Ideologi Maskulin Turunkan Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan, Studi di Bukittinggi Ungkap Fakta

Created by AI

FORMOSA NEWS - Padang - Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak terbukti masih rendah, bahkan pada ayah yang bekerja dari rumah. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru oleh Viola Alya Zahra, S.Psi., bersama Zulian Fikry, Yuninda Tria Ningsih, dan Maya Yasmin dari Universitas Negeri Padang, yang dipublikasikan pada 2026. Studi ini penting karena menunjukkan bahwa faktor budaya—khususnya ideologi maskulin—masih menjadi penghambat utama keterlibatan emosional ayah dalam keluarga.

Penelitian dilakukan di Kota Bukittinggi, dengan fokus pada ayah yang memiliki usaha di rumah. Secara teori, kelompok ini memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk terlibat dalam pengasuhan. Namun, hasil penelitian justru menunjukkan bahwa kedekatan fisik tidak selalu diikuti keterlibatan emosional. Temuan ini menjadi sorotan penting di tengah meningkatnya fenomena “fatherlessness” atau minimnya peran ayah dalam kehidupan anak.

Latar Belakang: Peran Ayah Masih Terbatas

Peran ayah sangat penting dalam perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Namun, dalam praktiknya di Indonesia, pengasuhan masih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama ibu. Budaya patriarki yang kuat membuat ayah lebih diposisikan sebagai pencari nafkah dibandingkan pengasuh.

Data menunjukkan bahwa sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah. Dampaknya tidak sederhana—mulai dari gangguan perkembangan bahasa, masalah sosial-emosional, hingga risiko kenakalan remaja dan kesulitan akademik.

Menariknya, kondisi ini juga terjadi pada ayah yang bekerja dari rumah. Padahal, secara logika, mereka memiliki lebih banyak waktu bersama anak. Di sinilah muncul dugaan bahwa faktor psikologis dan budaya, khususnya ideologi maskulin, memainkan peran besar.

Metodologi: Survei pada 97 Ayah

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 97 ayah yang memiliki usaha di rumah di Bukittinggi dipilih sebagai responden melalui teknik purposive sampling.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis skala Likert yang mengukur dua variabel utama:

  • Ideologi maskulin (nilai-nilai tentang peran laki-laki)
  • Keterlibatan ayah dalam pengasuhan

Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Temuan Utama: Hubungan Negatif yang Signifikan

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara ideologi maskulin dan keterlibatan ayah, dengan nilai korelasi r = -0,380 (p < 0,001).

Artinya:

  • Semakin kuat seorang ayah memegang nilai maskulinitas tradisional,
  • Semakin rendah keterlibatannya dalam pengasuhan anak.

Sebaliknya, ayah dengan pandangan maskulinitas yang lebih fleksibel cenderung lebih aktif dalam mengasuh anak, baik secara fisik maupun emosional.

Penelitian juga menemukan bahwa:

  • Ayah yang bekerja dari rumah memang lebih sering hadir secara fisik (aksesibilitas tinggi)
  • Namun keterlibatan emosional seperti komunikasi hangat, bermain, dan ekspresi kasih sayang masih rendah

Dengan kata lain, banyak ayah hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya “hadir” secara emosional.

Mengapa Ideologi Maskulin Berpengaruh?

Nilai maskulinitas tradisional umumnya menekankan:

  • Kekuatan dan ketangguhan
  • Peran sebagai pencari nafkah
  • Penolakan terhadap hal-hal yang dianggap “feminin”, termasuk pengasuhan emosional

Akibatnya, aktivitas seperti merawat anak, menunjukkan kasih sayang, atau berkomunikasi secara emosional sering dianggap bukan bagian dari peran laki-laki.

“Semakin kuat nilai maskulinitas tradisional, semakin terbatas keterlibatan ayah dalam aspek emosional pengasuhan,” tulis Viola Alya Zahra dari Universitas Negeri Padang dalam laporannya.

Penelitian ini juga menyoroti konsep “ancaman maskulinitas”, yaitu perasaan tidak nyaman ketika laki-laki melakukan aktivitas yang dianggap tidak sesuai dengan identitas maskulin mereka.

Dampak bagi Anak dan Keluarga

Kurangnya keterlibatan emosional ayah dapat berdampak jangka panjang pada anak, antara lain:

  • Kebutuhan afeksi tidak terpenuhi
  • Terbentuknya hubungan emosional yang renggang
  • Risiko gangguan perkembangan sosial-emosional

Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat memengaruhi pola hubungan anak di masa dewasa.

Sebaliknya, keterlibatan ayah yang aktif dan hangat terbukti meningkatkan:

  • Kepercayaan diri anak
  • Prestasi akademik
  • Stabilitas emosi dan hubungan sosial

Implikasi: Perlu Perubahan Cara Pandang

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa meningkatkan keterlibatan ayah tidak cukup hanya dengan memberikan waktu atau fleksibilitas kerja. Perubahan harus dimulai dari cara pandang terhadap peran laki-laki dalam keluarga.

Peneliti merekomendasikan:

  • Edukasi kepada ayah tentang pentingnya keterlibatan emosional
  • Program keluarga yang mendorong peran ayah lebih aktif
  • Perubahan perspektif maskulinitas menjadi lebih fleksibel dan egaliter

Ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pendamping, dan sumber kasih sayang bagi anak.

Profil Penulis

Viola Alya Zahra, S.Psi. adalah peneliti dari Universitas Negeri Padang yang fokus pada bidang psikologi keluarga dan perkembangan anak.
Penelitian ini juga melibatkan:

  • Zulian Fikry
  • Yuninda Tria Ningsih
  • Maya Yasmin
    Seluruhnya merupakan akademisi yang meneliti isu pengasuhan, gender, dan dinamika keluarga di Indonesia.

Sumber Penelitian

Zahra, V. A., Fikry, Z., Ningsih, Y. T., & Yasmin, M. (2026).
“The Relationship of Masculine Ideology with Father Involvement in Fathers Who Have a Business at Home in Bukittinggi City.”
Asian Journal of Applied Education (AJAE), Vol. 5 No. 2, hlm. 345–358.

Artikel ini menunjukkan satu hal penting: kehadiran ayah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan anak adalah keterlibatan yang nyata—baik secara fisik maupun emosional.

Posting Komentar

0 Komentar