Malang– Beban kerja yang tinggi terbukti menjadi faktor utama meningkatnya burnout pada karyawan PT Pesta Pora Abadi, perusahaan di balik merek Mie Gacoan. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru oleh Lutfi Septia Nova, Syaiful Arifin, dan Moh. Nur Singgih dari Program Magister Manajemen, Universitas Merdeka Malang, yang dipublikasikan pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Studi ini penting karena menunjukkan bahwa tekanan kerja yang terus-menerus tidak hanya memicu kelelahan emosional, tetapi juga menurunkan kepuasan dan keterlibatan karyawan dalam pekerjaan.
Pesatnya ekspansi bisnis Mie Gacoan di berbagai kota di Indonesia menjadi latar belakang utama penelitian ini. Pertumbuhan outlet yang cepat menuntut divisi Human Capital dan Legal bekerja di bawah target ketat, mulai dari rekrutmen tenaga kerja baru hingga pengurusan izin usaha dan kontrak hukum. Dalam kondisi seperti ini, tekanan kerja berpotensi meningkat dan berdampak langsung pada kesehatan psikologis karyawan.
Penelitian yang dilakukan pada 230 karyawan dari divisi Human Capital dan Legal PT Pesta Pora Abadi Malang ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental. Seluruh populasi karyawan pada dua divisi tersebut dijadikan responden melalui teknik saturated sampling, sehingga hasil penelitian merepresentasikan kondisi aktual organisasi.
Metode pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring dengan instrumen yang telah teruji, antara lain skala beban kerja NASA-TLX, Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9), Generic Job Satisfaction Scale, dan skala burnout berbasis model Maslach. Analisis data menggunakan PROCESS Macro Hayes Model 4 untuk melihat peran mediasi kepuasan kerja dan work engagement.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup kuat. Beban kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap burnout dengan koefisien 0,622 dan nilai signifikansi p < 0,001. Artinya, semakin tinggi beban kerja yang dirasakan, semakin tinggi pula risiko burnout pada karyawan.
Selain itu, beban kerja juga terbukti menurunkan kepuasan kerja dengan koefisien -0,134 dan menurunkan work engagement dengan koefisien -0,182. Dengan kata lain, tekanan kerja yang berlebihan membuat karyawan merasa kurang puas dengan pekerjaannya sekaligus kehilangan semangat, dedikasi, dan fokus dalam bekerja.
Temuan menarik lainnya adalah peran dua variabel mediasi. Kepuasan kerja terbukti menjadi jembatan antara beban kerja dan burnout dengan nilai efek tidak langsung sebesar 0,026. Sementara itu, work engagement memiliki efek mediasi yang sedikit lebih besar, yaitu 0,034. Ini menunjukkan bahwa burnout tidak hanya muncul secara langsung akibat banyaknya pekerjaan, tetapi juga melalui penurunan kualitas pengalaman kerja karyawan.
Secara praktis, penelitian ini memberi pesan penting bagi dunia usaha, khususnya sektor food and beverage yang berkembang pesat. Perusahaan tidak cukup hanya mengejar ekspansi dan target bisnis, tetapi juga harus memperhatikan distribusi tugas, waktu kerja, dan dukungan psikologis bagi karyawan.
Bagi manajemen perusahaan, hasil ini dapat menjadi dasar untuk merancang kebijakan yang lebih sehat, seperti pembagian beban kerja yang proporsional, program kesejahteraan karyawan, sistem penghargaan yang adil, serta peningkatan lingkungan kerja yang suportif. Langkah-langkah ini dinilai dapat menjaga produktivitas sekaligus menekan angka burnout.
Menurut Nova dan tim dari Universitas Merdeka Malang, kepuasan kerja dan keterlibatan karyawan berfungsi sebagai “penyangga psikologis” terhadap tekanan kerja. Ketika karyawan merasa dihargai, memiliki dukungan organisasi, dan terlibat secara emosional dengan pekerjaannya, risiko burnout dapat ditekan secara signifikan.
Temuan ini juga relevan bagi pembuat kebijakan ketenagakerjaan dan praktisi SDM di Indonesia. Di tengah pertumbuhan bisnis yang agresif, isu kesehatan mental pekerja semakin menjadi perhatian utama. Penelitian ini menegaskan bahwa burnout bukan sekadar masalah individu, melainkan konsekuensi dari desain kerja dan sistem organisasi.
0 Komentar