Penelitian ini penting karena berlangsung pada masa transisi pasar modal Indonesia menuju praktik bisnis berkelanjutan pasca-pandemi. Selama 2019–2024, tekanan terhadap perusahaan untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin meningkat. Namun di saat yang sama, nilai perusahaan manufaktur di LQ45 menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Data Price to Book Value (PBV) yang ditampilkan dalam grafik penelitian pada halaman 3 memperlihatkan variasi signifikan antar emiten. Beberapa perusahaan mengalami penurunan valuasi, sementara yang lain relatif stabil atau berfluktuasi tajam. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah praktik ESG dan investasi hijau benar-benar diapresiasi oleh pasar?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS) versi 4.0. Dari 45 perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45, dipilih 13 perusahaan sektor makanan dan minuman yang secara konsisten menerbitkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan selama enam tahun observasi. Data yang digunakan berasal dari laporan perusahaan dan sumber resmi Bursa Efek Indonesia. Model penelitian diuji melalui analisis validitas, reliabilitas, serta pengujian pengaruh langsung dan tidak langsung antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESG Disclosure memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Artinya, semakin baik kualitas pengungkapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, semakin baik pula performa finansial perusahaan. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa transparansi ESG meningkatkan kepercayaan investor dan legitimasi perusahaan di mata pemangku kepentingan.
Namun, ESG Disclosure tidak terbukti berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan. Pasar belum menjadikan laporan keberlanjutan sebagai faktor utama dalam menentukan valuasi saham. Kondisi serupa juga terjadi pada Green Investment. Investasi hijau tidak menunjukkan pengaruh signifikan baik terhadap kinerja keuangan maupun terhadap nilai perusahaan dalam periode penelitian. Peneliti menilai bahwa manfaat investasi hijau cenderung bersifat jangka panjang, sementara pasar masih berorientasi pada hasil yang lebih cepat terlihat.
Sebaliknya, ukuran perusahaan menunjukkan pengaruh yang sangat kuat dan signifikan terhadap kinerja keuangan sekaligus nilai perusahaan. Perusahaan besar memiliki keunggulan berupa akses pendanaan yang lebih luas, skala ekonomi yang lebih efisien, serta reputasi yang lebih stabil di mata investor. Dalam model penelitian, Firm Size menjadi variabel dengan kekuatan pengaruh terbesar terhadap Firm Value. Hal ini menegaskan bahwa stabilitas dan kapasitas sumber daya perusahaan masih menjadi pertimbangan utama investor di pasar modal Indonesia.
Menariknya, kinerja keuangan sendiri tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dalam model ini. Artinya, investor LQ45 tidak hanya menilai perusahaan berdasarkan laba atau rasio profitabilitas, tetapi juga mempertimbangkan faktor reputasi, ukuran, dan prospek jangka panjang. Selain itu, Financial Performance juga tidak berhasil menjadi variabel mediasi antara ESG, Green Investment, dan Firm Size terhadap Firm Value. Dengan kata lain, tidak ada efek tidak langsung yang signifikan dalam hubungan tersebut.
Anita Agustiani dan tim peneliti menegaskan bahwa perusahaan seharusnya tidak menjadikan ESG sebagai formalitas administratif semata. Laporan keberlanjutan perlu didukung oleh praktik operasional nyata yang menghasilkan nilai tambah ekonomi. Transparansi, verifikasi independen atas laporan keberlanjutan, serta komunikasi yang jelas mengenai manfaat ekonomi investasi hijau menjadi kunci agar pasar dapat memahami dampak jangka panjang strategi keberlanjutan.
Secara lebih luas, penelitian ini memberikan pesan bahwa transformasi menuju investasi berkelanjutan di Indonesia masih dalam tahap perkembangan. Meskipun ESG meningkatkan kinerja keuangan, pasar belum sepenuhnya menerjemahkannya menjadi kenaikan valuasi. Investor masih cenderung mengutamakan ukuran dan stabilitas perusahaan sebagai indikator utama.
Anita Agustiani merupakan akademisi dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus kajian pada keuangan perusahaan dan keberlanjutan. Mulyanto Nugroho dikenal sebagai peneliti di bidang manajemen keuangan dan tata kelola perusahaan. Nekky Rahmiyati aktif meneliti isu ESG, investasi berkelanjutan, dan kinerja perusahaan.
Penelitian ini dipublikasikan dalam artikel berjudul “The Influence of ESG Disclosure, Green Investment, and Firm Size on Firm Value through Financial Performance as an Intervening Variable in LQ45 Manufacturing Companies (2019–2024)” pada Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Volume 5 Nomor 1 Tahun 2026, halaman 325–344, dengan DOI https://doi.org/10.55927/ajabm.v5i1.24
0 Komentar