Analisis Survei tentang Hubungan antara Aktivitas Fisik dan Kejadian Hipertensi pada Acara Hari Tanpa Kendaraan Bermotor di Jalan Ijen, Kota Malang

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Malang - Aktivitas Fisik di Car Free Day Berkorelasi dengan Penurunan Hipertensi, Survei Warga Malang Temukan Bukti Signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Anas Destyanto Ramadhan dan Rias Gesang Kinanti dari Universitas Negeri Malang dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 2 Tahun 2026 menyoroti bahwa kegiatan sederhana seperti berjalan kaki atau bersepeda di ruang publik dapat berperan dalam pengendalian hipertensi tanpa intervensi medis.

Penelitian yang dilakukan oleh 
Anas Destyanto Ramadhan dan Rias Gesang Kinanti dari Universitas Negeri Malang menyoroti bahwa Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan utama di perkotaan.

Hipertensi Masih Tinggi, Aktivitas Fisik Rendah
Hipertensi dikenal sebagai “silent killer” karena sering tidak menimbulkan gejala tetapi meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan kerusakan ginjal. Secara global, sekitar 22 persen populasi dunia mengalami hipertensi, dan angka tersebut diperkirakan terus meningkat. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 63 juta kasus hipertensi dengan ratusan ribu kematian setiap tahun. Salah satu faktor risiko yang paling dapat dikendalikan adalah aktivitas fisik. Individu yang jarang bergerak cenderung memiliki detak jantung lebih tinggi, sehingga tekanan pada pembuluh darah meningkat dan memicu hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan risiko obesitas, yang menjadi faktor penting dalam peningkatan tekanan darah. Kegiatan Car Free Day dinilai sebagai intervensi kesehatan masyarakat yang potensial karena menyediakan ruang aman untuk berjalan kaki, berlari, dan bersepeda. Penelitian ini mencoba melihat apakah aktivitas fisik yang dilakukan saat Car Free Day benar-benar berkorelasi dengan tekanan darah masyarakat.

Survei 52 Warga dengan Pengukuran Tekanan Darah
Penelitian menggunakan pendekatan survei kuantitatif analitik pada November 2024 di Kota Malang. Sebanyak 52 responden dewasa yang mengikuti Car Free Day diukur aktivitas fisik dan tekanan darahnya menggunakan kuesioner serta alat digital.
Karakteristik responden menunjukkan:
  • 82,7 persen perempuan.
  • 25 persen mahasiswa.
  • 21,15 persen ibu rumah tangga.
  • 61,54 persen tergolong obesitas berdasarkan indeks massa tubuh.
  • Rata-rata aktivitas fisik 912,92 MET (kategori sedang).
  • Rata-rata tekanan darah 157,38 mmHg sistolik dan 88,33 mmHg diastolik.
Sebagian besar responden mengalami hipertensi ringan (61,54 persen), diikuti hipertensi sedang (23,08 persen), dan hipertensi berat (15,38 persen). Tingkat aktivitas fisik didominasi kategori sedang (50 persen) dan ringan (46,15 persen).

Korelasi Negatif Signifikan antara Aktivitas Fisik dan Tekanan Darah
Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan tekanan darah. Nilai korelasi menunjukkan arah negatif, artinya semakin tinggi aktivitas fisik, semakin rendah tekanan darah.
Temuan utama penelitian:
  • Korelasi aktivitas fisik dengan tekanan darah sistolik: r = -0,474.
  • Nilai signifikansi sistolik: p = 0,000.
  • Korelasi aktivitas fisik dengan tekanan darah diastolik: r = -0,377.
  • Nilai signifikansi diastolik: p = 0,006.
  • Aktivitas fisik menjelaskan 22,4 persen variasi tekanan darah sistolik.
  • Aktivitas fisik menjelaskan 14,2 persen variasi tekanan darah diastolik.
Hasil tersebut menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik antara aktivitas fisik dan penurunan tekanan darah. Semakin aktif seseorang saat Car Free Day, semakin rendah kecenderungan tekanan darahnya.

Dampak bagi Kebijakan Kesehatan Kota
Temuan ini memberi implikasi penting bagi kebijakan kesehatan perkotaan. Program Car Free Day tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan kardiovaskular masyarakat.
Beberapa dampak praktis dari penelitian ini:
  • Mendukung kebijakan rutin Car Free Day di kota besar.
  • Mendorong masyarakat meningkatkan aktivitas fisik mingguan.
  • Menjadi dasar edukasi pencegahan hipertensi non-obat.
  • Menguatkan program kesehatan berbasis komunitas.
  • Mendukung perencanaan ruang publik aktif dan ramah pejalan kaki.
Peneliti menyarankan masyarakat tidak menganggap hipertensi sebagai kondisi ringan. Aktivitas fisik harian, termasuk berjalan kaki, naik sepeda, atau olahraga ringan, perlu ditingkatkan untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.

Profil Penulis
Anas Destyanto Ramadhan merupakan peneliti bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Negeri Malang yang fokus pada aktivitas fisik dan penyakit tidak menular.
Rias Gesang Kinanti adalah akademisi Universitas Negeri Malang dengan keahlian di bidang ilmu kesehatan dan kebugaran masyarakat, khususnya hubungan aktivitas fisik dengan risiko penyakit kardiovaskular.

Sumber Penelitian
Ramadhan, Anas Destyanto & Kinanti, Rias Gesang. 2026. Survey Analysis of the Correlation Between Physical Activity and Hypertension Incidents at the Car Free Day Event on Ijen Street, Malang City. Formosa Journal of Sustainable Research, Vol. 5 No. 2. Hal.129-138.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i2.21
URLhttps://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar