja, menunjukkan bahwa kepemimpinan, motivasi ekstrinsik, dan dukungan sosial merupakan faktor penting dalam membentuk kondisi psikologis tenaga kerja sektor gig.
Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi organisasi dan pelaku usaha yang mempekerjakan pekerja gig. Transparansi sistem penghargaan, konsistensi insentif berbasis kinerja, serta komunikasi yang terbuka dengan pekerja menjadi strategi penting untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja non-permanen.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan pekerja gig tidak selalu memerlukan intervensi kompleks. Kebijakan sederhana seperti kejelasan target kerja, kepastian pembayaran, dan penghargaan yang adil sudah cukup memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas psikologis pekerja.
Ke depan, penelitian lanjutan disarankan memperluas cakupan wilayah dan variabel penelitian, termasuk kepuasan kerja, keterikatan kerja, serta motivasi intrinsik, agar pemahaman tentang kesejahteraan pekerja gig menjadi lebih komprehensif.
0 Komentar