Transformasi Digital dan Inovasi Model Bisnis Terbukti Dongkrak Nilai Perusahaan Teknologi

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Makasar - Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia memunculkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang menentukan nilai perusahaan teknologi di pasar modal? Penelitian terbaru dari A. Achmad Danial Latief Buleng dari STIE-LPI Makassar, bersama Yohanes Zefnath Warkula dari PSDKU Universitas Pattimura, dan Busman dari STIE-PB Makassar, menunjukkan bahwa transformasi digital dan inovasi model bisnis menjadi faktor utama yang meningkatkan nilai perusahaan teknologi. Sebaliknya, pengeluaran besar untuk riset dan pengembangan justru dapat menekan nilai perusahaan dalam jangka pendek.

Studi ini diterbitkan pada tahun 2026 di jurnal Indonesian Journal of Entrepreneurship & Startups (IJES) dan menganalisis perusahaan teknologi yang tercatat di Indonesia Stock Exchange selama periode 2023–2025. Hasilnya memberikan gambaran baru tentang bagaimana perusahaan teknologi menciptakan nilai di tengah persaingan ekonomi digital yang semakin ketat.

Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh Pesat, Namun Nilai Perusahaan Tidak Selalu Stabil

Ekonomi digital Indonesia berkembang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan e-Conomy SEA mencatat nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar USD 90 miliar pada 2024, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara.

Pertumbuhan ini juga mendorong semakin banyak perusahaan teknologi melantai di bursa. Hingga 2025, terdapat 47 perusahaan teknologi yang tercatat di IDX. Namun di balik pertumbuhan tersebut, terdapat fenomena menarik: beberapa perusahaan teknologi besar justru mengalami penurunan nilai pasar setelah IPO.

Contohnya adalah GoTo yang mengalami penurunan harga saham lebih dari 80 persen setelah penawaran saham perdana. Hal serupa juga terjadi pada Bukalapak yang sempat mencatat IPO terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia, namun kemudian mengalami penurunan harga saham lebih dari 85 persen dari harga awal.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah skala bisnis saja cukup untuk menjaga nilai perusahaan teknologi? Para peneliti menilai ada faktor lain yang lebih strategis, seperti kemampuan digital perusahaan, investasi inovasi, serta pembaruan model bisnis.

Menganalisis 34 Perusahaan Teknologi di Bursa

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda. Data diambil dari laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan teknologi yang tercatat di IDX.

Dari total populasi 47 perusahaan teknologi, peneliti memilih 34 perusahaan yang memiliki laporan lengkap selama periode 2023–2025. Dengan tiga tahun pengamatan, penelitian ini menghasilkan 102 unit observasi.

Nilai perusahaan diukur menggunakan Tobin’s Q, indikator yang membandingkan nilai pasar perusahaan dengan nilai asetnya. Jika Tobin’s Q lebih dari 1, berarti pasar menilai perusahaan memiliki potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk dari aset tidak berwujud seperti teknologi dan inovasi.

Penelitian ini menguji tiga faktor utama:

  1. Transformasi digital
  2. Pengeluaran riset dan pengembangan (R&D)
  3. Inovasi model bisnis

Selain itu, ukuran perusahaan juga digunakan sebagai variabel kontrol.

Transformasi Digital Terbukti Meningkatkan Nilai Perusahaan

Hasil analisis menunjukkan bahwa transformasi digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan teknologi.

Perusahaan yang lebih aktif mengintegrasikan teknologi digital dalam operasi dan strategi bisnisnya cenderung memiliki nilai pasar yang lebih tinggi. Transformasi digital membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, memperluas jangkauan pasar, serta menciptakan inovasi layanan baru.

Menurut para peneliti, kemampuan digital merupakan sumber daya strategis yang sulit ditiru oleh pesaing. Hal ini membuat perusahaan yang berhasil melakukan transformasi digital lebih dipercaya oleh investor.

Inovasi Model Bisnis Juga Mendorong Pertumbuhan Nilai

Selain transformasi digital, inovasi model bisnis juga terbukti meningkatkan nilai perusahaan secara signifikan.

Inovasi model bisnis tidak hanya berarti menciptakan produk baru, tetapi juga mencakup perubahan cara perusahaan menghasilkan pendapatan, menjangkau pelanggan, dan membangun kemitraan.

Perusahaan teknologi yang mampu menyesuaikan model bisnisnya dengan dinamika pasar digital memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan keunggulan kompetitif.

Dalam penelitian ini, inovasi model bisnis diukur melalui Business Model Innovation Index, yang mencakup berbagai aspek seperti:

  • proposisi nilai kepada pelanggan
  • segmen pelanggan
  • model pendapatan
  • saluran digital
  • kemitraan bisnis
  • struktur biaya

Semakin banyak elemen inovasi yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunan, semakin tinggi skor inovasi model bisnisnya.

Pengeluaran R&D Justru Berpengaruh Negatif dalam Jangka Pendek

Temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa pengeluaran R&D memiliki pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Hasil ini tidak berarti riset dan pengembangan tidak penting. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa investasi R&D seringkali membutuhkan waktu lama sebelum menghasilkan keuntungan nyata.

Dalam jangka pendek, biaya R&D dapat meningkatkan beban perusahaan dan menurunkan profitabilitas, sehingga mempengaruhi persepsi investor di pasar modal.

Peneliti menilai hal ini mencerminkan karakteristik industri teknologi di pasar berkembang, di mana investor sering lebih fokus pada kinerja keuangan jangka pendek dibandingkan potensi inovasi jangka panjang.

Model Penelitian Mampu Menjelaskan 77,4% Variasi Nilai Perusahaan

Secara keseluruhan, ketiga variabel yang diteliti—transformasi digital, pengeluaran R&D, dan inovasi model bisnis—secara bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Model penelitian ini memiliki daya prediksi sebesar 77,4 persen, yang berarti sebagian besar variasi nilai perusahaan teknologi dapat dijelaskan oleh faktor-faktor tersebut.

Temuan ini juga mendukung teori Resource-Based View (RBV) yang menyatakan bahwa keunggulan kompetitif perusahaan berasal dari sumber daya internal yang unik dan sulit ditiru, seperti kemampuan digital dan inovasi strategis.

Implikasi bagi Investor dan Perusahaan Teknologi

Penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting bagi dunia bisnis dan pasar modal.

Bagi investor, hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator non-keuangan seperti transformasi digital dan inovasi model bisnis dapat menjadi sinyal penting dalam menilai potensi perusahaan teknologi.

Sementara bagi perusahaan, penelitian ini menegaskan bahwa nilai perusahaan tidak hanya ditentukan oleh ukuran bisnis atau pendapatan, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan ekonomi digital.

Perusahaan teknologi yang mampu mengintegrasikan teknologi digital dan terus memperbarui model bisnisnya memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan nilai jangka panjang.

Profil Singkat Penulis

A. Achmad Danial Latief Buleng, S.E., M.M.
Dosen di STIE-LPI Makassar dengan fokus penelitian pada manajemen keuangan, strategi bisnis digital, dan pasar modal.

Yohanes Zefnath Warkula, S.E., M.Si.
Akademisi dari PSDKU Universitas Pattimura yang meneliti bidang manajemen strategis dan ekonomi digital.

Busman, S.E., M.M.
Dosen di STIE-PB Makassar dengan keahlian pada manajemen bisnis dan inovasi perusahaan.

Sumber Penelitian

Buleng, A. Achmad Danial Latief; Warkula, Yohanes Zefnath; Busman. (2026).
“Digital Transformation, R&D Expenditure, and Business Model Innovation: Drivers of Firm Value in the Digital Economy Era.”
Indonesian Journal of Entrepreneurship & Startups (IJES), Vol. 4 No. 1, 2026, halaman 75–88.

Posting Komentar

0 Komentar