Padang – Penelitian Robert Sugaranendi dan Syahrizal dari Universitas Negeri Padang pada 2026 menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik berperan langsung dalam meningkatkan perilaku proaktif pegawai kantor pajak di Sumatera Barat dan Jambi. Studi yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menegaskan bahwa pemberdayaan psikologis menjadi faktor penghubung utama antara kepemimpinan otentik dan inisiatif kerja pegawai, sementara identifikasi berlebihan terhadap pemimpin justru dapat menurunkan perilaku proaktif.
Temuan ini menjadi penting dalam konteks reformasi birokrasi Direktorat Jenderal Pajak yang terus mendorong peningkatan kualitas layanan, kepatuhan wajib pajak, dan modernisasi sistem administrasi perpajakan. Perilaku proaktif pegawai dinilai sebagai salah satu faktor kunci keberhasilan organisasi publik dalam menghadapi perubahan kebijakan, digitalisasi layanan, dan tuntutan transparansi pelayanan publik.
Direktorat Jenderal Pajak selama beberapa tahun terakhir menerapkan berbagai strategi transformasi, termasuk digitalisasi layanan perpajakan dan peningkatan edukasi wajib pajak. Namun capaian kepatuhan pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan pada Kantor Wilayah Sumatera Barat dan Jambi tercatat hanya mencapai 98,67 persen pada 2024, menjadi satu-satunya wilayah yang belum memenuhi target nasional sebesar 108,5 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor internal organisasi, termasuk kepemimpinan dan perilaku pegawai, memiliki peran penting dalam menentukan kinerja institusi.
Penelitian yang dilakukan tim Universitas Negeri Padang melibatkan 260 pegawai dari 10 kantor pelayanan pajak di wilayah Sumatera Barat dan Jambi. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur menggunakan skala persepsi lima poin dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling untuk memahami hubungan antara kepemimpinan otentik, pemberdayaan psikologis, identifikasi terhadap pemimpin, identifikasi organisasi, dan perilaku proaktif pegawai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku proaktif pegawai. Pegawai yang bekerja di bawah pemimpin yang transparan, konsisten, dan berintegritas cenderung lebih aktif menginisiasi perbaikan kerja, mengantisipasi masalah, serta mengembangkan solusi inovatif tanpa menunggu instruksi formal.
Selain itu, pemberdayaan psikologis terbukti menjadi faktor yang memperkuat perilaku proaktif pegawai. Pegawai yang merasa memiliki makna dalam pekerjaan, kompetensi yang memadai, otonomi dalam bertindak, dan dampak nyata terhadap organisasi lebih terdorong untuk mengambil inisiatif dalam lingkungan kerja mereka.
Penelitian ini juga menemukan bahwa identifikasi pegawai terhadap pemimpin memiliki pengaruh negatif terhadap perilaku proaktif. Temuan ini menunjukkan adanya sisi lain dari hubungan kepemimpinan dalam organisasi birokrasi. Ketika pegawai terlalu bergantung pada pemimpin sebagai referensi utama tindakan, mereka cenderung mengurangi inisiatif mandiri dan lebih memilih mengikuti arahan formal.
Sebaliknya, identifikasi organisasi terbukti memperkuat pengaruh kepemimpinan otentik terhadap perilaku proaktif. Pegawai yang memiliki rasa keterikatan kuat terhadap organisasi lebih responsif terhadap arahan kepemimpinan dan lebih terdorong untuk berkontribusi secara aktif dalam peningkatan kinerja institusi.
Secara rinci, penelitian menunjukkan beberapa temuan utama:
Kepemimpinan otentik berpengaruh positif signifikan terhadap perilaku proaktif pegawai.
Pemberdayaan psikologis berpengaruh positif terhadap perilaku proaktif dan berperan sebagai mediator utama.
Identifikasi terhadap pemimpin berpengaruh negatif terhadap perilaku proaktif.
Identifikasi organisasi memperkuat hubungan antara kepemimpinan otentik dan perilaku proaktif.
Pemberdayaan psikologis menjadi jalur paling efektif dalam meningkatkan inisiatif kerja pegawai.
Robert Sugaranendi dari Universitas Negeri Padang menjelaskan bahwa kepemimpinan otentik menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis sehingga pegawai lebih berani mengambil inisiatif dan berkontribusi secara aktif dalam organisasi. Ia menekankan bahwa integritas, keterbukaan, dan konsistensi pemimpin menjadi fondasi utama terbentuknya perilaku kerja proaktif di sektor publik.
Syahrizal dari Universitas Negeri Padang menambahkan bahwa pemberdayaan psikologis merupakan faktor motivasional yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja pegawai. Pegawai yang merasa memiliki kendali terhadap pekerjaannya akan lebih siap menghadapi perubahan dan berpartisipasi dalam inovasi organisasi.
Temuan penelitian ini juga memberikan perspektif baru mengenai dampak identifikasi terhadap pemimpin dalam organisasi birokrasi. Hubungan yang terlalu kuat dengan pemimpin dapat menciptakan ketergantungan psikologis yang mengurangi kemampuan pegawai untuk bertindak mandiri dan inovatif. Oleh karena itu, organisasi perlu menyeimbangkan hubungan kepemimpinan dengan penguatan otonomi pegawai.
Implikasi praktis penelitian ini menunjukkan bahwa instansi pemerintah perlu memperkuat praktik kepemimpinan otentik sebagai strategi peningkatan kinerja organisasi. Program pelatihan kepemimpinan yang menekankan transparansi, integritas, dan komunikasi terbuka dapat meningkatkan perilaku proaktif pegawai secara berkelanjutan.
Selain itu, organisasi publik juga disarankan meningkatkan pemberdayaan psikologis melalui pemberian tanggung jawab yang jelas, dukungan kompetensi, serta ruang partisipasi pegawai dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendorong inovasi pelayanan publik dan memperkuat efektivitas reformasi birokrasi.
Penelitian ini menegaskan bahwa perilaku proaktif pegawai tidak hanya dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan tingkat keterikatan pegawai terhadap organisasi. Dengan mengintegrasikan ketiga faktor tersebut, instansi pemerintah dapat meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat kinerja institusional secara berkelanjutan.
0 Komentar