Baliling, Kearifan Lokal Pertanian Filipina yang Terancam Punah dan Upaya Menghidupkannya Kembali

Ilustrasi by AI

Bontoc, Filipina — Penelitian yang dilakukan oleh Wylleth Praise Gaston Sacyaten dari University of Baguio pada 2026 mengungkap praktik pertanian tradisional bernama baliling di Barangay Bayyo, Mountain Province, yang kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Studi yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menegaskan bahwa baliling bukan hanya metode bertani, tetapi juga sistem kearifan lokal yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Baliling merupakan teknik pengolahan lahan setelah panen padi yang dilakukan dengan membalik tanah, meningkatkan aerasi, serta membentuk bedengan untuk menanam tanaman lanjutan seperti ubi jalar dan kacang. Praktik ini memungkinkan petani memanfaatkan lahan secara optimal sepanjang tahun tanpa harus bergantung pada pupuk kimia atau teknologi modern yang mahal.

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap krisis pangan dan perubahan iklim, praktik baliling justru menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan dapat berasal dari pengetahuan lokal yang telah teruji waktu. Di Barangay Bayyo, pertanian menjadi fondasi kehidupan masyarakat, dan baliling menjadi bagian penting dari siklus produksi pangan mereka.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang melibatkan lima informan utama dari kalangan petani dan masyarakat setempat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung di lapangan, serta interaksi selama Festival Baliling yang berlangsung pada November 2024. Pendekatan ini memberikan gambaran utuh tentang bagaimana praktik baliling dijalankan sekaligus tantangan yang dihadapi dalam mempertahankannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa baliling memiliki sejumlah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan pertanian modern. Teknik ini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan karena sawah tidak dibiarkan menganggur setelah panen. Tanah tetap subur melalui penggunaan bahan organik alami, sementara pembalikan tanah membantu mengendalikan hama tanpa pestisida. Selain itu, petani dapat melakukan diversifikasi tanaman sehingga meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Namun, praktik ini kini mengalami penurunan signifikan. Perubahan sosial menjadi faktor utama, terutama berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Banyak anak muda memilih bekerja di luar desa atau beralih ke sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Selain itu, modernisasi pertanian dan penggunaan alat mekanis mulai menggantikan metode tradisional yang dinilai lebih melelahkan.

Perubahan gaya hidup juga turut memengaruhi keberlanjutan baliling. Kehadiran teknologi digital, seperti ponsel pintar, secara tidak langsung menggeser perhatian generasi muda dari aktivitas pertanian ke hiburan dan dunia digital. Kondisi ini menciptakan kesenjangan regenerasi petani yang berpotensi mengancam kelangsungan praktik tradisional tersebut.

Di sisi lain, tantangan lingkungan semakin memperparah situasi. Petani melaporkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu dan perubahan iklim menyebabkan penurunan hasil panen. Tanaman sering kali tidak tumbuh optimal, bahkan mati sebelum masa panen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun baliling adaptif terhadap lingkungan, tekanan perubahan iklim tetap menjadi ancaman serius.

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, masyarakat Barangay Bayyo mulai melakukan berbagai upaya pelestarian. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah penyelenggaraan Festival Baliling sejak 2023. Festival ini menjadi ruang edukasi dan promosi budaya yang bertujuan menghidupkan kembali minat masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap praktik pertanian tradisional. Kegiatan dalam festival tidak hanya menampilkan praktik baliling, tetapi juga mendorong kreativitas melalui media digital agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Penelitian ini menegaskan bahwa baliling merupakan contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat menjadi solusi terhadap tantangan global, khususnya dalam bidang pertanian berkelanjutan. Praktik ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan solidaritas komunitas.

Sacyaten menekankan bahwa tanpa dukungan yang memadai, baik dari pemerintah maupun lembaga pendidikan, praktik seperti baliling berisiko hilang dalam satu generasi. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk mendokumentasikan, melestarikan, dan mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam kebijakan dan sistem pendidikan.

Temuan ini memberikan pesan penting bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru, integrasi antara teknologi modern dan kearifan lokal dapat menjadi strategi terbaik untuk menciptakan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

Profil Penulis
Wylleth Praise Gaston Sacyaten — University of Baguio

Sumber Penelitian
Sacyaten, W.P.G. (2026). Baliling: An Exploratory Study of Indigenous Farming in Mountain Province. East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 3, 1095–1112.

web : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar