Jakarta — Penelitian Isra Ruddin, Alo Liliweri, dan Mirza Ronda dari Universitas Sahid Jakarta yang dipublikasikan tahun 2026 menunjukkan bahwa kemasan karton pada industri minuman tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga menjadi media komunikasi strategis untuk menyampaikan pesan keberlanjutan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Studi ini menegaskan bahwa kemasan dapat membentuk persepsi konsumen sekaligus memperkuat citra merek ramah lingkungan di sektor FMCG Indonesia.
Isu lingkungan menjadi perhatian utama industri minuman global karena tingginya penggunaan kemasan sekali pakai yang berkontribusi terhadap pencemaran tanah dan laut. Di Indonesia, tantangan ini semakin kompleks akibat tingginya konsumsi produk minuman kemasan serta keterbatasan sistem pengelolaan limbah yang efektif. Kondisi tersebut mendorong perusahaan beralih ke kemasan berbasis karton yang lebih mudah didaur ulang dan memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan plastik konvensional.
Penelitian ini menyoroti bahwa kemasan karton tidak hanya berperan sebagai solusi teknis pengurangan limbah, tetapi juga sebagai sarana komunikasi keberlanjutan yang langsung menjangkau konsumen. Melalui desain visual, simbol daur ulang, warna hijau, serta pesan lingkungan pada label produk, perusahaan membangun narasi bahwa pilihan kemasan merupakan bagian dari kontribusi terhadap pelestarian lingkungan.
Studi dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada perusahaan FMCG di Indonesia yang telah mengadopsi kemasan karton sebagai bagian strategi keberlanjutan. Data dikumpulkan selama enam bulan melalui wawancara mendalam dengan praktisi komunikasi perusahaan dan konsumen, observasi kemasan produk, serta analisis dokumen seperti laporan keberlanjutan dan materi kampanye digital perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi keberlanjutan melalui kemasan karton dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Pendekatan pertama bersifat informatif dengan menampilkan klaim seperti “dapat didaur ulang” atau “berasal dari sumber terbarukan” yang membantu konsumen memahami manfaat lingkungan kemasan. Pendekatan kedua bersifat emosional dengan menghadirkan visual alam, pesan perlindungan bumi, dan ajakan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Pendekatan ketiga menggunakan pendekatan naratif melalui cerita singkat tentang asal bahan baku atau dampak positif penggunaan kemasan ramah lingkungan terhadap pengurangan sampah plastik.
Penelitian juga menemukan bahwa kemasan berfungsi sebagai titik interaksi langsung antara merek dan konsumen pada saat keputusan pembelian berlangsung. Dalam konteks komunikasi modern, kemasan menjadi media komunikasi tanpa perantara yang mampu menyampaikan nilai keberlanjutan secara cepat dan efektif.
Namun demikian, studi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pesan keberlanjutan yang disampaikan perusahaan dan tingkat pemahaman konsumen. Banyak konsumen mengenali istilah seperti “eco-friendly” dan “recyclable”, tetapi belum sepenuhnya memahami proses daur ulang atau dampak nyata dari pilihan kemasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Isra Ruddin dari Universitas Sahid Jakarta, kemasan produk berperan sebagai simbol komunikasi yang membangun makna lingkungan di benak konsumen sekaligus memperkuat posisi merek dalam strategi pemasaran berkelanjutan.
Alo Liliweri dari Universitas Sahid Jakarta menjelaskan bahwa komunikasi keberlanjutan perlu disampaikan secara transparan dan konsisten agar tidak menimbulkan persepsi greenwashing yang dapat merusak kepercayaan publik terhadap perusahaan.
Mirza Ronda dari Universitas Sahid Jakarta menekankan pentingnya integrasi kemasan fisik dengan media digital seperti kode QR yang mengarahkan konsumen pada informasi tambahan mengenai praktik keberlanjutan perusahaan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa strategi komunikasi melalui kemasan karton memiliki keterkaitan langsung dengan SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDG 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim. Meskipun demikian, sebagian besar perusahaan masih menyampaikan keterkaitan tersebut secara implisit dan belum mengkomunikasikannya secara eksplisit kepada konsumen.
Temuan penelitian memberikan implikasi penting bagi industri minuman untuk mengembangkan komunikasi keberlanjutan yang lebih edukatif, transparan, dan konsisten agar konsumen tidak hanya memahami pesan lingkungan secara simbolik tetapi juga mampu berpartisipasi aktif dalam praktik konsumsi berkelanjutan.
Isra Ruddin merupakan peneliti dari Universitas Sahid Jakarta. Alo Liliweri merupakan peneliti dari Universitas Sahid Jakarta. Mirza Ronda merupakan peneliti dari Universitas Sahid Jakarta.
0 Komentar