Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Lampung - Strategi Produksi Fluktuatif Dinilai Paling Efisien bagi Koperasi Tungku di Lampung Timur. Penelitian yang dilakukan oleh Diky Angga Hendrawan, Dina Nadiah Faiqoh dari universitas yang sama serta Putri Sandora dari Institut Bakti Nusantara Lampung dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Journal of Finance and Business Digital (JFBD) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa pola produksi fluktuatif menghasilkan biaya tambahan paling rendah dibandingkan pola moderat maupun konstan, sehingga lebih sesuai dengan pola penjualan koperasi tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Diky Angga Hendrawan, Dina Nadiah Faiqoh dari universitas yang sama serta Putri Sandora dari Institut Bakti Nusantara Lampung menyoroti bahwa koperasi tungku di Braja Selebah memproduksi dalam skala besar untuk memenuhi permintaan pedagang grosir yang mendistribusikan produk ke berbagai kota dan pulau.
Target Produksi Tidak Tercapai, Pola Penjualan Berfluktuasi
Data awal penelitian menunjukkan bahwa target produksi tahunan koperasi sebesar 102.000 unit tidak tercapai. Produksi aktual hanya 96.220 unit atau sekitar 5,67 persen di bawah target. Dalam periode yang sama, total penjualan mencapai Rp1.731.960.000 dengan harga Rp18.000 per unit. Pola penjualan tidak stabil karena bergantung pada permintaan grosir, sehingga volume penjualan berbeda setiap kuartal.
Penelitian yang dilakukan oleh Diky Angga Hendrawan, Dina Nadiah Faiqoh dari universitas yang sama serta Putri Sandora dari Institut Bakti Nusantara Lampung menyoroti bahwa koperasi tungku di Braja Selebah memproduksi dalam skala besar untuk memenuhi permintaan pedagang grosir yang mendistribusikan produk ke berbagai kota dan pulau.
Target Produksi Tidak Tercapai, Pola Penjualan Berfluktuasi
Data awal penelitian menunjukkan bahwa target produksi tahunan koperasi sebesar 102.000 unit tidak tercapai. Produksi aktual hanya 96.220 unit atau sekitar 5,67 persen di bawah target. Dalam periode yang sama, total penjualan mencapai Rp1.731.960.000 dengan harga Rp18.000 per unit. Pola penjualan tidak stabil karena bergantung pada permintaan grosir, sehingga volume penjualan berbeda setiap kuartal.
Ketidaksesuaian tersebut mendorong peneliti menganalisis tiga alternatif pola produksi, yaitu:
- Pola produksi konstan (jumlah produksi tetap tiap periode).
- Pola produksi moderat (produksi stabil lalu meningkat pada periode tertentu).
- Pola produksi fluktuatif (produksi mengikuti permintaan pasar).
Ketiga pola tersebut dibandingkan berdasarkan biaya tambahan seperti biaya penyimpanan, lembur, subcontracting, dan perubahan tenaga kerja.
Metode Analisis Berdasarkan Biaya Produksi
Penelitian menggunakan data produksi dan penjualan tahun 2023 yang dikumpulkan melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi langsung pada koperasi. Analisis dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif untuk menghitung biaya tambahan pada masing-masing pola produksi. Variabel yang diperhitungkan mencakup biaya penyimpanan stok, biaya lembur, biaya tenaga kerja akibat perubahan produksi, serta biaya subkontrak ketika permintaan melebihi kapasitas produksi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti membandingkan secara langsung efisiensi biaya dari setiap pola produksi yang diterapkan dalam kondisi penjualan nyata koperasi.
Hasil Utama: Produksi Fluktuatif Paling Efisien
Hasil analisis menunjukkan perbedaan biaya tambahan yang cukup signifikan antara ketiga pola produksi.
Total biaya tambahan masing-masing pola adalah:
- Pola produksi fluktuatif: Rp4.572.800.
- Pola produksi konstan: Rp5.240.000.
- Pola produksi moderat: Rp7.320.000.
Dengan biaya paling rendah, pola produksi fluktuatif dinilai paling efisien untuk kondisi koperasi. Pola ini memungkinkan produksi menyesuaikan langsung dengan permintaan pasar sehingga tidak menimbulkan biaya penyimpanan yang besar. Pada pola konstan, biaya penyimpanan meningkat karena produksi tetap meskipun permintaan turun. Sementara pada pola moderat, biaya subkontrak dan penyimpanan relatif tinggi akibat ketidaksesuaian produksi pada beberapa periode. Peneliti menjelaskan bahwa pola penjualan koperasi yang cenderung fluktuatif membuat strategi produksi yang fleksibel menjadi lebih ekonomis. Produksi yang meningkat saat permintaan tinggi dapat mengurangi risiko kekurangan stok, sedangkan produksi yang menurun saat permintaan rendah menekan biaya penyimpanan.
Implikasi bagi UMKM dan Koperasi Produksi
Implikasi bagi UMKM dan Koperasi Produksi
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi koperasi dan usaha kecil menengah yang memproduksi barang berdasarkan pesanan grosir. Strategi produksi yang terlalu kaku dapat meningkatkan biaya operasional dan menurunkan efisiensi. Sebaliknya, strategi yang adaptif terhadap pola penjualan memungkinkan perusahaan mengoptimalkan tenaga kerja, bahan baku, dan kapasitas produksi. Peneliti menekankan bahwa penentuan pola produksi harus mempertimbangkan pola penjualan secara historis. Ketika permintaan tidak stabil, pendekatan produksi fleksibel menjadi lebih relevan dibandingkan produksi konstan yang menuntut biaya penyimpanan tinggi. Namun, penelitian juga mencatat bahwa pola produksi konstan tetap memiliki keunggulan dalam perencanaan tenaga kerja dan bahan baku. Produksi yang stabil memudahkan pengaturan jadwal kerja dan menjaga kontinuitas operasional. Karena itu, koperasi disarankan tetap mempertimbangkan kombinasi strategi jika ingin menjaga stabilitas jangka panjang.
Profil Penulis
Profil Penulis
Diky Angga Hendrawan adalah akademisi bidang manajemen operasional dari Universitas Nahdlatul Ulama Lampung dengan fokus pada strategi produksi dan efisiensi biaya.
Dina Nadiah Faiqoh merupakan peneliti manajemen bisnis di Universitas Nahdlatul Ulama Lampung yang meneliti pemasaran dan perencanaan produksi UMKM.
Putri Sandora adalah akademisi dari Institut Bakti Nusantara Lampung dengan minat penelitian pada manajemen produksi dan pengembangan koperasi.
Sumber Penelitian
Sumber Penelitian
Hendrawan, Diky Angga; Faiqoh, Dina Nadiah; Sandora, Putri. “Analysis of Production Strategy Based on Sales Patterns in the Tungku Duta Selebah Cooperative, Braja Selebah District, East Lampung.” Journal of Finance and Business Digital (JFBD), Vol. 3 No. 1, 2026, halaman 153–164.
DOI: https://doi.org/10.55927/jfbd.v5i1.8
URL: https://journaljfbd.my.id/index.php/jfbd
DOI: https://doi.org/10.55927/jfbd.v5i1.8
URL: https://journaljfbd.my.id/index.php/jfbd

0 Komentar