Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Bandung - Walisongo Gunakan Seni dan Budaya Lokal untuk Sebarkan Islam Secara Damai di Jawa. Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Rahmat Fauzi, Rohanda, dan Abdul Kodir dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa Walisongo menggunakan seni, arsitektur, dan tradisi lokal sebagai media dakwah yang efektif dan mudah diterima masyarakat.
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Rahmat Fauzi, Rohanda, dan Abdul Kodir dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyoroti bahwa mengapa Islam dapat berkembang pesat di Jawa tanpa konflik besar.
Budaya Lokal Jadi Kunci Penyebaran Islam
Pada masa awal kedatangan Islam, masyarakat Jawa telah memiliki tradisi kuat yang dipengaruhi Hindu-Buddha. Kondisi ini menuntut pendekatan dakwah yang tidak konfrontatif. Walisongo membaca situasi tersebut dengan cermat dan memilih jalur kultural. Alih-alih menghapus tradisi lama, para wali justru mengadaptasi dan mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Strategi ini membuat Islam hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai ancaman terhadap identitas budaya mereka.
Metode Penelitian: Kajian Sejarah dan Literatur
Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Rahmat Fauzi, Rohanda, dan Abdul Kodir dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyoroti bahwa mengapa Islam dapat berkembang pesat di Jawa tanpa konflik besar.
Budaya Lokal Jadi Kunci Penyebaran Islam
Pada masa awal kedatangan Islam, masyarakat Jawa telah memiliki tradisi kuat yang dipengaruhi Hindu-Buddha. Kondisi ini menuntut pendekatan dakwah yang tidak konfrontatif. Walisongo membaca situasi tersebut dengan cermat dan memilih jalur kultural. Alih-alih menghapus tradisi lama, para wali justru mengadaptasi dan mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Strategi ini membuat Islam hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai ancaman terhadap identitas budaya mereka.
Metode Penelitian: Kajian Sejarah dan Literatur
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka dan analisis historis. Data dikumpulkan dari berbagai sumber akademik yang membahas Walisongo, dakwah kultural, dan proses islamisasi di Jawa.
Peneliti kemudian menganalisis tujuh unsur budaya utama yang digunakan sebagai media dakwah, yaitu:
- Wayang kulit.
- Gamelan.
- Tembang macapat.
- Masjid Menara Kudus.
- Masjid Agung Demak.
- Tradisi slametan atau nyandran.
- Perayaan sekaten.
Semua unsur tersebut dipelajari sebagai satu sistem dakwah yang saling terhubung.
Temuan Utama: Dakwah Melalui Seni, Arsitektur, dan Tradisi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Walisongo menjalankan dakwah secara terencana dan adaptif melalui berbagai medium budaya.
Temuan Utama: Dakwah Melalui Seni, Arsitektur, dan Tradisi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Walisongo menjalankan dakwah secara terencana dan adaptif melalui berbagai medium budaya.
- Seni pertunjukan sebagai media dakwah. Wayang kulit digunakan untuk menyampaikan nilai tauhid, moral, dan spiritualitas melalui cerita yang sudah dikenal masyarakat. Gamelan dan tembang macapat menghadirkan pesan Islam dalam bentuk musik dan sastra yang menyentuh emosi.
- Arsitektur masjid yang kontekstual. Masjid Menara Kudus dan Masjid Agung Demak menggabungkan unsur arsitektur lokal dengan fungsi ibadah Islam. Bentuk bangunan yang familiar membuat masyarakat lebih mudah menerima kehadiran Islam.
- Tradisi sosial yang diislamkan. Tradisi seperti slametan, nyandran, dan sekaten tidak dihapus, tetapi diisi dengan doa, zikir, dan nilai keislaman. Transformasi ini memperkuat solidaritas sosial sekaligus menanamkan ajaran Islam.
Secara keseluruhan, pendekatan ini memungkinkan islamisasi berlangsung secara damai tanpa konflik sosial.
Profil Penulis
Profil Penulis
Abdul Rahmat Fauzi merupakan akademisi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan fokus kajian dakwah kultural dan studi Islam Nusantara.
Rohanda adalah peneliti di bidang komunikasi dan budaya Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Abdul Kodir juga berasal dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan keahlian dalam studi keislaman dan transformasi sosial berbasis budaya.
Sumber Penelitian
Fauzi, Abdul Rahmat; Rohanda; Kodir, Abdul. 2026. Art and Cultural Acculturation in the Preaching of the Walisongo on the Island of Java. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 2, hlm. 551–570.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.5
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjasRohanda adalah peneliti di bidang komunikasi dan budaya Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Abdul Kodir juga berasal dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan keahlian dalam studi keislaman dan transformasi sosial berbasis budaya.
Sumber Penelitian
Fauzi, Abdul Rahmat; Rohanda; Kodir, Abdul. 2026. Art and Cultural Acculturation in the Preaching of the Walisongo on the Island of Java. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5 No. 2, hlm. 551–570.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i2.5

0 Komentar