Padang — Aktivitas setelah jam kerja dan strategi menghadapi stres terbukti meningkatkan kualitas hidup pegawai PT Bank Nagari Kantor Pusat. Penelitian yang dilakukan Serli Rahmatul Ihsan dan Rino dari Universitas Negeri Padang pada 2026 menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja menjadi faktor kunci yang menjembatani hubungan tersebut.
Temuan ini penting karena industri perbankan dikenal memiliki tekanan kerja tinggi akibat tuntutan target kinerja, regulasi ketat, serta persaingan layanan digital. Dalam situasi tersebut, kualitas hidup pegawai menjadi indikator penting bagi keberlanjutan kinerja organisasi.
Penelitian dilakukan terhadap 168 pegawai PT Bank Nagari Kantor Pusat menggunakan metode survei kuantitatif dengan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengalaman positif setelah jam kerja, strategi coping yang adaptif, serta keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup pegawai.
Secara langsung, pengalaman setelah kerja memiliki pengaruh positif terhadap kualitas hidup dengan koefisien 0,321. Strategi coping juga berpengaruh signifikan dengan koefisien 0,140, sementara work-life balance menjadi faktor paling kuat dengan koefisien 0,410.
Penelitian juga menemukan bahwa pengalaman setelah kerja dan strategi coping tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga memperkuat kualitas hidup secara tidak langsung melalui peningkatan work-life balance sebagai variabel mediasi utama.
Secara keseluruhan, model penelitian menunjukkan bahwa 44,3 persen variasi kualitas hidup pegawai dapat dijelaskan oleh kombinasi pengalaman setelah kerja, strategi coping, dan keseimbangan kehidupan kerja. Sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian seperti dukungan organisasi, kepuasan kerja, dan kondisi lingkungan kerja.
Serli Rahmatul Ihsan dari Universitas Negeri Padang menjelaskan bahwa aktivitas setelah kerja seperti relaksasi, interaksi sosial, atau kegiatan pengembangan diri membantu pegawai memulihkan energi fisik dan mental setelah menghadapi tekanan pekerjaan.
Selain itu, strategi coping yang efektif seperti perencanaan solusi, pengendalian emosi, dan dukungan sosial terbukti membantu pegawai mengelola stres kerja secara lebih adaptif. Kombinasi kedua faktor tersebut meningkatkan kemampuan pegawai menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa work-life balance berperan sebagai penghubung utama antara pengalaman setelah kerja dan kualitas hidup. Pegawai yang mampu membagi waktu dan energi secara seimbang cenderung memiliki kesehatan mental lebih baik, hubungan sosial lebih stabil, serta tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Temuan ini relevan bagi industri perbankan yang menghadapi tekanan operasional tinggi. Organisasi perlu menyediakan kebijakan fleksibilitas kerja, pelatihan manajemen stres, serta lingkungan kerja yang mendukung pemulihan psikologis pegawai setelah bekerja.
Selain meningkatkan kesejahteraan individu, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan produktivitas, loyalitas pegawai, dan kualitas layanan kepada nasabah secara berkelanjutan.
0 Komentar