Lagos, Nigeria — Warga yang tinggal di sekitar tempat pembuangan akhir Soluos di Igando, Lagos, menghadapi ancaman serius terhadap kesehatan dan lingkungan. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research tahun 2026 menemukan bahwa kedekatan permukiman dengan dumpsite tersebut berkaitan dengan meningkatnya kasus malaria, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, serta penyakit yang ditularkan melalui air seperti tifoid dan kolera.
Studi ini ditulis oleh Gbemileke Apata, David Onyemenue, dan Adedeji Oyenuga dari kampus Ojo, Lagos. Penelitian menyoroti bagaimana urbanisasi cepat di Lagos menyebabkan permukiman penduduk semakin mendekati lokasi tempat pembuangan sampah yang tidak dirancang secara modern, sehingga meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Para peneliti menilai kondisi tersebut sebagai krisis lingkungan dan kesehatan masyarakat yang mendesak untuk ditangani oleh pemerintah daerah dan pemangku kebijakan.
Urbanisasi Cepat dan Tekanan Lingkungan
Lagos merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan tercepat di Afrika. Ekspansi kota yang pesat menyebabkan permukiman penduduk berkembang hingga ke batas area landfill seperti Soluos di wilayah Igando.
Akibatnya, warga harus hidup berdampingan dengan sumber polusi lingkungan yang signifikan. Tempat pembuangan sampah ini menghasilkan bau menyengat, kebakaran sampah yang sering terjadi, serta limbah cair beracun yang meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah di sekitar lokasi.
Menurut penelitian tersebut, cairan limbah yang dikenal sebagai leachate dapat membawa logam berat seperti timbal, kadmium, dan kromium ke dalam tanah dan sumber air warga. Kontaminasi ini berpotensi memasuki rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia dalam jangka panjang.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk memahami pengalaman langsung warga yang tinggal dekat dumpsite.
Tim peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap 20 warga yang tinggal dalam radius sekitar 500 meter dari Soluos dumpsite dan telah menetap di area tersebut minimal tujuh tahun. Para responden berusia di atas 18 tahun dan dipilih melalui teknik purposive sampling untuk memastikan mereka memiliki pengalaman langsung terkait kondisi lingkungan di sekitar tempat pembuangan sampah.
Data wawancara direkam, ditranskripsi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola utama terkait dampak lingkungan, kesehatan, dan kebijakan pengelolaan sampah.\
Temuan Utama Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar Soluos dumpsite.
1. Polusi udara dan bau menyengat
Warga melaporkan bau yang sangat kuat dari sampah yang membusuk, terutama saat hujan. Bau ini sering disertai asap dari kebakaran sampah yang melepaskan gas beracun ke udara.
2. Pencemaran air tanah
Air sumur dan bor di sekitar lokasi berubah warna dan diduga terkontaminasi limbah dari tempat pembuangan sampah.
3. Penyakit menular meningkat
Penelitian menemukan tingginya prevalensi beberapa penyakit di komunitas sekitar dumpsite, antara lain:
- Malaria
- Infeksi saluran pernapasan
- Ruam dan penyakit kulit
- Tifoid
- Kolera
Penyakit tersebut dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang buruk serta berkembangnya vektor penyakit seperti nyamuk dan lalat.
107-124
4. Risiko kesehatan meningkat seiring lama tinggal
Penelitian juga menemukan korelasi antara lama tinggal di dekat dumpsite dengan tingkat keparahan masalah kesehatan. Semakin lama seseorang tinggal di area tersebut, semakin tinggi risiko mengalami gangguan kesehatan.
5. Ancaman tambahan dari aktivitas logistik sampah
Selain polusi, aktivitas truk pengangkut sampah yang lalu lalang di jalan sempit sekitar dumpsite meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi warga.
Normalisasi Risiko Kesehatan
Salah satu temuan sosial yang menarik adalah munculnya fenomena normalisasi bahaya lingkungan. Banyak warga yang awalnya merasa terganggu oleh bau dan polusi akhirnya terbiasa dengan kondisi tersebut karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya pilihan tempat tinggal.
Dalam wawancara, beberapa warga menyatakan bahwa mereka tidak lagi memperhatikan bau atau asap karena harus tetap bekerja dan bertahan hidup di lingkungan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan sosial dan ekonomi yang membuat masyarakat terpaksa menerima kondisi lingkungan yang berbahaya.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Dumpsite Soluos juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Pedagang makanan di sekitar lokasi mengeluhkan banyaknya lalat yang membuat pembeli enggan membeli makanan. Sementara itu, sebagian warga menggantungkan hidup sebagai pemulung yang mengumpulkan logam dan plastik dari tumpukan sampah.
Aktivitas ini mencerminkan ekonomi informal yang berkembang di sekitar landfill, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan bagi para pekerja yang sering bekerja tanpa perlindungan seperti sarung tangan atau sepatu keselamatan.
Kesenjangan Tata Kelola Lingkungan
Penelitian ini juga mengungkap adanya kesenjangan tata kelola lingkungan di kawasan tersebut.
Warga menyatakan jarang menerima informasi kesehatan atau kunjungan dari petugas pemerintah terkait risiko lingkungan yang mereka hadapi. Kurangnya komunikasi dan intervensi kesehatan masyarakat memperburuk dampak lingkungan yang sudah ada.
Para peneliti menilai kondisi ini sebagai contoh ketidakadilan lingkungan, di mana komunitas berpenghasilan rendah menanggung beban pencemaran yang lebih besar dibandingkan wilayah kota lainnya.
Rekomendasi Penelitian
Untuk mengatasi krisis lingkungan dan kesehatan ini, para peneliti mengusulkan beberapa langkah kebijakan, antara lain:
- Mengembangkan sistem waste-to-energy untuk mengurangi volume sampah di landfill.
- Melakukan pengendalian bau dan fumigasi rutin untuk mengurangi vektor penyakit
- Meningkatkan pemantauan kualitas air tanah di sekitar lokasi.
- Menyediakan program edukasi kesehatan masyarakat bagi warga sekitar dumpsite.
- Melakukan penutupan bertahap atau dekomisioning Soluos dumpsite dalam jangka panjang.
Menurut para peneliti, langkah-langkah tersebut penting untuk melindungi kesehatan masyarakat di Igando sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Lagos.
Profil Penulis
- Gbemileke Apatal: Peneliti bidang lingkungan dan pembangunan perkotaan yang berafiliasi dengan kampus Ojo, Lagos.
- David Onyemenue: Akademisi yang meneliti isu pembangunan kota, kesehatan masyarakat, dan kebijakan lingkungan.
- Adedeji Oyenuga: Peneliti dan akademisi di Lagos yang berfokus pada tata kelola lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan manajemen limbah perkotaan.
Sumber Penelitian
- Apata, G., Onyemenue, D., & Oyenuga, A. (2026). “Environmental and Health Challenges of Living on Dumpsite: A Study of Soluos Dumpsite, Lagos State.”
- International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 2, 2026, hlm. 107–124.
- DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i2.181
- Website Jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr/index
0 Komentar