Usia Perusahaan Jadi Penentu Kualitas Laporan Keberlanjutan di LQ45

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Cikarang - Perusahaan yang lebih lama berdiri terbukti lebih konsisten dan komprehensif dalam menyusun laporan keberlanjutan. Temuan ini diungkap dalam riset Adelyne, Andrianantenaina Hajanirina, Irfa Ampri, dan Mila Austria Reyes dari Program Studi Akuntansi, President University, Cikarang, yang dipublikasikan tahun 2026 dalam Asian Journal of Applied Business and Management. Studi ini menganalisis perusahaan-perusahaan indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019–2023 dan menunjukkan bahwa usia perusahaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Sustainability Reporting Score (SRS), sementara faktor tata kelola seperti karakteristik dewan dan ukuran dewan tidak terbukti berpengaruh signifikan. 

Penelitian ini penting karena laporan keberlanjutan kini menjadi indikator utama komitmen perusahaan terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Di Indonesia, kewajiban penyampaian laporan keberlanjutan telah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, kualitas dan kedalaman pengungkapan masih beragam antarperusahaan.

Latar Belakang: Tekanan Transparansi dan Standar Global

Secara global, standar pelaporan keberlanjutan semakin diperkuat, termasuk melalui kerangka Global Reporting Initiative (GRI). Perusahaan tidak lagi cukup hanya menyajikan laporan keuangan; investor dan publik kini menuntut transparansi atas dampak lingkungan, praktik ketenagakerjaan, hingga tata kelola perusahaan.

Indeks LQ45 dipilih sebagai objek penelitian karena berisi perusahaan dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, dan pengawasan investor yang relatif ketat. Secara teori, perusahaan-perusahaan ini seharusnya memiliki praktik pelaporan yang lebih baik.

Namun, apakah struktur dewan benar-benar menentukan kualitas laporan keberlanjutan? Atau justru faktor lain yang lebih dominan?

Metodologi: Analisis Panel 20 Perusahaan LQ45

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel dari 20 perusahaan LQ45 selama lima tahun (2019–2023), menghasilkan total 100 observasi. Data diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan yang dipublikasikan perusahaan.

Sustainability Reporting Score (SRS) diukur menggunakan 15 indikator terpilih dari standar GRI, mencakup tiga dimensi utama:

  • Ekonomi (misalnya nilai ekonomi yang dihasilkan dan risiko perubahan iklim)
  • Lingkungan (konsumsi energi, emisi gas rumah kaca, pengelolaan limbah)
  • Sosial (pelatihan karyawan, keberagaman, keterlibatan masyarakat)

Setiap indikator diberi skor 1 jika diungkapkan dan 0 jika tidak, lalu dihitung sebagai rasio jumlah pengungkapan terhadap total indikator.

Variabel independen yang diuji meliputi:

  • Karakteristik dewan (keberadaan perempuan dalam dewan, metode dummy)
  • Ukuran dewan (jumlah anggota direksi)
  • Usia perusahaan (tahun observasi dikurangi tahun berdiri)
  • Ukuran perusahaan (logaritma natural total aset)

Model regresi Fixed Effect dipilih melalui uji Chow dan Hausman, serta diperkuat dengan teknik bootstrap sebanyak 500 kali untuk meningkatkan robustitas hasil.

Hasil Utama: Usia Perusahaan Berpengaruh Signifikan

Hasil analisis menunjukkan:

  • Usia perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap SRS (p-value 0,000; signifikan pada level 1%)
  • Karakteristik dewan tidak signifikan
  • Ukuran dewan tidak signifikan
  • Ukuran perusahaan positif tetapi tidak signifikan

Nilai R-squared sebesar 54,16% menunjukkan bahwa lebih dari separuh variasi skor laporan keberlanjutan dapat dijelaskan oleh variabel dalam model.

Temuan ini menegaskan bahwa perusahaan yang lebih matang secara operasional cenderung memiliki sistem internal yang lebih stabil, pengalaman menghadapi regulasi, serta relasi jangka panjang dengan pemangku kepentingan. Faktor-faktor tersebut mendorong pengungkapan keberlanjutan yang lebih konsisten dan terstruktur.

Sebaliknya, keberadaan perempuan dalam dewan maupun jumlah anggota direksi tidak terbukti secara statistik meningkatkan kualitas pelaporan dalam sampel ini.

Implikasi: Kematangan Operasional Lebih Penting dari Struktur Formal

Hasil penelitian ini membawa pesan penting bagi manajemen dan regulator. Perbaikan kualitas laporan keberlanjutan tidak cukup hanya dengan memperbaiki struktur formal tata kelola, seperti menambah anggota dewan atau memperhatikan komposisi gender.

Yang lebih menentukan adalah kematangan operasional perusahaan, pengalaman panjang dalam menjalankan bisnis, serta kapasitas internal dalam mengelola dan mengintegrasikan praktik keberlanjutan.

Bagi investor, temuan ini memberikan sinyal bahwa usia dan stabilitas perusahaan dapat menjadi indikator tambahan dalam menilai komitmen keberlanjutan.

Bagi regulator, hasil ini menunjukkan perlunya mendorong penguatan sistem internal perusahaan, bukan hanya kepatuhan administratif terhadap regulasi.

Keterbatasan dan Rekomendasi

Penelitian ini menggunakan sampel terbatas pada 20 perusahaan LQ45 dan belum memasukkan variabel mediasi atau moderasi lain seperti profitabilitas atau tekanan pasar. Penelitian lanjutan disarankan untuk memperluas jumlah sampel serta menguji faktor-faktor tambahan yang mungkin memengaruhi kualitas pelaporan keberlanjutan.

Profil Penulis

Adelyne – Peneliti bidang akuntansi dan pelaporan keberlanjutan, Program Studi Akuntansi, President University.
Andrianantenaina Hajanirina – Dosen dan peneliti di bidang corporate governance dan sustainability reporting, Program Studi Akuntansi, President University, Cikarang.
Irfa Ampri – Akademisi bidang akuntansi keuangan dan pasar modal, President University.
Mila Austria Reyes – Dosen dan peneliti bidang manajemen dan tata kelola perusahaan, President University.

Sumber Penelitian

Adelyne, Hajanirina, A., Ampri, I., & Reyes, M. A. (2026). Sustainability Reporting Score Explained by Corporate Governance and Firm Level (LQ45 Companies). Asian Journal of Applied Business and Management, Vol. 5 No. 1, 399–416.

Posting Komentar

0 Komentar