Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Bogor - Diskusi Santai Terbukti Efektif Tingkatkan Pemahaman Anemia Remaja Putri di Bogor. Temuan yang dilakukan oleh Wiradi Suryanegara, Yosephine Vania Wiharianti,
Robert Kristianto,
Cintana Rankai Afelanta, Feby Sintia, Yasinta
Putri Chairulnisa, Chika
Nauli, dan Tiroy Sari B. Simanjuntak dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa pendekatan komunikasi informal dapat menjadi strategi efektif dalam edukasi kesehatan masyarakat.
Pengabdian yang dilakukan oleh Wiradi Suryanegara, Yosephine Vania Wiharianti, Robert Kristianto, Cintana Rankai Afelanta, Feby Sintia, Yasinta Putri Chairulnisa, Chika Nauli, dan Tiroy Sari B. Simanjuntak dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama pada kelompok remaja perempuan yang rentan akibat kebutuhan zat besi tinggi dan pola makan yang belum seimbang.
Anemia Masih Jadi Ancaman Serius
Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal, sehingga kemampuan darah mengangkut oksigen menurun. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas, hingga risiko komplikasi saat kehamilan di masa depan. Secara global, sekitar 30% perempuan usia reproduktif mengalami anemia. Di Indonesia, angka ini bahkan lebih tinggi, berkisar antara 30–40% dan bisa mencapai lebih dari 50% di beberapa daerah. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya asupan zat besi, kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, serta minimnya pemahaman tentang pencegahan anemia. Peneliti menekankan bahwa rendahnya pengetahuan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko anemia pada remaja. “Tanpa pemahaman yang cukup, remaja tidak menyadari pentingnya pola makan sehat dan konsumsi zat besi,” ujarnya dalam laporan penelitian.
Edukasi dengan Pendekatan Santai
Berbeda dari metode ceramah konvensional, tim peneliti menggunakan pendekatan diskusi santai yang interaktif. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi dasar tentang anemia, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi terbuka.
Pengabdian yang dilakukan oleh Wiradi Suryanegara, Yosephine Vania Wiharianti, Robert Kristianto, Cintana Rankai Afelanta, Feby Sintia, Yasinta Putri Chairulnisa, Chika Nauli, dan Tiroy Sari B. Simanjuntak dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama pada kelompok remaja perempuan yang rentan akibat kebutuhan zat besi tinggi dan pola makan yang belum seimbang.
Anemia Masih Jadi Ancaman Serius
Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal, sehingga kemampuan darah mengangkut oksigen menurun. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas, hingga risiko komplikasi saat kehamilan di masa depan. Secara global, sekitar 30% perempuan usia reproduktif mengalami anemia. Di Indonesia, angka ini bahkan lebih tinggi, berkisar antara 30–40% dan bisa mencapai lebih dari 50% di beberapa daerah. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya asupan zat besi, kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, serta minimnya pemahaman tentang pencegahan anemia. Peneliti menekankan bahwa rendahnya pengetahuan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko anemia pada remaja. “Tanpa pemahaman yang cukup, remaja tidak menyadari pentingnya pola makan sehat dan konsumsi zat besi,” ujarnya dalam laporan penelitian.
Edukasi dengan Pendekatan Santai
Berbeda dari metode ceramah konvensional, tim peneliti menggunakan pendekatan diskusi santai yang interaktif. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi dasar tentang anemia, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi terbuka.
Materi yang dibahas meliputi:
- Pengertian anemia.
- Penyebab dan faktor risiko.
- Gejala yang sering diabaikan.
- Dampak jangka pendek dan panjang.
- Cara pencegahan melalui pola makan dan suplemen zat besi.
Metode ini dipilih karena dinilai lebih sesuai dengan karakter remaja yang cenderung aktif dan responsif terhadap interaksi sosial. Suasana informal membuat peserta lebih nyaman untuk bertanya dan berbagi pengalaman pribadi.
Hasil: Pengetahuan Naik Drastis
Hasil: Pengetahuan Naik Drastis
Efektivitas program diukur melalui pre-test dan post-test dengan 10 pertanyaan terkait anemia. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan:
- Rata-rata nilai sebelum edukasi: 54,0.
- Rata-rata nilai setelah edukasi: 82,7.
- Peningkatan rata-rata: +28,7 poin.
Selain itu, terjadi perubahan besar dalam kategori pengetahuan:
- Kategori baik meningkat dari 13,3% menjadi 80%.
- Kategori cukup menurun dari 40% menjadi 20%.
- Kategori kurang turun dari 46,7% menjadi 0%.
Seluruh peserta mengalami peningkatan nilai tanpa ada penurunan, dengan kenaikan tertinggi mencapai 35 poin. Menurut tim peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa diskusi santai mampu meningkatkan pemahaman secara merata di antara peserta. Metode ini juga mendorong partisipasi aktif, yang terbukti penting dalam proses pembelajaran.
Dampak Nyata bagi Perilaku Remaja
Peningkatan pengetahuan bukan sekadar angka. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman yang lebih baik menjadi langkah awal dalam perubahan perilaku kesehatan.
Dampak Nyata bagi Perilaku Remaja
Peningkatan pengetahuan bukan sekadar angka. Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman yang lebih baik menjadi langkah awal dalam perubahan perilaku kesehatan.
Setelah mengikuti edukasi, remaja diharapkan:
- Lebih sadar pentingnya konsumsi makanan kaya zat besi.
- Menghindari kebiasaan yang menghambat penyerapan zat besi seperti konsumsi teh dan kopi berlebihan.
- Lebih patuh mengonsumsi tablet tambah darah (TTD).
Pendekatan ini juga dinilai relevan untuk mendukung program pemerintah dalam penanggulangan anemia, yang selama ini menghadapi kendala rendahnya kepatuhan remaja terhadap konsumsi suplemen zat besi.
Profil Penulis
Profil Penulis
Dr. Wiradi Suryanegara – Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, ahli dalam promosi kesehatan masyarakat.
Yosephine Vania Wiharianti, Robert Kristianto, Cintana Rankai Afelanta, Feby Sintia, Yasinta Putri Chairulnisa, Chika Nauli – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.
Dr. Tiroy Sari B. Simanjuntak – Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dengan fokus pada penyakit metabolik dan anemia.
Sumber Penelitian
Suryanegara, W., Wiharianti, Y. V., Kristianto, R., Afelanta, C. R., Sintia, F., Chairulnisa, Y. P., Nauli, C., & Simanjuntak, T. S. B. (2026). From Small Talk to Health Awareness: Anemia Socialization for Adolescent Girls in North Bogor. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 3, 143–150.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i3.10
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

0 Komentar