Transformasi Kompetensi Guru Sekolah Dasar di Era Digital: Analisis Model Spencer dalam Pelatihan Coding dan AI di Kabupaten Pinrang

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS- Pinrang

Pelatihan Coding dan AI Dorong Transformasi Kompetensi Guru SD di Pinrang

Transformasi kompetensi guru sekolah dasar di era digital mulai menunjukkan wajah nyata di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sebuah riset terbaru yang ditulis Nurul Ayuni, Putri Dzakilla Handayani, dan Faisal Ardiansyah dari Universitas Negeri Makassar mengungkap bahwa pelatihan Coding dan Artificial Intelligence (AI) mampu membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri guru SD, meski masih menghadapi tantangan serius pada aspek keterampilan dan infrastruktur.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Contemporary Sciences ini menelaah program pelatihan Coding dan AI yang diselenggarakan pemerintah di Kabupaten Pinrang. Studi ini penting karena memperlihatkan kesiapan sumber daya manusia pendidikan dasar di daerah nonperkotaan dalam menghadapi agenda besar digitalisasi pendidikan nasional.

Mengapa Kompetensi Digital Guru Jadi Kunci?

Digitalisasi pendidikan bukan sekadar soal perangkat atau aplikasi. Tanpa guru yang siap secara mental, pengetahuan, dan keterampilan, teknologi justru berpotensi menjadi beban baru. Inilah latar belakang utama riset Ayuni dan timnya.

Pinrang dipilih karena merepresentasikan daerah berkembang dengan jumlah sekolah dasar yang besar—lebih dari 600 SD—namun memiliki keterbatasan infrastruktur dan variasi latar belakang pendidikan guru. Kondisi ini membuat kebijakan nasional tentang Coding dan AI berisiko tidak berjalan optimal jika tidak disertai penguatan kompetensi guru.

Membaca Pelatihan Guru Lewat Model Spencer

Penelitian ini menggunakan Model Kompetensi Spencer, sebuah kerangka yang melihat kompetensi individu melalui lima lapisan utama:

  • Motif
  • Karakter (traits)
  • Konsep diri (self-concept)
  • Pengetahuan (knowledge)
  • Keterampilan (skills)

Pendekatan ini membantu peneliti memahami bukan hanya apa yang bisa dilakukan guru, tetapi juga apa yang mereka pikirkan, yakini, dan rasakan terhadap teknologi digital.

Metodologi yang digunakan bersifat kualitatif. Tim peneliti mewawancarai dan mengamati guru-guru SD peserta pelatihan Coding dan AI, serta menelaah dokumen pelatihan. Analisis data dilakukan secara bertahap untuk menemukan pola dan makna di balik pengalaman para guru.

Temuan Utama: Antusias Tinggi, Tantangan Nyata

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang cukup kontras.

Pertama, motivasi guru tergolong tinggi.
Sebagian besar guru merasa pelatihan Coding dan AI membuka wawasan baru. Mereka ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan masa depan siswa. Banyak guru melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai “mitra pedagogis”.

Namun, ada masalah struktural. Dari sekitar 640 SD di Pinrang, hanya 72 sekolah yang bisa mengikuti pelatihan karena terbatas pada penerima dana BOS Kinerja. Artinya, motivasi individu guru sering kali terhambat oleh kebijakan dan keterbatasan anggaran.

Kedua, karakter dan konsep diri guru relatif positif.
Meski mayoritas guru merupakan “digital immigrant”, mereka menunjukkan sikap adaptif. Pelatihan yang disusun secara kontekstual dan sederhana membuat guru merasa mampu mengikuti materi. Ini berbeda dengan temuan sejumlah studi sebelumnya yang mencatat resistensi guru senior terhadap teknologi.

Ketiga, pengetahuan dan keterampilan menjadi titik lemah utama.
Banyak guru SD berlatar belakang pendidikan umum, bukan teknologi atau komputer. Akibatnya, logika pemrograman dan praktik coding masih terasa sulit. Waktu latihan yang terbatas serta kualitas jaringan internet di sekolah turut memperparah kondisi ini.

Infrastruktur Menentukan Keberhasilan

Salah satu pesan kuat dari penelitian ini adalah bahwa kompetensi tidak bisa berdiri sendiri. Investasi pada pelatihan guru akan kurang berdampak jika tidak didukung infrastruktur memadai.

Beberapa sekolah peserta pelatihan kesulitan menerapkan hasil belajar karena keterbatasan komputer, koneksi internet yang tidak stabil, atau ketiadaan pendampingan lanjutan. Kondisi ini mempertegas bahwa kesenjangan digital di Indonesia kini bukan lagi soal akses perangkat, melainkan kualitas konektivitas dan dukungan berkelanjutan.

Implikasi untuk Pendidikan dan Kebijakan Publik

Penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi dunia pendidikan:

  • Pelatihan sekali tidak cukup. Guru membutuhkan pendampingan berkelanjutan dan komunitas belajar agar kompetensi benar-benar berkembang.
  • Kebijakan harus inklusif. Pembatasan pelatihan hanya untuk sekolah tertentu berisiko memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan.
  • AI perlu dipahami secara pedagogis. Guru SD membutuhkan pendekatan AI yang kontekstual, sederhana, dan sesuai dengan karakter siswa usia dini.

Nurul Ayuni menegaskan bahwa penguatan kompetensi digital guru seharusnya menjadi investasi jangka panjang. “Pelatihan Coding dan AI bukan hanya soal teknologi, tetapi membentuk pola pikir logis, percaya diri, dan kesiapan menghadapi perubahan,” tulisnya dalam artikel tersebut.

Siapa Para Peneliti?

  1. Nurul Ayuni, S.Pd., M.A.P.: Dosen dan peneliti di Universitas Negeri Makassar, bidang manajemen publik dan pengembangan sumber daya manusia pendidikan.
  2. Putri Dzakilla Handayani, S.Pd., M.Pd.: Akademisi dengan fokus pada kebijakan pendidikan dan pengembangan kompetensi guru.
  3. Faisal Ardiansyah, S.Pd., M.Pd.: Peneliti pendidikan yang menaruh perhatian pada transformasi digital dan pembelajaran berbasis teknologi.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar