Intensitas Penggunaan AI Berkaitan dengan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa Gen Z

Generated by AI
FORMOSA NEWS - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin intens di kalangan mahasiswa terbukti berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan menunda tugas akademik. Temuan ini dilaporkan oleh David Ary Wicaksono dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dalam penelitian yang dipublikasikan tahun 2026 di International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS). Studi ini penting karena AI kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan belajar mahasiswa generasi digital.

Perkembangan teknologi digital mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, hingga menyelesaikan tugas. Platform seperti ChatGPT, Google Gemini, Grammarly, Canva, dan Gamma semakin sering digunakan untuk membantu proses akademik. Kemudahan ini membawa manfaat besar dalam efisiensi belajar, tetapi juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait manajemen waktu dan disiplin diri.

Penelitian Wicaksono menyoroti fenomena yang semakin terlihat di dunia kampus: mahasiswa cenderung menunda tugas karena merasa dapat menyelesaikannya dengan cepat menggunakan AI mendekati tenggat waktu. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah semakin sering mahasiswa menggunakan AI, semakin besar pula kecenderungan mereka untuk menunda pekerjaan akademik?

Latar Belakang: AI sebagai “Pisau Bermata Dua” dalam Pendidikan

Mahasiswa Generasi Z tumbuh di lingkungan digital dan memiliki tingkat adaptasi teknologi yang sangat tinggi. Kemampuan ini membuat AI menjadi alat belajar yang sangat menarik karena mampu:

  • Mempercepat pencarian informasi
  • Membantu memahami materi kuliah
  • Mempermudah penyusunan tugas akademik

Namun, kemudahan tersebut dapat menimbulkan rasa ketergantungan. Mahasiswa mungkin merasa tugas dapat diselesaikan kapan saja dengan bantuan AI, sehingga urgensi untuk memulai pekerjaan lebih awal menjadi berkurang.

Prokrastinasi akademik sendiri dikenal sebagai kegagalan regulasi diri—ketidakmampuan mengatur waktu, motivasi, dan prioritas. Dalam konteks era digital, teknologi dapat memperkuat kecenderungan tersebut jika tidak diimbangi kemampuan pengelolaan diri yang baik.

Metodologi: Survei terhadap 150 Mahasiswa Gen Z

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 150 mahasiswa aktif Generasi Z di Kota Madiun berpartisipasi sebagai responden. Mereka dipilih berdasarkan kriteria:

  • Berusia 18–25 tahun
  • Aktif sebagai mahasiswa
  • Pernah menggunakan AI dalam kegiatan belajar

Peneliti mengukur dua variabel utama:

  1. Intensitas penggunaan AI Diukur melalui frekuensi dan durasi penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
  2. Prokrastinasi akademik 
    Diukur melalui indikator:
  • Penundaan memulai tugas
  • Keterlambatan pengumpulan
  • Kesenjangan antara rencana dan tindakan
  • Kecemasan akademik

Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara kedua variabel.

Temuan Utama: Semakin Intens AI Digunakan, Semakin Tinggi Prokrastinasi

Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara penggunaan AI dan prokrastinasi akademik.

Temuan kunci penelitian:

  • Nilai korelasi: r = 0,35
  • Tingkat signifikansi: p < 0,01
  • Kesimpulan: terdapat hubungan positif signifikan antara intensitas penggunaan AI dan prokrastinasi akademik.

Artinya, semakin tinggi intensitas penggunaan AI tanpa regulasi yang baik, semakin tinggi kecenderungan mahasiswa menunda tugas akademik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kemudahan akses AI dapat menimbulkan persepsi bahwa tugas dapat diselesaikan dengan cepat kapan saja. Akibatnya, mahasiswa lebih sering menunda memulai pekerjaan hingga mendekati batas waktu.

Wicaksono menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan kegagalan regulasi diri. Mahasiswa yang memiliki kemampuan manajemen diri rendah cenderung menggunakan AI sebagai alasan untuk menunda pekerjaan. Sebaliknya, mahasiswa dengan regulasi diri baik justru memanfaatkan AI sebagai alat peningkat produktivitas.

AI Tidak Selalu Negatif: Faktor Regulasi Diri Menjadi Kunci

Menariknya, penelitian ini tidak menyimpulkan AI sebagai penyebab tunggal prokrastinasi. AI dapat menjadi alat yang sangat membantu jika digunakan secara tepat.

Beberapa poin penting dari pembahasan penelitian:

  • AI dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas jika digunakan secara terarah.
  • Mahasiswa dengan regulasi diri baik cenderung menggunakan AI untuk mempercepat proses belajar, bukan menunda pekerjaan.
  • Karakteristik Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan dan hasil instan berkontribusi terhadap kecenderungan prokrastinasi.

Dengan kata lain, AI berperan sebagai “pisau bermata dua” dalam pendidikan:
mampu meningkatkan efisiensi sekaligus berpotensi memperkuat kebiasaan menunda.

Dampak dan Implikasi bagi Pendidikan

Temuan ini memiliki dampak penting bagi dunia pendidikan tinggi.

1. Bagi mahasiswa

Mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan regulasi diri:

  • Manajemen waktu
  • Disiplin belajar
  • Strategi penggunaan AI yang sehat

2. Bagi dosen dan institusi pendidikan

Perguruan tinggi perlu:

  • Mengintegrasikan literasi AI dalam kurikulum
  • Mengajarkan penggunaan AI yang etis dan produktif
  • Mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong kemandirian mahasiswa

3. Bagi kebijakan pendidikan

Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya:

  • Pedoman penggunaan AI dalam pendidikan
  • Program pengembangan self-regulated learning
  • Pendekatan pembelajaran yang menekankan proses, bukan hanya hasil

Penelitian ini menegaskan bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan dari pendidikan modern. Tantangan utamanya bukan melarang AI, tetapi memastikan penggunaannya mendukung proses belajar yang sehat.

Profil Penulis

David Ary Wicaksono
Dosen dan peneliti di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Bidang keahlian: psikologi pendidikan, perilaku belajar, dan teknologi pendidikan.

Sumber Penelitian

Wicaksono, D. A. (2026).
“The Relationship Between the Intensity of Artificial Intelligence (AI) Usage and Academic Procrastination Among Generation Z Students in the Digital Era.”
International Journal of Education and Psychological Science (IJEPS), Vol. 4 No. 2, 201–204.

Posting Komentar

0 Komentar