Jejak Laut Purba Pangandaran Terungkap dari Batu Kapur Selasari

Ilustrasi by AI

PANGANDARAN — Lapisan batu kapur di kawasan Pangandaran ternyata menyimpan catatan rinci tentang dinamika laut dangkal jutaan tahun lalu. Penelitian terbaru pada Formasi Pamutuan di daerah Selasari mengungkap bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari sistem paparan karbonat aktif dengan sirkulasi laut terbuka hingga terbatas.

Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR) 2026 menelusuri mikrofasies batugamping anggota kalkarenit Formasi Pamutuan untuk merekonstruksi lingkungan pengendapan purba di selatan Jawa Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa batuan karbonat di wilayah ini terbentuk dalam dua zona utama paparan laut dangkal: open circulation shelf dan restricted shelf.

Penelitian tersebut menggunakan data dari 53 singkapan batuan dan empat lintasan stratigrafi utama—Selasari, Bangunkarya, Cimanggu, dan Kersaratu—yang mewakili variasi fasies karbonat regional. Analisis petrografi terhadap sampel tipis memperlihatkan dominasi fragmen bioklastik seperti foraminifera, moluska, dan alga karbonat yang menandai lingkungan laut hangat dan jernih.

Temuan ini memperkuat interpretasi bahwa Formasi Pamutuan berkembang pada masa Miosen Tengah hingga Miosen Akhir dalam sistem platform karbonat dangkal yang dipengaruhi aktivitas tektonik zona subduksi selatan Jawa.

Dua Wajah Laut Dangkal Purba

Zona fasies pertama, dikenal sebagai FZ7, mencerminkan lingkungan paparan laut dangkal dengan sirkulasi terbuka. Di zona ini ditemukan batugamping tipe wackestone dan packstone yang mengandung fragmen organisme laut dalam kondisi sebagian tertransportasi sebelum terendapkan.

Ciri utama zona ini adalah keberadaan bioklas terapung dalam matriks lumpur karbonat serta jejak aktivitas bioturbasi yang intens. Struktur berlapis di bagian bawah kemudian berubah menjadi masif ke arah atas, menunjukkan perubahan energi lingkungan selama proses sedimentasi.

Zona kedua, FZ8, menggambarkan lingkungan paparan bagian dalam dengan sirkulasi terbatas. Kehadiran mineral daratan seperti kuarsa dan plagioklas menandakan adanya pengaruh suplai material dari daratan sekitar. Lingkungan ini kemungkinan terbentuk di belakang terumbu atau area laguna terlindung dengan dinamika air lebih tenang.

Perbedaan kedua zona tersebut menunjukkan bahwa wilayah Pangandaran pernah mengalami fluktuasi muka laut dan variasi energi hidrodinamika yang signifikan selama pembentukan batuan karbonatnya.

Bukti Aktivitas Laut dan Tektonik Masa Lalu

Analisis mikrofasies juga memperlihatkan bahwa proses sedimentasi terjadi dalam kondisi laut transgresif, yaitu saat muka laut naik dan memperluas area genangan laut dangkal. Pada periode ini aktivitas vulkanik regional relatif melemah sehingga memungkinkan perkembangan platform karbonat secara optimal.

Selain itu, struktur geologi seperti antiklin Cikalong, sinklin Cintaratu, dan sesar geser Selasari turut memengaruhi distribusi fasies karbonat di wilayah penelitian. Struktur-struktur ini diperkirakan terbentuk akibat aktivitas kompresi tektonik pada periode Plio-Pleistosen.

Dengan demikian, batuan karbonat di Selasari bukan hanya catatan sedimentasi laut, tetapi juga arsip dinamika tektonik regional selatan Jawa.

Rekaman Transformasi Batuan Setelah Pengendapan

Penelitian ini juga menelusuri proses diagenesis, yaitu perubahan batuan setelah pengendapan. Empat tahap utama diidentifikasi: lingkungan freatik laut, penguburan, freatik meteorik, dan vadose meteorik.

Pada tahap awal, semen karbonat mulai mengisi rongga antarbutir sebagai bagian dari proses litifikasi. Selanjutnya, tekanan selama penguburan menyebabkan orientasi ulang butiran mineral. Ketika batuan terangkat akibat aktivitas tektonik, air meteorik memicu neomorfisme dan rekristalisasi matriks karbonat.

Tahap akhir ditandai dengan pelarutan batuan yang menghasilkan rongga tipe vuggy, bahkan berkembang menjadi saluran kecil di beberapa lokasi.

Proses-proses ini menjelaskan bagaimana batu kapur Selasari mengalami transformasi panjang sejak terbentuk di dasar laut hingga tersingkap di permukaan saat ini.

Penting untuk Rekonstruksi Lingkungan Purba Indonesia

Temuan mikrofasies dari Formasi Pamutuan memiliki arti penting bagi pemahaman evolusi platform karbonat di selatan Jawa Barat. Analisis ini membantu menjelaskan perubahan muka laut, dinamika energi gelombang, serta pengaruh tektonik terhadap distribusi sedimen karbonat.

Ke depan, integrasi data mikrofasies dengan analisis isotop stabil karbon dan oksigen berpotensi memperkaya rekonstruksi paleolingkungan kawasan ini. Pendekatan tersebut juga dapat membuka peluang korelasi regional dengan formasi karbonat Neogen lainnya di sepanjang jalur selatan Pulau Jawa.

Penelitian seperti ini menunjukkan bahwa batu kapur bukan sekadar material geologi biasa, melainkan arsip alam yang menyimpan sejarah panjang perubahan bumi tropis Indonesia.

Teti Syahrulyati & Margaretha R. Shindra Kotouki
 Universitas Pakuan
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i4.28
Link: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar